UIN Siber Cirebon – Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon turut ambil bagian dalam kegiatan Kolaborasi Pengamatan Gerhana Bulan Total yang diselenggarakan oleh UIN Walisongo Semarang. Partisipasi ini merupakan respons atas undangan resmi dari Laboratorium Terpadu kampus tersebut dan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antarperguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dalam pengembangan ilmu astronomi dan falak.
Kegiatan berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026, mulai pukul 16.00 WIB hingga 20.30 WIB, secara daring melalui platform Zoom Meeting. Meski dilaksanakan secara virtual, setiap laboratorium falak dari berbagai kampus tetap melakukan pengamatan langsung gerhana bulan total di lokasi masing-masing, kemudian menyampaikan laporan hasil observasi kepada seluruh peserta.
Dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, kegiatan ini diikuti oleh dosen pendamping, tutor praktikum, serta mahasiswa Program Studi Ilmu Falak yang melakukan pengamatan di Pusat Laboratorium Saladara Majasem. Kehadiran mereka menjadi bentuk komitmen akademik dalam meningkatkan kompetensi observasional mahasiswa sekaligus memperluas jejaring kolaborasi ilmiah tingkat nasional.
Kolaborasi Lintas Wilayah
Kegiatan kolaboratif ini melibatkan sejumlah PTKIN dari wilayah tengah dan barat Indonesia. Untuk wilayah tengah, hadir perwakilan dari UIN Mataram dan UIN Alauddin Makassar. Sementara itu, wilayah barat diwakili oleh UIN Walisongo Semarang selaku tuan rumah, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, UIN Ponorogo, serta UIN Imam Bonjol Padang.
Partisipasi lintas wilayah ini menunjukkan tingginya perhatian akademisi terhadap fenomena astronomi, khususnya gerhana bulan total, sebagai bagian penting dalam pengembangan keilmuan falak di Indonesia. Selain menjadi kegiatan akademik, kolaborasi ini juga berfungsi sebagai forum untuk menyamakan standar observasi dan pelaporan ilmiah antar laboratorium falak.
Diskusi Ilmiah dan Talkshow Pakar Astronomi
Rangkaian kegiatan diawali dengan diskusi ilmiah mengenai konsep-konsep astronomi yang berkaitan dengan gerhana bulan, seperti umbra, penumbra, magnitudo gerhana, hingga tahapan fase-fase totalitas. Diskusi ini bertujuan menyamakan pemahaman teoritis sekaligus memperkuat landasan konseptual mahasiswa sebelum melakukan pengamatan lapangan.
Acara semakin menarik dengan kehadiran Prof. Dr. Eng. Rinto Anugraha NQZ, guru besar sosiofisika dan pakar astronomi posisi dari Universitas Gadjah Mada. Dalam sesi talkshow, ia menjelaskan pentingnya akurasi data astronomi posisi dalam penentuan fenomena langit, termasuk gerhana dan hilal.
Menurutnya, kolaborasi lintas kampus menjadi langkah strategis dalam membangun tradisi riset berbasis observasi yang kuat di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.
Pengamatan Gerhana dari Cirebon
Memasuki sesi utama, masing-masing tim laboratorium menyampaikan laporan hasil pengamatan gerhana bulan total dari kota masing-masing. Dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, laporan disampaikan oleh Rizal Ramadhan, dosen pendamping praktikum Ilmu Falak.
Dalam laporannya, dijelaskan bahwa fase awal gerhana (kontak pertama dengan bayangan penumbra) mulai teramati sesuai dengan prediksi hisab yang telah dihitung sebelumnya. Fase umbra terlihat jelas ketika bulan perlahan memasuki bayangan inti bumi hingga mencapai puncak fase totalitas, ditandai dengan perubahan warna bulan menjadi kemerahan.
Fenomena tersebut terjadi akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi, sehingga spektrum cahaya merah masih dapat mencapai permukaan bulan.
Tim Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggunakan teleskop refraktor dan kamera digital untuk mendokumentasikan setiap fase gerhana. Kondisi cuaca di wilayah Cirebon dilaporkan relatif cerah dengan sedikit gangguan awan tipis, sehingga pengamatan dapat dilakukan secara optimal.
Selain dokumentasi visual, tim juga mencatat berbagai parameter penting, seperti waktu setiap fase gerhana, durasi totalitas, serta tingkat kecerlangan relatif bulan saat puncak gerhana. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan efemeris dan perhitungan astronomi, yang menunjukkan tingkat kesesuaian tinggi antara teori dan observasi lapangan.
Pengalaman Berharga bagi Mahasiswa
Kegiatan ini memberikan pengalaman akademik yang berharga bagi mahasiswa Ilmu Falak. Mereka tidak hanya mempelajari teori astronomi di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam observasi fenomena langit secara sistematis dan ilmiah.
Mahasiswa juga berlatih menyusun laporan observasi berbasis data lapangan, sekaligus mempresentasikan hasil pengamatan di forum nasional bersama kampus lain. Hal ini menjadi sarana penting untuk melatih kemampuan komunikasi ilmiah dan kolaborasi riset.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat mahasiswa untuk terus mengembangkan riset astronomi, khususnya dalam bidang falak syar’i yang berkaitan erat dengan penentuan waktu ibadah umat Islam.
Komitmen Pengembangan Ilmu Falak
Kepala Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Zainul Alim, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kolaboratif tersebut. Ia menegaskan bahwa Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon akan terus berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pengamatan fenomena astronomi, baik gerhana maupun rukyat hilal.
Menurutnya, konsistensi dalam melakukan observasi merupakan kunci utama dalam membangun kredibilitas keilmuan falak yang berbasis data empirik.
“Kami berkomitmen untuk terus hadir dalam setiap momentum pengamatan hilal dan fenomena astronomi lainnya sebagai bagian dari penguatan tradisi ilmiah dan pengabdian akademik,” ujarnya.
Antusiasme Hingga Penutupan
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 20.30 WIB ini ditutup dengan sesi refleksi bersama dan diskusi interaktif. Antusiasme mahasiswa terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam tanya jawab serta penyampaian laporan hasil pengamatan.
Kolaborasi pengamatan gerhana bulan total ini tidak hanya menjadi ajang observasi ilmiah, tetapi juga menjadi simbol sinergi dan kontribusi nyata Laboratorium Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkuat jejaring akademik nasional. Melalui kegiatan semacam ini, tradisi keilmuan falak diharapkan terus berkembang, adaptif terhadap kemajuan teknologi, serta tetap relevan dengan kebutuhan umat dan perkembangan ilmu pengetahuan.







