UIN Siber Cirebon – Bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat mengenali risiko sebelum berkembang menjadi persoalan yang mengganggu layanan dan reputasi lembaga? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam Workshop Digitalisasi Manajemen Risiko di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rabu (30/9/2026).
Bertempat di Gedung Siber Lantai 4 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, workshop ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola perguruan tinggi melalui pengelolaan risiko yang lebih sistematis dan berbasis digital. Sebanyak 63 peserta dari fakultas, pascasarjana, unit, dan pusat-pusat kerja mengikuti kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut.
Kegiatan dihadiri jajaran pimpinan, Satuan Pengawasan Internal (SPI), kepala bagian, kepala pusat, serta perwakilan unit kerja. Workshop diawali dengan laporan dari Dr. Umamatul Bahiyah, S.Ag., M.Pd., selaku Sekretaris Satuan Tugas Manajemen Risiko, kemudian dibuka secara resmi oleh Dr. H. Ayus Ahmad Yusuf, M.Si., Wakil Rektor I Bidang Akademik.
Dari Pengenalan Risiko Menuju Pengelolaan Berbasis Digital
Dalam laporannya, Dr. Umamatul Bahiyah menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tahapan ketiga dalam rangkaian program pembinaan manajemen risiko di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Tahapan sebelumnya telah mencakup pengenalan dasar manajemen risiko dan pengenalan aplikasi. Pada workshop kali ini, peserta diarahkan untuk memahami sekaligus mempraktikkan aspek teknis digitalisasi manajemen risiko.
Melalui kertas kerja atau worksheet digital yang dikembangkan oleh tim Pustikom, peserta diarahkan untuk mengidentifikasi risiko pada unit kerja masing-masing. Setelah risiko teridentifikasi, peserta kemudian menyusun skenario mitigasi dengan batas waktu yang jelas serta melakukan pemantauan terhadap progres penanganannya.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan risiko tidak berhenti pada pertanyaan mengenai “apa yang berpotensi menjadi masalah?”, tetapi dilanjutkan dengan “apa yang harus dilakukan dan kapan harus diselesaikan?”
Dr. Ayus: Jangan Menunggu Risiko Menjadi Krisis
Membuka kegiatan secara resmi, Dr. H. Ayus Ahmad Yusuf menekankan pentingnya membangun sistem yang memungkinkan lembaga mengenali potensi risiko sejak dini.
Ia mengibaratkan manajemen risiko dengan penerapan early warning system dalam dunia perbankan. Sistem tersebut dibutuhkan untuk memberikan tanda ketika terdapat potensi persoalan sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi krisis yang berdampak lebih luas.

Dalam konteks perguruan tinggi, manajemen risiko juga perlu dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Setiap unit memiliki aktivitas, target, dan layanan yang berpotensi menghadapi risiko sehingga diperlukan kemampuan untuk mengenali, menganalisis, serta menyiapkan langkah mitigasinya.
Menurut Dr. Ayus, terdapat tiga pilar penting yang perlu diperhatikan dalam penerapan manajemen risiko di perguruan tinggi.
Pertama, memastikan layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengelolaan risiko diperlukan untuk menjaga proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat agar tetap berjalan dan dapat diberikan tanpa hambatan operasional yang tidak terantisipasi.
Kedua, memastikan pencapaian target kinerja pimpinan. Manajemen risiko turut mendukung pencapaian Perjanjian Kinerja (Perkin), Indikator Kinerja Utama (IKU), serta Indikator Kinerja Tambahan (IKT) Rektor.
Ketiga, menjaga reputasi lembaga. Risiko yang tidak dikelola dapat memberikan dampak terhadap kepercayaan publik. Karena itu, penguatan manajemen risiko menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga nama baik UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam perjalanan menuju visi sebagai World Class Cyber University.
Memasuki Sesi Teknis Digitalisasi Manajemen Risiko
Setelah pembukaan, kegiatan workshop memasuki sesi utama yang dimoderatori oleh Agil Fatkhurrahman, S.Akun. Peserta mendapatkan pemaparan dan pendampingan teknis dari Riyanto, S.T., M.Kom. dan Slamet Pujijanto, S.Kom.

Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memahami penerapan manajemen risiko melalui sistem digital secara lebih praktis. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga diarahkan untuk menghubungkan proses identifikasi risiko dengan kondisi nyata di unit kerja masing-masing.
Penggunaan worksheet digital menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Peserta dapat mendokumentasikan risiko, menentukan langkah mitigasi, menetapkan batas waktu penanganan, serta memantau perkembangan tindak lanjut secara lebih terstruktur.
Pendekatan ini sekaligus memperkuat integrasi antara pengelolaan risiko dan pelaksanaan tugas sehari-hari. Risiko diharapkan dapat dikenali sebagai bagian dari proses kerja, bukan baru diperhatikan setelah menimbulkan persoalan.
Memperkuat Budaya Sadar Risiko di Setiap Unit
Workshop ini melibatkan perwakilan dari berbagai unsur di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, mulai dari fakultas, pascasarjana, unit kerja, hingga pusat-pusat kerja. Keterlibatan lintas unit tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman bersama bahwa pengelolaan risiko merupakan tanggung jawab yang perlu hadir dalam setiap proses kerja kelembagaan.

Setiap unit memiliki karakteristik kegiatan, target, serta potensi risiko yang berbeda. Karena itu, peserta diarahkan untuk mengenali risiko berdasarkan kondisi nyata di unit masing-masing, kemudian menyusun langkah mitigasi yang sesuai dan dapat ditindaklanjuti dalam batas waktu yang terukur.
Melalui proses tersebut, manajemen risiko tidak hanya dipahami sebagai prosedur administratif, tetapi mulai ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan pekerjaan sehari-hari. Risiko yang teridentifikasi dapat segera menjadi perhatian, sementara langkah mitigasinya dapat dipantau secara berkala.
Keterlibatan perwakilan dari berbagai unit juga diharapkan dapat memperluas penerapan budaya sadar risiko di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Dengan pemahaman yang sama dan dukungan sistem digital, setiap unit dapat berperan dalam menjaga keberlangsungan layanan, pencapaian target, serta kualitas tata kelola lembaga.
Digitalisasi untuk Tata Kelola yang Lebih Responsif

Digitalisasi manajemen risiko memberikan peluang bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk mengembangkan tata kelola yang lebih terdokumentasi dan mudah dipantau. Data mengenai risiko dan langkah mitigasinya dapat menjadi bagian dari informasi yang membantu unit kerja melakukan evaluasi serta menentukan tindak lanjut.
Langkah tersebut sejalan dengan karakter UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai perguruan tinggi yang terus mengembangkan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan kelembagaan.
Melalui proses yang dimulai dari deteksi, analisis, mitigasi, hingga pemantauan, manajemen risiko diharapkan tidak hanya menjadi mekanisme administratif, tetapi menjadi bagian dari cara lembaga menjaga keberlanjutan layanan, pencapaian kinerja, dan kepercayaan publik.
Workshop Digitalisasi Manajemen Risiko di Perguruan Tinggi pun menjadi salah satu langkah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkuat tata kelola yang adaptif, terukur, dan berbasis digital.
Kaitan dengan SDGs
Kegiatan ini mendukung SDG 4: Pendidikan Bermutu melalui penguatan tata kelola yang mendukung keberlangsungan layanan pendidikan tinggi. Penguatan manajemen risiko juga sejalan dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, khususnya dalam membangun kelembagaan yang efektif, akuntabel, dan responsif terhadap berbagai potensi risiko.


