Berita Kegiatan Pojok Rektor
Home » Pos » Berita » 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, UIN Siber Cirebon Perkuat Kajian Jejak Ulama dan Tradisi Islam Cirebon

400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, UIN Siber Cirebon Perkuat Kajian Jejak Ulama dan Tradisi Islam Cirebon

UIN Siber Cirebon – Empat abad perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi momentum untuk membaca kembali warisan intelektual, jaringan keulamaan, dan perjuangan ulama Nusantara dalam menghadapi dinamika sosial-politik pada abad ke-17. Melalui National Seminar for Commemorating 400 Years Syekh Yusuf Al-Makassari, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mendorong penguatan kajian sejarah Islam sekaligus penelusuran jejak intelektual Syekh Yusuf dalam konteks Cirebon.

Seminar nasional tersebut berlangsung di Gedung SBSN Siber Lantai 8 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Senin (5/10/2026). Mengangkat tema “Emulating the Intellectual Trajectory of Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Tarekat, and Seventeenth-Century Colonial Politics in the Strengthening of Cirebon’s Islamic Traditions”, forum ini menghadirkan Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag. sebagai Opening Speech, dengan tiga Guest Speaker, yakni Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., Prof. Dr. K.H. Ahmad Baso, M.A., dan Prof. Didin Nurul Rosidin, M.A., Ph.D. Diskusi dimoderatori Dr. Tendi, M.Hum.

Cirebon dan Tradisi Kemajemukan Sejak Awal Peradaban

Dalam sambutannya, Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., mengajak peserta melihat sejarah Cirebon sebagai bagian penting dalam memahami perkembangan tradisi Islam dan perjumpaan berbagai budaya di Nusantara.

Ia menekankan bahwa sejak awal perkembangannya di bawah kepemimpinan Pangeran Cakrabuana, Cirebon dibangun di atas fondasi inklusivitas dan kemajemukan. Jejak tersebut, menurut Rektor, tercermin dari keberadaan permukiman Pecinan, kawasan masyarakat Arab di Panjunan, hingga sejarah produksi sutra oleh warga keturunan India di Lilarang.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Cirebon tidak berlangsung dalam ruang yang tertutup. Pertemuan berbagai kelompok masyarakat turut membentuk dinamika ekonomi, sosial, budaya, dan intelektual yang kemudian menjadi bagian dari identitas Cirebon.

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Perkuat Komitmen Kampus Hijau Melalui Aksi Penanaman Buah Produktif

Rektor juga mengangkat kiprah Syarifah Muda’im sebagai salah satu figur perempuan dalam sejarah ekonomi Cirebon serta tradisi pembuatan mukena yang dikaitkan dengan putri Syekh Nurjati. Menurutnya, berbagai jejak tersebut membuka ruang penelitian yang lebih luas mengenai peran perempuan, perdagangan, budaya, dan jaringan keilmuan dalam sejarah Cirebon.

Syekh Nurjati dan Gagasan Perdamaian

Dalam perspektif sejarah intelektual Islam Cirebon, Rektor juga mengaitkan warisan Syekh Nurjati dengan gagasan kedamaian dan keterbukaan. Mengacu pada manuskrip Babad Cirebon, ia menyinggung ajaran udkhulu fis-silmi kaffah sebagai pesan untuk memasuki dan membangun kehidupan dalam kedamaian.

Ia juga mengangkat nubuatan Syekh Ibrahim Asy-Syamarqandi, yasyrabuna rahmatallah, sebagai bagian dari jejak pemikiran yang dapat dikaji lebih lanjut dalam memahami perkembangan tradisi Islam di Cirebon.

Pada kesempatan tersebut, Rektor mendorong penguatan riset filologi untuk menelusuri berbagai sumber sejarah Cirebon secara lebih kritis. Salah satu gagasan yang disampaikan ialah penelitian terhadap hipotesis asal-usul kata “Cirebon” yang dikaitkan dengan akar bahasa Arab syaroba.

Gagasan tersebut menegaskan pentingnya manuskrip sebagai sumber primer yang dapat membuka perspektif baru mengenai sejarah, bahasa, dan perkembangan peradaban Cirebon.

Transformasi Digital dan Reputasi Global: UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Perkuat Pengelolaan Jurnal Ilmiah Menuju Rekognisi Internasional

Konstruksi Wali Songo dan Identitas Keilmuan UIN Siber

Rektor selanjutnya memaparkan konstruksi Wali Songo dalam tradisi Cirebon yang menempatkan Syekh Nurjati sebagai Guru dan Sunan Gunung Jati sebagai Pemimpin Para Wali.

Konstruksi tersebut juga dikaitkan dengan simbolisme sembilan bintang pada logo UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Bagi Rektor, simbol tersebut bukan sekadar elemen visual, tetapi memiliki keterkaitan dengan warisan sejarah dan tradisi keulamaan yang menjadi identitas institusi.

Dalam konteks transformasi digital dan siber, warisan tersebut perlu diterjemahkan menjadi tradisi akademik yang hidup. Karena itu, Rektor mengusulkan agar mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (SPI) memperoleh kesempatan belajar langsung di lingkungan keraton selama dua semester.

Program tersebut diarahkan untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam membaca, mengkaji, dan memahami manuskrip secara lebih komprehensif. Dengan demikian, transformasi pendidikan berbasis siber tidak membuat mahasiswa semakin jauh dari sumber sejarah, tetapi justru membuka akses yang lebih luas terhadap khazanah lokal.

Sebagai bagian dari penguatan jejaring riset kebudayaan, Rektor juga menyampaikan gagasan pemindahan fasilitas Cirebon Corner ke lantai 5 Gedung Siber. Ruang tersebut diharapkan dapat menjadi titik temu bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, dan mitra dalam mengembangkan kajian kebudayaan dan sejarah Cirebon.

PLP UIN Siber Cirebon Perkuat Pengalaman Mahasiswa melalui Pembiasaan Disiplin di Sekolah

Menelusuri Jejak Intelektual Syekh Yusuf

Narasumber seminar nasional membahas jaringan ulama dan tradisi Islam Cirebon

Memasuki sesi utama, Dr. Farid F. Saenong menekankan pentingnya memberikan perhatian lebih besar terhadap kontribusi Syekh Yusuf Al-Makassari. Peringatan 400 tahun menjadi momentum bagi Indonesia untuk kembali mengapresiasi sekaligus mengkaji warisan intelektual dan perjuangan ulama tersebut.

Syekh Yusuf tidak hanya dapat dibaca melalui konteks lokal Makassar atau Banten. Perjalanan intelektualnya menunjukkan keterhubungan dengan jaringan ulama dan tasawuf yang melampaui batas wilayah, termasuk jaringan Timur Tengah dan kawasan Samudera Hindia.

Dalam konteks tersebut, Cirebon menjadi salah satu ruang yang menarik untuk dikaji karena memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari jaringan intelektual dan perdagangan Islam. Penelusuran hubungan tersebut dapat memperkaya pemahaman mengenai bagaimana gagasan, manuskrip, dan jaringan ulama bergerak antarkawasan.

Manuskrip Cirebon Ungkap Jejak Syekh Yusuf

Sementara itu, Prof. Dr. K.H. Ahmad Baso, M.A. mengangkat keterkaitan Syekh Yusuf dengan Cirebon melalui penelusuran manuskrip dan jaringan ulama. Ia membahas hubungan Syekh Yusuf dengan sejumlah tokoh dan jaringan keilmuan yang menghubungkan Makassar, India, Banten, hingga Cirebon.

Ahmad Baso juga menunjukkan adanya jejak Syekh Yusuf dalam sejumlah naskah Cirebon. Salah satunya merupakan naskah yang memuat kisah para wali di Cirebon dan kemudian menyisipkan kisah Syekh Yusuf Al-Makassari.

“Beliau bukan Wali Allah, tapi diselipkan ke dalam cerita para wali di Cirebon,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Baso, penyebutan Syekh Yusuf dalam naskah tersebut menunjukkan bagaimana ketokohan Syekh Yusuf memperoleh tempat dalam ingatan sejarah dan tradisi masyarakat Cirebon.

Ia juga mengungkap catatan mengenai Syekh Yusuf dalam kisah perjuangan di wilayah Cirebon. Jejak tersebut membuka kemungkinan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara jaringan ulama, masyarakat, dan dinamika perlawanan terhadap kolonialisme.

Peserta mengikuti sesi diskusi seminar Syekh Yusuf Al-Makassari di UIN Siber Cirebon

Tasawuf sebagai Kekuatan Sosial dan Kritik Kekuasaan

Prof. Didin Nurul Rosidin, M.A., Ph.D. kemudian menyoroti hubungan antara Syekh Yusuf, tasawuf, jaringan ulama, dan perjuangan melawan kolonialisme.

Menurut Didin, tasawuf yang dikembangkan Syekh Yusuf tidak semata-mata berkaitan dengan kehidupan spiritual. Ajaran tersebut juga dapat menjadi kekuatan sosial dan ruang kritik terhadap kekuasaan.

“Gerakan untuk mendayagunakan kemampuan para ulama sufi, ajaran-ajaran kesufian menjadi sebuah gerakan sosial, gerakan kritik kekuasaan, gerakan anti-kolonial,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pemikiran dan jaringan Syekh Yusuf memperlihatkan hubungan erat antara tradisi tasawuf dengan perjuangan menghadapi tirani dan kolonialisme.

Dalam konteks Cirebon, keberadaan jejak ulama dan jaringan keilmuan tersebut menunjukkan bahwa Cirebon tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jaringan Islam yang lebih luas, termasuk keterhubungan dengan kawasan Samudera Hindia dan Timur Tengah.

Tanya Jawab Interaktif, Dorong Riset Lebih Lanjut

Sesi tanya jawab interaktif seminar nasional Syekh Yusuf Al-Makassari

Antusiasme peserta semakin terlihat pada sesi tanya jawab. Forum berlangsung interaktif dengan pertanyaan dan tanggapan yang mengarah pada upaya memperdalam hubungan antara Syekh Yusuf, manuskrip Cirebon, jaringan ulama, serta perkembangan tradisi Islam di Nusantara.

Sesi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk tidak hanya menerima informasi dari narasumber, tetapi juga menguji, memperluas, dan mendiskusikan berbagai perspektif yang muncul selama seminar.

Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa kajian sejarah tidak berhenti pada penelusuran tokoh dan peristiwa, tetapi membutuhkan pembacaan kritis terhadap sumber, manuskrip, jaringan sosial, serta konteks historis yang melingkupinya.

Dari Seminar Menuju Penguatan Riset Sejarah Cirebon

Seminar nasional 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Gedung SBSN Siber UIN Siber Cirebon

Seminar nasional peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari pada akhirnya membuka ruang lebih luas bagi pengembangan penelitian sejarah Islam di Cirebon. Manuskrip, arsip, tradisi lisan, dan hubungan antartokoh ulama menjadi sumber yang dapat terus ditelusuri untuk memperkaya khazanah akademik.

Gagasan Rektor mengenai penguatan pembelajaran mahasiswa SPI di keraton, pengembangan Cirebon Corner, hingga dorongan riset filologi menunjukkan arah yang sama: menjadikan kekayaan sejarah Cirebon bukan hanya sebagai warisan yang dikenang, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang terus diteliti dan dikembangkan.

Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan transformasi pendidikan berbasis siber dengan penguatan identitas dan khazanah lokal. Teknologi menjadi sarana untuk memperluas akses dan jejaring, sementara manuskrip dan warisan sejarah menjadi sumber pengetahuan yang perlu terus dihidupkan melalui riset.

Melalui forum akademik ini, UIN Siber Cirebon menegaskan komitmennya untuk memperkuat kajian sejarah, filologi, jaringan keulamaan, dan tradisi Islam Cirebon. Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan ekosistem akademik yang mampu menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan intelektual generasi masa kini.

Berita Populer

01

Pengumuman Pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) Calon Mahasiswa Baru Jalur SPAN-PTKIN Tahun 2026

02

UIN Siber Cirebon Jadi Tuan Rumah CBT Beasiswa S1 Kerajaan Maroko 2026, Perkuat Jejaring Internasional Pendidikan Islam

03

Pengumuman Pengajuan Usulan Keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Tahun Akademik 2025/2026

04

Pendaftaran Beasiswa BI 2026 UIN Siber Cirebon Semester I

05

Pengumuman Perpanjangan Pelaksanaan Herregistrasi Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026

Download PPID UINSSC Mobile App

Kalender

October 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives

Pos Terbaru