Berita Internasional Kegiatan SDGs
Home » Pos » Berita » Kajian Mahasiswa S3 UIN Siber Cirebon Soroti Kesenjangan Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan MBG

Kajian Mahasiswa S3 UIN Siber Cirebon Soroti Kesenjangan Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan MBG

Kajian Mahasiswa S3 UIN Siber Cirebon Soroti Kesenjangan Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan MBG

UIN Siber Cirebon (Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia)  — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berbicara tentang menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat. Di balik skala program yang besar, terdapat tantangan penting yang ikut menentukan kepercayaan publik, yakni keamanan pangan, standar higiene, dan jaminan kehalalan makanan.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Faridah Irmayanthy, mahasiswa Program Doktor (S3) Ekonomi Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dalam presentasi riset di hadapan akademisi Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Selasa (29/9/2026).

Kajian Mahasiswa S3 UIN Siber Cirebon Soroti Kesenjangan Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan MBG

Dalam kajiannya, Faridah menganalisis kesenjangan antara regulasi dan pelaksanaan pengelolaan pangan halal pada tahap awal penyelenggaraan MBG dengan mengambil Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebagai lokasi studi kasus.

Di Awal Penegakan Sertifikasi, Angkanya Masih Rendah

Salah satu temuan yang disoroti adalah kondisi sertifikasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada awal periode penegakan standar.

Tembus 3 Negara ASEAN, Dua Mahasiswa BSA UIN Siber Cirebon Ikuti ITHLA Abroad Batch 8

Berdasarkan data resmi Badan Gizi Nasional (BGN), per 30 September 2025 terdapat 198 SPPG yang telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Pada saat itu BGN juga mencatat 34 SPPG bersertifikat halal dan 26 SPPG memiliki HACCP.

Jika menggunakan basis 10.012 SPPG sebagaimana angka dalam kajian, jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,98 persen untuk SLHS, 0,34 persen untuk sertifikat halal, dan 0,26 persen untuk HACCP.

Namun, angka tersebut perlu dibaca sebagai potret pada satu titik waktu, bukan kondisi terkini. Perkembangan sertifikasi berlangsung cepat. BPJPH, misalnya, melaporkan bahwa pada Februari 2026 sudah terdapat 2.340 SPPG yang bersertifikat halal dan proses sertifikasi masih terus berlangsung.

Karena jumlah SPPG juga bertambah, persentase antarperiode tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa menggunakan basis data yang sama.

Tantangan Keamanan Pangan

Menurut kajian Faridah, persoalan sertifikasi menjadi semakin penting karena MBG dijalankan dalam skala besar. Ketika proses produksi, pemorsian, penyimpanan, hingga distribusi melibatkan banyak titik layanan, konsistensi standar menjadi tantangan tersendiri.

Dari Cirebon Menembus Asia Tenggara, Dua Mahasiswa PBA UIN Siber Ikuti ITHLA Abroad Batch 8

Ombudsman RI dalam sejumlah penanganan kasus MBG juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap tahapan keamanan pangan, mulai dari penerimaan bahan baku, pembersihan, pengolahan, pengujian makanan, penyimpanan sampel, pemorsian, hingga distribusi.

Kajian Faridah mengidentifikasi empat kelompok persoalan yang berpotensi menciptakan kesenjangan, yaitu pengawasan yang terfragmentasi, keterbatasan sumber daya manusia, percepatan program yang mendahului kesiapan ekosistem sertifikasi, serta ketidakpastian teknis di lapangan.

Tiga Rekomendasi untuk Memperkuat MBG

Faridah menawarkan tiga arah perbaikan.

Pertama, pada tingkat operasional diperlukan SOP terintegrasi berbasis HACCP dan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) di setiap SPPG.

Kedua, pada tingkat kelembagaan perlu didorong layanan sertifikasi yang lebih terintegrasi, termasuk SLHS, sertifikasi halal, dan kelayakan air.

Rektor UIN Siber Cirebon Lepas 4 Mahasiswa Ikuti ITHLA Abroad Batch 8 di Tiga Negara

Ketiga, dari sisi sumber daya manusia, pelatihan Pengawas Halal perlu dipercepat dengan melibatkan perguruan tinggi Islam di daerah.

Bagi Indramayu, isu ini memiliki arti penting karena kajian tersebut menempatkan keamanan dan kehalalan pangan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program perbaikan gizi masyarakat.

Kajian Awal, Bukan Kesimpulan Akhir

Faridah menegaskan bahwa kajiannya masih menggunakan data sekunder dari BGN, BPJPH, BPOM, SSGI, JPPI/UGM, media arus utama, dan publikasi ilmiah. Karena belum menggunakan data primer, temuan tersebut belum dapat digeneralisasi sebagai gambaran kondisi setiap SPPG di Indramayu.

Tahap berikutnya direncanakan melalui observasi pada 35-65 SPPG, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah.

Kajian Mahasiswa S3 UIN Siber Cirebon Soroti Kesenjangan Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan MBG

Riset ini pada akhirnya membawa pesan sederhana: MBG bukan hanya tentang makanan yang sampai ke meja penerima manfaat, tetapi juga tentang bagaimana makanan itu dipastikan aman, bergizi, dan terjamin kehalalannya. Penguatan standar sejak dari dapur menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.

Berita Populer

01

Pengumuman Pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) Calon Mahasiswa Baru Jalur SPAN-PTKIN Tahun 2026

02

UIN Siber Cirebon Jadi Tuan Rumah CBT Beasiswa S1 Kerajaan Maroko 2026, Perkuat Jejaring Internasional Pendidikan Islam

03

Pengumuman Pengajuan Usulan Keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Tahun Akademik 2025/2026

04

Pendaftaran Beasiswa BI 2026 UIN Siber Cirebon Semester I

05

Pengumuman Perpanjangan Pelaksanaan Herregistrasi Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026

Download PPID UINSSC Mobile App

Kalender

September 2026
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Pos Terbaru