UIN Siber Cirebon — Jurusan Pariwisata Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon bekerjasama dengan Politeknik Pariwisata Prima Internasional menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop Pemberdayaan Wisata Desa Kubangdeleg, Sabtu (31/1/2026), bertempat di Taman Wisata Pawana, Desa Kubangdeleg, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon.
Kegiatan ini diadakan sebagai upaya bersama untuk memberdayakan potensi wisata desa melalui kolaborasi lintas akademisi, praktisi, pemerintah, organisasi masyarakat, dan mahasiswa. Forum ini diharapkan dapat menghasilkan langkah konkrit pengembangan pariwisata berbasis nilai lokal, syariah, dan berkelanjutan.
Peserta FGD dan workshop terdiri atas perwakilan masyarakat Desa Kubangdeleg, Pokdarwis Kubangdeleg, PRNU Kubangdeleg, Lazismu MWC NU, Al-Insaaniyyah NU Kecamatan Karangwareng, PAC GP Ansor Karangwareng, Pokdarwis Kabupaten Cirebon, mahasiswa Program Studi MICE Politeknik Pariwisata Prima Internasional, Himpunan Mahasiswa Sosial UIN SSC, serta perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.
Narasumber Paparkan Materi Potensi dan Manajemen Wisata
Acara dibuka dengan pemaparan materi dari dua narasumber, yaitu Agung Setiawan, S.E., M.MPar dari Politeknik Pariwisata Prima Internasional dan Arief Pradhana, S.Par., M.Sc. dari Jurusan Pariwisata Syariah UIN SSC.
Agung Setiawan menyampaikan materi tentang analisis potensi wisata desa sebagai dasar penting dalam merancang strategi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan sesuai kebutuhan lokal.
“Pemberdayaan pariwisata desa tidak hanya soal atraksi wisata, tetapi bagaimana kita membaca potensi yang ada untuk dikelola secara profesional agar berdampak pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Agung.
Sementara itu, Arief Pradhana memaparkan materi manajemen wisata syariah, yang menekankan pada pengelolaan destinasi wisata yang selaras dengan nilai-nilai keislaman, etika, dan kearifan lokal.
“Manajemen wisata syariah menjadi model yang tepat untuk Desa Kubangdeleg karena tidak hanya mengedepankan atraksi, tetapi juga keberpihakan pada etika, spiritualitas, dan budaya lokal,” jelas Arief.
Sesi pemaparan materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta.
Observasi Lapangan dan Strategi Pengembangan
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan observasi lapangan mengelilingi Desa Kubangdeleg untuk melihat potensi wisata secara langsung. Observasi ini menjadi basis dalam diskusi lanjutan yang dilakukan dalam FGD.
Dalam FGD, peserta bersama narasumber dan tokoh masyarakat melakukan perumusan langkah strategis jangka pendek, menengah, dan panjang untuk pengembangan wisata Desa Kubangdeleg. Berbagai masukan, ide, dan usulan dari berbagai elemen masyarakat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun rencana aksi.
Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Keberhasilan
Koordinator acara sekaligus Ketua P2PKM Politeknik Pariwisata Prima Internasional, Widia Ningsi, S.Par., M.M, menegaskan bahwa kolaborasi antarinstansi dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam pemberdayaan pariwisata desa.
“Kolaborasi ini penting untuk memastikan pengembangan wisata desa tidak berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat, dan warga desa menjadi fondasi untuk mencapai kebaikan bersama,” ujar Widia.
Senada dengan itu, perwakilan dosen Jurusan Pariwisata Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Bagaskoro Rasyid Wicaksono, M.Sc., menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan sektor pariwisata.
“Harapan kami ke depan agar kolaborasi ini terus diperluas sehingga Desa Kubangdeleg dan wilayah Kabupaten Cirebon dapat semakin berkembang sebagai destinasi wisata yang unggul, berdaya saing, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Bagaskoro.
Melalui kegiatan FGD dan workshop ini, diharapkan Desa Kubangdeleg mampu mengembangkan potensi wisatanya secara terarah, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
(Mels)





