UIN Siber Cirebon (Kemenag) – Penguatan kompetensi pranata hubungan masyarakat (humas) menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan media sosial dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Melalui program Humas Level Up #17, Pengurus Cabang Ikatan Pranata Humas (IPRAHUMAS) Kementerian Agama RI menggelar sesi bertajuk “Membaca Lanskap Media Sosial, Menyusun Strategi Komunikasi yang Efektif” pada Rabu (14/10/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–15.00 WIB ini menghadirkan Fachrudin Ali, Ketua IPRAHUMAS Indonesia sekaligus Pranata Humas Ahli Madya pada Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Kementerian Kesehatan, sebagai narasumber. Sesi dipandu Gloria De Fretes, Anggota Bidang Pembinaan Sumber Daya Manusia PC IPRAHUMAS Kementerian Agama.
Pranata Humas UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Mohamad Arifin dan Amelia Ayu Lestari, turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut bersama ratusan praktisi dan insan humas dari berbagai instansi. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, memperbarui pengetahuan, serta memperkuat kompetensi dalam mengelola komunikasi publik di era digital.
Melalui sesi ini, peserta diajak memahami perubahan lanskap media sosial, menentukan kanal komunikasi sesuai karakteristik audiens, merancang strategi komunikasi yang terarah, serta mengevaluasi keberhasilan komunikasi berdasarkan perubahan yang terjadi pada masyarakat.
IPRAHUMAS Dorong Peningkatan Kompetensi secara Berkelanjutan
Ketua Pengurus Cabang IPRAHUMAS Kementerian Agama RI, M. Rusydi Sani, menyampaikan bahwa Humas Level Up edisi ke-17 menjadi sesi istimewa karena menghadirkan narasumber dengan pengalaman dan kompetensi di bidang komunikasi publik.
Sementara itu, Ahmad Furqon Kusuma Yudha, selaku Ketua Tim Penyiapan Regulasi dan Pembinaan Jabatan Fungsional Pranata Humas, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi pranata humas dan tenaga kehumasan terus diupayakan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah audit kompetensi internal untuk memetakan kebutuhan pengembangan kemampuan dan menentukan materi pembelajaran yang relevan dengan tantangan pekerjaan.
Antusiasme peserta terhadap program ini juga dinilai positif. Humas Level Up diselenggarakan secara berkala setiap dua minggu dengan partisipasi melalui Zoom dan YouTube. Ke depan, penguatan kompetensi diharapkan semakin menjangkau pranata humas di daerah melalui pembentukan kelompok kerja (pokja) di tingkat provinsi, dengan melibatkan jejaring IPRAHUMAS, humas kantor wilayah, dan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN).
Penguatan jejaring tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi dan berbagi praktik baik antarpengelola komunikasi publik, sekaligus mendukung peningkatan kualitas layanan informasi di lingkungan Kementerian Agama.
Memahami Lanskap Media Sosial untuk Menjangkau Audiens
Dalam pemaparannya, Fachrudin Ali menjelaskan pentingnya memahami lanskap media sosial sebelum menentukan strategi komunikasi. Perubahan perilaku pengguna, persaingan mendapatkan perhatian, serta penyebaran informasi yang cepat menuntut praktisi humas untuk lebih cermat dalam memilih kanal dan merancang pesan.
Materi presentasi menampilkan data APJII 2026 yang menunjukkan penetrasi internet Indonesia mencapai 81,72 persen. Materi tersebut juga memperlihatkan tingginya penggunaan berbagai platform digital, termasuk WhatsApp, Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok.
Perbedaan karakteristik audiens menjadi pertimbangan penting dalam menentukan media komunikasi. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa preferensi platform dapat berbeda menurut kelompok generasi. Karena itu, pemilihan kanal perlu didasarkan pada karakteristik audiens yang ingin dijangkau, bukan semata-mata pada preferensi tim pengelola media sosial.
Fachrudin juga mengangkat konsep attention economy, yaitu kondisi ketika berbagai konten bersaing untuk mendapatkan perhatian pengguna. Dalam situasi tersebut, komunikasi humas tidak cukup hanya mengejar viralitas. Kualitas informasi, kredibilitas, dan kepercayaan publik perlu dijaga sebagai bagian dari strategi komunikasi jangka panjang.
Strategi Komunikasi Perlu Berbasis Riset dan Tujuan Terukur
Salah satu materi utama dalam Humas Level Up #17 adalah pentingnya menyusun strategi komunikasi secara sistematis. Presentasi memperkenalkan model RSTE (Research, Strategy, Tactics, Evaluation) sebagai kerangka untuk merancang dan mengevaluasi kegiatan kehumasan.
Tahap pertama adalah riset formatif, meliputi analisis situasi, analisis organisasi, dan analisis publik. Tahap ini membantu praktisi humas memahami isu yang berkembang, kesiapan organisasi, serta kelompok audiens yang perlu dijangkau.
Tahap berikutnya adalah menyusun strategi dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang terukur, merumuskan pesan utama, serta menyiapkan langkah komunikasi dan respons terhadap pertanyaan atau kritik publik. Strategi tersebut kemudian diterapkan melalui taktik dan kanal komunikasi yang sesuai, disertai pembagian tanggung jawab serta mekanisme persetujuan yang jelas.
Materi juga mengenalkan pendekatan PESO, yang mencakup paid media (media berbayar), earned media (liputan atau perhatian media), shared media (kanal berbagi), dan owned media (kanal yang dikelola sendiri). Keempat jenis kanal tersebut dapat digunakan secara saling melengkapi sesuai tujuan komunikasi dan karakteristik audiens.
Pesan komunikasi yang efektif perlu relevan dengan kebutuhan audiens, mudah dipahami, konsisten di berbagai kanal, serta disampaikan oleh pihak yang memiliki kredibilitas. Dengan pendekatan ini, humas tidak hanya berperan menyebarkan informasi, tetapi juga membantu membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat.
Keberhasilan Humas Diukur dari Dampak Komunikasi
Humas Level Up #17 turut menekankan bahwa keberhasilan komunikasi tidak dapat dinilai hanya berdasarkan banyaknya konten yang dipublikasikan. Evaluasi perlu melihat perubahan yang terjadi pada audiens melalui empat tingkatan, yaitu output, outtake, outcome, dan dampak.
Output mengukur hasil kerja, seperti jumlah unggahan dan video yang diterbitkan. Outtake melihat reaksi audiens, misalnya jangkauan, interaksi, dan komentar yang merujuk pada informasi resmi. Outcome mengukur perubahan pemahaman atau sikap audiens, sedangkan dampak menunjukkan kontribusi komunikasi terhadap tujuan organisasi, termasuk terpeliharanya kepercayaan publik.
Pendekatan ini mendorong praktisi humas menetapkan sasaran sejak awal, menentukan indikator keberhasilan, dan melakukan evaluasi secara berkala. Hasil evaluasi selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki strategi komunikasi agar lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang nyata.
Materi juga menyoroti pentingnya keseragaman pesan antarsatuan kerja. Organisasi perlu memiliki pesan utama yang sama meskipun disampaikan melalui berbagai kanal dan format. Verifikasi informasi sebelum publikasi, koordinasi antarpihak, serta kesiapan menghadapi isu menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas institusi.
Perkuat Kompetensi Humas UIN Siber Cirebon di Era Digital
Partisipasi Mohamad Arifin dan Amelia Ayu Lestari dalam Humas Level Up #17 menjadi kesempatan untuk memperkaya pengetahuan dan mengikuti perkembangan pendekatan komunikasi publik. Materi yang disampaikan dapat menjadi referensi dalam pengelolaan publikasi, pemilihan kanal digital, perencanaan konten, serta evaluasi komunikasi di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Penguatan kompetensi ini relevan bagi perguruan tinggi yang memanfaatkan berbagai kanal digital untuk menyampaikan informasi akademik, kegiatan kelembagaan, capaian sivitas akademika, dan layanan kepada masyarakat. Strategi komunikasi yang terencana membantu memastikan informasi tidak hanya tersebar luas, tetapi juga dipahami oleh audiens yang tepat.
Melalui pembelajaran berkelanjutan dan perluasan jejaring profesional, pranata humas diharapkan semakin adaptif dalam menghadapi dinamika media sosial. Komunikasi publik yang efektif pada akhirnya bukan hanya tentang jumlah informasi yang dipublikasikan, melainkan juga tentang sejauh mana pesan dipahami, dipercaya, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.


