UIN Siber Cirebon (Malaysia) — Belajar menjadi guru tidak cukup hanya dengan duduk di ruang kelas. Dua mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon membuktikannya dengan terjun langsung mengajar Bahasa Arab di Malaysia.(6/10/26).
Muhammad Rafly Maulana, mahasiswa semester 5, dan Wijdan Adib Rozan, mahasiswa semester 7, mengikuti ITHLA Abroad: International Arabic Language Teaching Program Batch 8. Kegiatan pengajaran berlangsung pada 5–15 Oktober 2026 di Ma’had Tahfidz Al-Qur’an wal Imamah dan Ma’had Ummul Waraqah, Malaysia.
Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk menerapkan kemampuan Bahasa Arab dan pedagogik secara langsung dalam lingkungan pendidikan internasional.
Awali Pengajaran dengan Ta’aruf
Sebelum masuk ke kegiatan pembelajaran, kedua mahasiswa mengawali kegiatan dengan ta’aruf bersama para santri di Ma’had Tahfidz Al-Qur’an wal Imamah dan Ma’had Ummul Waraqah.
Suasana perkenalan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memperkenalkan diri sekaligus mengenal karakter para santri, lingkungan belajar, dan budaya pendidikan di kedua ma’had.
Ta’aruf menjadi langkah penting untuk membangun kedekatan sebelum proses pembelajaran dimulai. Dari perkenalan sederhana itu, tumbuh interaksi lintas budaya antara mahasiswa Indonesia dan santri di Malaysia.
Praktik Mengajar Bahasa Arab di Malaysia
Agenda utama program adalah pengajaran Bahasa Arab. Muhammad Rafly Maulana dan Wijdan Adib Rozan terlibat langsung dalam proses pembelajaran bersama para santri.
Pengalaman ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan mengajar yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. Mereka dituntut tidak hanya menguasai materi Bahasa Arab, tetapi juga mampu memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik.
Mengajar di lingkungan yang berbeda juga menghadirkan tantangan baru. Mahasiswa harus mampu beradaptasi, membangun komunikasi yang efektif, serta menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.
Bagi Rafly dan Wijdan, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran nyata bahwa menjadi pendidik membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi. Kemampuan komunikasi, kreativitas, adaptasi, kerja sama, dan pemahaman terhadap karakter peserta didik juga menjadi bagian penting dari kompetensi seorang guru.
Belajar dari Pendidikan Islam di Malaysia
Interaksi bersama santri di dua ma’had memberikan perspektif baru mengenai pembelajaran Bahasa Arab dalam lingkungan pendidikan Islam di Malaysia.
Mahasiswa dapat melihat secara langsung karakter peserta didik dan budaya belajar yang berbeda. Di sisi lain, para santri mendapat kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa Bahasa Arab dari Indonesia.
Ketua Jurusan PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Nanin Sumiarni, S.Pd.I., M.Ag., terus mendorong mahasiswa memanfaatkan program internasional sebagai ruang pengembangan kompetensi dan wawasan.
Menurutnya, pengalaman mengajar di luar negeri dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia profesional sekaligus memperluas perspektif tentang pembelajaran Bahasa Arab.
Dari Cirebon Berbagi Bahasa Arab
Kehadiran mahasiswa PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon di Malaysia menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Arab dapat melampaui batas ruang kelas. Melalui ITHLA Abroad 2026, mahasiswa tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga belajar dari lingkungan pendidikan dan budaya yang berbeda.
Pengalaman ini sekaligus memperkuat komitmen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam mendorong mahasiswa memiliki pengalaman internasional, kompetensi global, dan kemampuan beradaptasi di era pendidikan yang semakin terbuka.
Dari Cirebon ke Malaysia, Bahasa Arab menjadi jembatan. Mahasiswa belajar mengajar, santri belajar dari pengalaman baru, dan keduanya bertemu dalam semangat pendidikan yang melampaui batas negara.




