UIN Siber Cirebon (Rabat, Maroko) – Bagaimana memahami Islam di berbagai negara tanpa terjebak pada anggapan bahwa satu tradisi lebih asli daripada tradisi lainnya? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pelajaran penting dalam program Short Course Luar Negeri bertajuk “Comparing Islam Across Cultures: Knowledge, Practice, and Public Life in a Changing World” di Rabat, Maroko. (14/10/26).
Faqihuddin Abdul Kodir, akademisi dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, menjadi bagian dari 12 peserta terpilih yang mengikuti program internasional tersebut pada 11–23 Oktober 2026. Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi Kementerian Agama Republik Indonesia, The Netherlands Institute in Morocco (NIMAR), dan Universitas Leiden melalui Leiden Indonesia/KITLV-Jakarta.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan metodologi penelitian, memperluas jejaring akademik internasional, serta membuka peluang kolaborasi riset antara Indonesia, Maroko, dan Belanda.
Dari Maroko untuk UIN Siber Cirebon: Memperkuat Riset dan Jejaring Global
Keikutsertaan Faqihuddin Abdul Kodir dalam program internasional di Maroko membuka peluang strategis bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk memperkuat ekosistem penelitian dan memperluas kerja sama akademik lintas negara.
Melalui pembelajaran metodologi riset komparatif, pengalaman ini dapat menjadi bekal untuk mengembangkan penelitian tentang Islam, masyarakat, gender, hukum, dan kehidupan keagamaan dengan perspektif yang lebih luas. Perbandingan pengalaman Indonesia dan Maroko juga berpotensi melahirkan kajian yang relevan dengan karakter masyarakat Muslim serta dinamika sosial di berbagai negara.
Dampak berikutnya adalah terbukanya peluang kolaborasi dengan akademisi dan lembaga riset internasional, khususnya dari Universitas Leiden dan perguruan tinggi di Maroko. Penjajakan mitra dan penyusunan proposal bersama dalam program ini dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan penelitian kolaboratif, pertukaran pengetahuan, serta peluang pendanaan riset internasional.
Bagi UIN Siber Cirebon, peluang tersebut penting untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah, memperluas jaringan akademik dosen, dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan studi Islam di tingkat global. Hasil pembelajaran juga berpotensi dibagikan kepada sivitas akademika melalui diskusi ilmiah, pengembangan proposal penelitian, dan kolaborasi lintas program studi.
Lebih jauh, keterlibatan dalam forum internasional seperti ini mendukung upaya UIN Siber Cirebon membangun reputasi sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang terbuka terhadap kolaborasi global dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis riset.
Namun, manfaat tersebut tidak berhenti pada pengalaman individu. Nilai strategisnya terletak pada bagaimana pengetahuan, jejaring, dan peluang kerja sama yang diperoleh dapat ditindaklanjuti menjadi program penelitian, publikasi bersama, serta kegiatan akademik yang memberikan manfaat nyata bagi institusi dan masyarakat.
Dari Rabat, UIN Siber Cirebon memiliki peluang untuk memperkuat perannya dalam percakapan akademik internasional. Sebab, kampus berkelas global tidak hanya diukur dari keikutsertaan dalam forum internasional, tetapi juga dari kemampuan mengubah pengalaman global menjadi riset berkualitas, kolaborasi berkelanjutan, dan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Membandingkan Pertanyaan, Bukan Hakikat
Salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam kuliah pembuka oleh Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, adalah prinsip “Compare Questions, Not Essence” atau membandingkan pertanyaan, bukan hakikat.
Prinsip ini mengajak peneliti memahami Islam melalui pertanyaan penelitian yang relevan, bukan melalui klaim tentang identitas Islam yang paling asli atau paling benar dalam konteks kebudayaan tertentu.
Misalnya, peneliti dapat membandingkan bagaimana otoritas keagamaan dibangun, bagaimana perempuan memperoleh ruang dalam penafsiran agama, serta bagaimana negara dan masyarakat mengelola hubungan antara tradisi dan pembaruan.
Menurut Arskal, Indonesia dan Maroko memiliki sejumlah kesamaan dalam tradisi keislaman, termasuk teologi Asy’ari, tasawuf, dan tradisi fikih. Namun, keduanya memiliki karakteristik berbeda dalam membangun otoritas keagamaan.
Di Indonesia, peran organisasi masyarakat, pesantren, dan komunitas akar rumput sangat menonjol. Sementara itu, di Maroko, negara memiliki peran kuat dalam pembentukan otoritas keagamaan.
Perbedaan tersebut menjadi peluang untuk menghasilkan penelitian yang lebih kritis, mendalam, dan bermanfaat bagi pengembangan studi Islam kontemporer.
Tiga Bekal Penting Peneliti
Dalam program ini, peserta mempelajari tiga prinsip utama penelitian komparatif.
Pertama, membandingkan pertanyaan penelitian, sehingga kajian lintas negara menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam.
Kedua, menggabungkan berbagai metode penelitian. Peneliti tidak hanya mengandalkan teks, tetapi juga wawancara, observasi lapangan, survei, dan arsip digital untuk memahami fenomena keagamaan secara menyeluruh.
Ketiga, menjunjung tanggung jawab penelitian, termasuk etika, pengelolaan data, serta dampak penelitian terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari kajian.
Materi disampaikan oleh akademisi Indonesia, Maroko, dan Belanda. Peserta juga mendapatkan kesempatan mempelajari penulisan etnografi, penelitian media sosial, publikasi akademik, hingga pengabdian masyarakat berbasis riset.
Membuka Peluang Kolaborasi Internasional
Direktur NIMAR, Prof. Léon Buskens, menegaskan pentingnya lembaga tersebut sebagai penghubung kerja sama pendidikan dan penelitian antara perguruan tinggi Maroko, Belanda, Indonesia, dan negara lainnya.
Selain pembelajaran di kelas, peserta dijadwalkan mengikuti kunjungan lapangan ke Tangier dan Fes, simposium di Universitas Mohammed V Rabat, serta penjajakan kolaborasi dan penyusunan proposal penelitian bersama.
Rangkaian kegiatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan kerja sama konkret, termasuk peluang pendanaan riset kolaboratif melalui skema AIR Fund 2027.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, keterlibatan akademisi dalam forum internasional ini menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif keilmuan, memperkuat jejaring global, dan mengembangkan penelitian yang relevan dengan dinamika masyarakat Muslim.
Lebih dari sekadar pelatihan, program ini menegaskan bahwa studi Islam membutuhkan keterbukaan, ketelitian metodologis, dan dialog lintas budaya.
Dari Rabat, pesan penting itu mengemuka: memahami Islam secara lebih mendalam bukan dengan mencari siapa yang paling berbeda atau paling benar, melainkan dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, mendengarkan pengalaman yang beragam, dan membangun pengetahuan bersama.




