UIN Siber Cirebon — Dr. Anisatun Muthi’ah, M.Ag., Ketua Divisi Kajian Perempuan, Anak, dan Keluarga Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) yang juga merupakan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, tampil sebagai narasumber utama dalam webinar nasional bertajuk “Hadis, Perempuan, dan Lingkungan: Menimbang Tafsir Keagamaan dalam Isu Keadilan Gender dan Krisis Ekologis”, Selasa (30/12/2025). Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom hasil kolaborasi ASILHA dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
Webinar nasional tersebut menjadi ruang diskusi penting untuk menghadirkan pembacaan keagamaan yang lebih adil, inklusif, dan kontekstual dalam merespons persoalan krisis ekologis dan ketimpangan gender yang kian mengemuka. Isu lingkungan tidak lagi dipahami semata sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai problem etika, teologi, dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi.
Dalam paparannya, Dr. Anisatun Muthi’ah menegaskan bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari amanah kekhalifahan manusia dan selaras dengan maqāṣid al-syarī‘ah. Ia menjelaskan bahwa hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ sarat dengan nilai-nilai ekologis, seperti larangan merusak alam, anjuran menanam pohon, serta pengendalian sikap konsumtif yang berlebihan.
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan wujud ketakwaan. Tafsir keagamaan harus mampu menghadirkan nilai-nilai cinta, keadilan, dan keberlanjutan bagi manusia dan alam semesta,” ujar Dr. Anisatun.
Ketua Umum ASILHA, Prof. Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy, S.Th.I., M.A., dalam keynote speech menegaskan bahwa hadis Nabi Muhammad ﷺ mengandung pesan-pesan ekologis yang sangat relevan dengan tantangan lingkungan kontemporer. Ia mendorong lahirnya tafsir keagamaan yang tidak hanya normatif, tetapi juga transformatif dalam mendorong keberlanjutan dan keadilan sosial.
Sementara itu, Uli Arta Siagian, Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional WALHI, menyoroti bahwa krisis lingkungan berdampak tidak netral gender. Menurutnya, perempuan kerap menjadi kelompok paling terdampak akibat kerusakan lingkungan, namun pada saat yang sama memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan kehidupan. Ia menegaskan bahwa ketidakadilan ekologis sering berjalan beriringan dengan ketidakadilan gender.
Dari perspektif hadis dan teologi, Prof. Dr. Abd. Wahid Arsyad, M.Ag., Guru Besar Hadis Ahkam UIN Ar-Raniry Aceh, mengingatkan pentingnya meluruskan pemahaman keagamaan terkait bencana alam. Ia menegaskan bahwa bencana tidak bisa disederhanakan sebagai azab semata, melainkan perlu dipahami sebagai ujian sekaligus konsekuensi dari kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan alam.
Webinar yang dimoderatori oleh Miftachur Rif’ah Mahmud, M.Ag. (UIN Salatiga) ini berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari peserta lintas daerah dan latar belakang akademik. Diskusi yang berkembang menunjukkan tingginya minat dan kepedulian masyarakat akademik terhadap isu keadilan gender, lingkungan, dan tafsir keagamaan yang berkeadaban.
Melalui kegiatan ini, kehadiran Dr. Anisatun Muthi’ah sebagai dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sekaligus penggerak kajian perempuan dan keluarga menegaskan kontribusi perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mendorong wacana keislaman yang humanis, adil gender, dan berwawasan ekologis demi keberlanjutan kehidupan di masa depan.





