UIN Siber Cirebon – Program Studi Ilmu Falak, Fakultas Syariah, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan Falak Nouts 2026 bertema “Honoring Legacy Expanding Horizons” pada Senin (12/10/2026) di Lantai 8 Gedung Siber UIN Siber Cirebon. Kegiatan tahunan ini menghadirkan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, sebagai narasumber utama.
Falak Nouts menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperdalam ilmu falak sekaligus memahami perkembangan astronomi modern. Kegiatan ini juga menjadi momentum penguatan pembelajaran berbasis observasi melalui dukungan peralatan laboratorium dari BRIN, termasuk teleskop dan perangkat observasi yang menunjang praktik pengamatan benda langit.
Menghargai Warisan Keilmuan, Memperluas Cakrawala
Ketua Program Studi Ilmu Falak, Dr. Leliya, S.H., M.H., menyampaikan bahwa tema Falak Nouts 2026 merepresentasikan pentingnya menjaga warisan keilmuan Islam sekaligus membuka ruang bagi inovasi dan perkembangan teknologi. Ilmu falak memiliki peran strategis dalam mendukung pelaksanaan ibadah, mulai dari penentuan arah kiblat dan waktu salat hingga penentuan awal bulan Hijriah.

“Ilmu falak memiliki warisan keilmuan yang penting, khususnya dalam mendukung pelaksanaan ibadah. Namun, generasi muda juga perlu terus memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan teknologi agar ilmu falak semakin berkembang dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.
Memasuki penyelenggaraan tahun kelima sejak pertama kali dilaksanakan pada 2021, Falak Nouts terus menjadi agenda tahunan untuk memperkuat wawasan, kreativitas, dan jejaring akademik mahasiswa. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan milad ke-4 Jurusan Ilmu Falak.
Sinergi Syariah dan Sains dalam Pengembangan Ilmu Falak
Wakil Dekan II Fakultas Syariah, Dr. Izudin, M.A., menekankan bahwa ilmu falak memiliki keterkaitan erat antara kajian syariah dan perkembangan sains. Pemahaman terhadap dalil dan ketentuan hukum Islam perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami fenomena astronomi serta melakukan pengamatan secara tepat.

“Kita berharap Ilmu Falak semakin maju dan berkembang. Mahasiswa perlu memahami landasan syariahnya sekaligus memperkuat kemampuan sains dan observasi agar dapat menjawab tantangan keilmuan di masa depan,” ungkapnya.
Pembukaan kegiatan secara resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Dekan II Fakultas Syariah. Momentum tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan kapasitas akademik mahasiswa dan pengembangan keilmuan falak.
Prof. Thomas Djamaluddin Bahas Masa Depan Ilmu Falak
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Masa Depan Ilmu Falak dalam Perkembangan Astronomi Modern”, Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan pentingnya memahami ilmu falak melalui kajian fenomena astronomi, perhitungan matematis, dan pemanfaatan teknologi informasi. Menurutnya, ilmu falak tidak cukup dipelajari hanya dengan menghafal rumus atau kriteria, tetapi perlu disertai pemahaman mengenai dasar ilmiah di balik perhitungan dan pengamatan.

“Ilmu falak perlu didalami melalui pemahaman terhadap fenomena astronomi, bukan hanya dengan menghafal rumus dan kriteria. Pendekatan sains membantu kita memahami dasar perhitungan dan pengamatan yang digunakan dalam penentuan waktu ibadah,” jelasnya.

Materi tersebut memperlihatkan bagaimana astronomi modern dapat memperkuat kajian ilmu falak, terutama dalam memahami pergerakan Matahari dan Bulan, menentukan arah kiblat, menghitung waktu salat, serta mengkaji visibilitas hilal. Integrasi antara pemahaman fikih dan pendekatan astronomi menjadi penting agar praktik keagamaan memiliki landasan keilmuan yang kuat.
Diskusi yang dimoderatori Rizal Ramadhan, M.H., turut memberikan ruang bagi peserta untuk memperluas perspektif mengenai tantangan dan peluang pengembangan ilmu falak di tengah kemajuan teknologi.
Peralatan Observasi Perkuat Praktik Pembelajaran
Dukungan peralatan laboratorium dari BRIN menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan pembelajaran ilmu falak di UIN Siber Cirebon. Ketersediaan teleskop dan perangkat observasi diharapkan dapat mendukung kegiatan praktik, khususnya pengamatan benda langit dan rukyatul hilal.

Fasilitas tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kelas dengan pengalaman observasi secara langsung. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep dan perhitungan, tetapi juga pada keterampilan teknis serta analisis hasil pengamatan.
Ke depan, Program Studi Ilmu Falak juga mempersiapkan proses reakreditasi melalui BAN-PT yang direncanakan berlangsung pada November 2026. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan mutu program studi dan memperkuat pencapaian akreditasi unggul.

Melalui Falak Nouts 2026, UIN Siber Cirebon menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus memperluas cakrawala melalui perkembangan astronomi modern. Sinergi antara syariah, sains, teknologi, dan praktik observasi diharapkan mampu melahirkan generasi yang kompeten serta adaptif dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan.


