UIN Siber Cirebon (Bogor, Kemenag) — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, telah meluncurkan Gerakan “Indonesia Asri” sebagai respons serius atas ancaman krisis lingkungan akibat persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan. Dengan tegas Presiden menyatakan bahwa “sampah adalah bencana dan penyakit”, serta menginstruksikan seluruh pimpinan lembaga dan kepala daerah untuk melakukan aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan secara masif dan berkelanjutan.
Seruan Presiden ini patut disambut sebagai momentum kebangkitan kesadaran ekologis bangsa. Lingkungan bukan sekadar ruang hidup, melainkan fondasi peradaban. Kerusakan alam bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kualitas hidup, ketahanan pangan, stabilitas sosial, bahkan masa depan generasi penerus.
Dalam konteks inilah, Gerakan “Indonesia Asri” menemukan relevansi spiritualnya melalui konsep Ekoteologi yang selama ini dikembangkan Kementerian Agama. Ekoteologi menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari pengamalan agama. Relasi manusia dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari relasinya dengan alam dan sesama manusia. Merusak lingkungan berarti mengkhianati amanah ilahi sebagai khalifah di muka bumi.
Ekoteologi: Spirit Agama untuk Menjaga Bumi
Islam mengajarkan keseimbangan (mīzān), kebersihan (ṭahārah), dan tanggung jawab (amanah). Nilai-nilai ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa yang bebas mengeksploitasi alam, melainkan sebagai penjaga yang wajib merawat dan melestarikannya. Dalam perspektif ini, aksi bersih-bersih, pengurangan plastik, pengelolaan sampah, hingga gaya hidup ramah lingkungan bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi merupakan ibadah sosial yang bernilai tinggi.
Kementerian Agama telah memulai langkah strategis jauh sebelum gaung “Indonesia Asri” dikumandangkan. Kebijakan pengurangan plastik sekali pakai, kampanye green office, penguatan kurikulum berbasis lingkungan, serta edukasi melalui mimbar-mimbar agama menjadi bukti konkret bahwa ekoteologi bukan sekadar jargon, melainkan gerakan nyata.
Dengan jejaring kelembagaan yang menjangkau hingga pelosok negeri—melalui madrasah, Kantor Urusan Agama (KUA), pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan—Kementerian Agama memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menggerakkan perubahan perilaku masyarakat menuju peradaban hijau.
Komitmen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk Indonesia Asri
Sebagai bagian dari Kementerian Agama, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyatakan kesiapan penuh untuk menyukseskan Asta Protas Pemerintah dan Program Prioritas Kemenag, termasuk Gerakan “Indonesia Asri” berbasis ekoteologi. Komitmen ini bukan sekadar deklarasi, melainkan telah diwujudkan dalam kebijakan, riset, pendidikan, dan praktik kampus berkelanjutan.
Komitmen tersebut tercermin dari capaian membanggakan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam pemeringkatan UI GreenMetric Indonesia 2025, dengan hasil: Peringkat 831 Dunia, Peringkat 492 Asia, Peringkat 87 Indonesia, dan Peringkat 12 PTKIN se-Indonesia.
Capaian ini menjadi bukti nyata keseriusan kami dalam mengimplementasikan prinsip kampus hijau melalui penguatan kebijakan lingkungan, pengembangan riset berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), pengelolaan sumber daya ramah lingkungan, serta partisipasi aktif seluruh sivitas akademika.
Bagi kami, kampus bukan hanya pusat pengembangan ilmu, tetapi juga laboratorium peradaban. Mahasiswa tidak hanya dididik menjadi insan cerdas, tetapi juga warga bumi yang bertanggung jawab. Melalui kurikulum, pengabdian masyarakat, serta aktivitas kemahasiswaan, nilai-nilai cinta lingkungan kami tanamkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Indonesia Asri sebagai Gerakan Moral Bangsa
Gerakan “Indonesia Asri” harus dimaknai lebih dari sekadar aksi bersih-bersih. Ia harus menjadi gerakan moral dan kultural bangsa. Persoalan sampah dan kerusakan lingkungan tidak akan selesai hanya dengan regulasi dan instruksi, tetapi membutuhkan perubahan cara pandang, kesadaran kolektif, dan keteladanan.
Di sinilah sinergi antara pemerintah dan institusi keagamaan menjadi sangat strategis. Ketika nilai agama berpadu dengan kebijakan negara, maka lahirlah kekuatan dahsyat untuk membangun peradaban ekologis. Ekoteologi menjadi jembatan yang menghubungkan iman, ilmu, dan aksi nyata.
Gerakan ini sekaligus menjadi ikhtiar membangun karakter generasi muda. Anak-anak bangsa perlu dididik sejak dini bahwa mencintai lingkungan adalah bagian dari identitas keindonesiaan dan keimanan. Indonesia Asri bukan hanya tentang kebersihan fisik, tetapi tentang membangun bangsa yang beradab, sehat, dan berkelanjutan.
Menjadi Pelopor, Bukan Sekadar Pengikut
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bertekad menjadi pelopor kampus hijau berbasis ekoteologi, bukan sekadar pengikut arus. Kami siap menggerakkan seluruh potensi akademik, riset, dan pengabdian masyarakat untuk memperkuat Gerakan “Indonesia Asri” di tingkat lokal, regional, hingga nasional.
Kami mengajak seluruh sivitas akademika, mitra strategis, dan masyarakat luas untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup. Dari langkah kecil—mengurangi plastik, memilah sampah, menanam pohon, hingga menghemat energi—akan lahir perubahan besar bagi masa depan bumi dan generasi mendatang.
Indonesia Asri bukan mimpi. Ia adalah keniscayaan, jika kita bergerak bersama. Dan ekoteologi memberi kita fondasi spiritual yang kokoh untuk menjaganya.
Indonesia Asri, Indonesia Lestari, Indonesia Bermartabat.
Oleh: Aan Jaelani.


