UIN Siber Cirebon — Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Laboratorium Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon resmi merilis data hisab awal Ramadhan berdasarkan titik perhitungan di Pusat Laboratorium Ilmu Falak, Jl. Saladara Majasem, Kota Cirebon. Rilis ini menjadi bagian dari kontribusi akademik kampus dalam memberikan edukasi astronomi Islam kepada masyarakat luas.
Penentuan Awal Ramadhan: Rukyat dan Hisab
Penentuan awal Ramadhan dalam tradisi Islam dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni rukyat (observasi hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomis). Keduanya memiliki dasar syar’i sekaligus pijakan ilmiah yang kuat.
Rukyat menekankan pada pengamatan visibilitas hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan. Sementara hisab menggunakan pendekatan matematis untuk menghitung posisi bulan dan matahari secara presisi. Dalam konteks Indonesia, kedua metode tersebut menjadi bagian dari mekanisme penetapan awal bulan Hijriah melalui sidang isbat pemerintah.
Kepala Laboratorium Ilmu Falak Fakultas Syariah, Zainul Alim, menegaskan bahwa perbedaan metode bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan tradisi intelektual Islam.
“Hisab dan rukyat sejatinya saling melengkapi. Hisab memberikan gambaran ilmiah yang terukur, sementara rukyat menjadi verifikasi empirik di lapangan. Keduanya mengajarkan ketelitian, kehati-hatian, dan pentingnya persatuan umat dalam menyambut Ramadhan,” ujarnya.(12/2/26).
Ia menambahkan, momentum Ramadhan juga menjadi refleksi integrasi antara ilmu syariah dan sains astronomi yang telah lama menjadi bagian dari peradaban Islam.
Data Hisab: Hilal Belum Memenuhi Kriteria
Perhitungan dilakukan menggunakan metode ephemeris dengan algoritma Jean Meeus, berdasarkan koordinat 108° 32’ 30” BT dan -06° 44’ 36” LS dengan elevasi sekitar 10 meter di atas permukaan laut.
Tim laboratorium menyusun data dengan mempertimbangkan parameter astronomis penting, seperti waktu ijtimak, tinggi hilal, elongasi, azimut, serta selisih waktu terbenam bulan dan matahari.
Anggota tim Laboratorium Ilmu Falak, Rifqi Muslim, menjelaskan bahwa ijtimak akhir bulan Sya’ban 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026.
“Pada saat matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026 di Cirebon, posisi hilal masih berada di bawah ufuk dengan tinggi sekitar minus 0 derajat 53 menit dan elongasi sekitar 1 derajat. Secara kriteria imkan rukyat, kondisi ini belum memenuhi syarat visibilitas hilal,” jelasnya.
Data astronomis pada 17 Februari 2026 menunjukkan:
- Tinggi hilal saat maghrib: sekitar -0° 53’
- Elongasi geosentris: sekitar 1°
- Hilal belum memenuhi standar visibilitas menurut kriteria imkan rukyat di Indonesia
Karena pada saat maghrib hilal belum memenuhi kriteria terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H
Berdasarkan hasil hisab tersebut, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 M, mengacu pada pendekatan hisab imkan rukyat dan wujudul hilal.
Hasil ini menjadi gambaran ilmiah awal yang dapat digunakan sebagai referensi akademik dan bahan pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Falak maupun masyarakat yang memiliki minat terhadap kajian astronomi Islam.
Tetap Laksanakan Rukyat Hilal
Sebagai bentuk komitmen terhadap integrasi hisab dan rukyat, Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tetap akan melaksanakan pengamatan hilal pada Selasa, 17 Februari 2026, di Pusat Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Kegiatan ini juga terbuka sebagai sarana edukasi praktik rukyat serta penguatan tradisi observasi astronomi di lingkungan kampus.
Menunggu Penetapan Resmi Pemerintah
Meski hasil hisab telah dirilis secara akademik, Laboratorium Ilmu Falak menegaskan bahwa penetapan resmi awal Ramadhan tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Sebagai lembaga akademik, kami menyampaikan hasil perhitungan sebagai bagian dari tanggung jawab keilmuan. Namun dalam praktik ibadah secara kolektif, kami tetap menganjurkan masyarakat untuk mengikuti hasil sidang isbat pemerintah demi menjaga persatuan dan ketertiban bersama,” tegas Zainul Alim.
Melalui rilis ini, Laboratorium Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap dapat terus memperkuat eksistensinya sebagai pusat kajian dan praktik astronomi Islam, sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan literasi falakiyah di tengah masyarakat menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.




