UIN Siber Cirebon — Belakangan ini muncul narasi yang menyatakan bahwa lulusan UIN memiliki “skill di bawah rata-rata”. Pandangan semacam ini perlu disikapi secara hati-hati dan proporsional. Sebagai pimpinan perguruan tinggi, saya memandang bahwa narasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas objektif, melainkan lebih merupakan generalisasi dari pengalaman yang bersifat parsial.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kualitas lulusan tidak dapat direduksi hanya pada satu indikator sederhana. Ia merupakan hasil dari interaksi kompleks antara kapasitas individu, ekosistem pembelajaran, dukungan institusi, serta inisiatif dan daya juang mahasiswa itu sendiri. Karena itu, menyimpulkan kualitas lulusan sebuah institusi secara menyeluruh dengan label “di bawah rata-rata” merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.
Sebaliknya, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), baik itu STAIN, IAIN termasuk UIN, memiliki keunggulan khas yang justru menjadi kekuatan utama dalam membangun sumber daya manusia yang utuh. PTKIN tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Dalam praktiknya, lulusan PTKIN dibekali dengan kemampuan untuk menjadi:
- intelektual keislaman yang kritis dan reflektif,
- pendidik yang berintegritas,
- peneliti yang berlandaskan nilai,
- serta agen transformasi sosial-keagamaan di tengah masyarakat.
Dimensi ini menunjukkan bahwa “skill” dalam konteks PTKIN tidak semata-mata dipahami sebagai keterampilan teknis yang langsung terhubung dengan kebutuhan industri, melainkan juga mencakup kemampuan berpikir, etika, dan kontribusi sosial.
Sebagai Rektor, saya juga melihat adanya kecenderungan penyempitan makna “skill” hanya pada aspek yang bersifat pragmatis dan jangka pendek. Padahal, dunia saat ini justru membutuhkan individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral, kemampuan adaptasi, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan kesenjangan antara dunia akademik dan dunia kerja memang ada, dan ini bukan hanya dialami oleh PTKIN, tetapi juga oleh banyak perguruan tinggi lainnya. Oleh karena itu, PTKIN terus melakukan langkah-langkah strategis melalui penguatan kurikulum, integrasi keterampilan praktis, serta perluasan orientasi lulusan agar semakin adaptif terhadap perkembangan zaman.
Namun demikian, penting untuk diingat bahwa pendidikan tinggi bukanlah sistem yang bekerja secara satu arah. Kampus menyediakan fondasi, tetapi pengembangan kapasitas diri sangat bergantung pada keaktifan mahasiswa—melalui organisasi, pengalaman lapangan, magang, serta pembelajaran mandiri. Dalam hal ini, keberhasilan lulusan merupakan hasil dari kolaborasi antara institusi dan individu.
Sebagai bentuk mitigasi atas berkembangnya persepsi publik, kami memandang bahwa narasi yang berkembang saat ini harus dijadikan sebagai refleksi bersama, bukan sebagai label yang melemahkan. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan secara proporsional, berbasis data, dan tidak terjebak pada generalisasi.
PTKIN akan terus berbenah, memperkuat relevansi kurikulum, serta memastikan lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Pada akhirnya, keunggulan PTKIN terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara ilmu, nilai, dan kemanusiaan. Inilah fondasi yang justru menjadikan lulusan PTKIN tidak sekadar “siap kerja”, tetapi juga siap memberi arah bagi perubahan sosial dan pembangunan peradaban.
Oleh: Aan Jaelani


