UIN Siber Cirebon (Jombang) — Tradisi manaqiban yang hidup di tengah masyarakat pesantren ternyata menyimpan kekayaan akademik yang menarik untuk dikaji. Hal ini dibuktikan dua mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Muhamad Said dan Ahmad Abdul Muhyi, yang berhasil menjadi pemakalah dalam International Conference on Hadith Studies (ICHS) 2026.(6/10/26).
Konferensi internasional tersebut berlangsung di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada 5–7 Oktober 2026. ICHS 2026 digelar bersamaan dengan Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) 2026.
Dalam forum akademik tersebut, kedua mahasiswa mempresentasikan penelitian berjudul “The Manaqiban Tradition as Living Hadith: A Talcott Parsons’ Structural Functionalism Analysis in Cirebon.”
Penelitian ini mengangkat tradisi pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Buntet Pesantren Cirebon sebagai objek kajian living hadis. Tradisi tersebut selama ini dikenal sebagai praktik keagamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Muslim Indonesia.
Manaqiban Bukan Sekadar Ritual
Muhamad Said dan Ahmad Abdul Muhyi melihat bahwa manaqiban tidak hanya berkaitan dengan ritual penghormatan kepada tokoh ulama. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi ruang sosial untuk menghidupkan nilai-nilai hadis melalui praktik keagamaan, pembentukan perilaku, dan penguatan hubungan antaranggota komunitas.
“Artikel ini berargumen bahwa manaqiban bukan sekadar ritual penghormatan, melainkan ruang sosial tempat nilai-nilai hadis dihidupkan melalui praktik keagamaan, pembentukan perilaku, dan pemeliharaan relasi komunitas,” jelas mereka dalam pemaparannya.
Penelitian yang menggunakan metode kualitatif melalui field research ini memadukan pendekatan living hadis dengan teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons melalui skema AGIL.
Empat Fungsi Manaqiban
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi manaqiban di Buntet Pesantren menjalankan empat fungsi sekaligus.
Pertama, Adaptation (Adaptasi). Tradisi mampu menyesuaikan waktu, tempat, dan media pelaksanaan. Bahkan saat pandemi Covid-19, kegiatan dapat dilakukan secara daring tanpa kehilangan tujuan spiritualnya.
Kedua, Goal Attainment (Pencapaian Tujuan). Setiap tahapan ritual diarahkan untuk membangun kesalehan individual sekaligus kesalehan kolektif.
Ketiga, Integration (Integrasi). Manaqiban mempertemukan kiai, santri, alumni, dan masyarakat dalam jaringan sosial-keagamaan yang kuat.
Keempat, Latency (Pemeliharaan Pola Nilai). Nilai seperti ikhlas, sabar, tawadu, mahabbah, dan ta’zim terus diwariskan lintas generasi melalui keteladanan kiai.
Meski nilai-nilai tersebut tidak selalu dikutip secara langsung dari teks hadis dalam ritual, substansinya dinilai selaras dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Penelitian ini memperluas kajian living hadis dengan menjadikan tradisi devosional pesantren sebagai ruang akademik. Kehadiran Muhamad Said dan Ahmad Abdul Muhyi di ICHS 2026 sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Ilmu Hadis UIN Siber Cirebon mampu membawa praktik keagamaan lokal Cirebon ke panggung akademik internasional.




