UIN Siber Cirebon – Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Siber Cirebon melaksanakan layanan konseling kelompok bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Cirebon. Kegiatan yang berlangsung pada 18 dan 25 September 2026 ini berfokus pada upaya membantu konseli memahami serta mengelola ketakutan dan kekhawatiran dalam menghadapi kehidupan setelah masa tahanan berakhir.
Kegiatan tersebut melibatkan enam mahasiswa BKI semester 7, yaitu Sabrinaryne Choirunnisya, Vivi Nur Amaliyah, Tiara Roichah, Ade Zulfa Hidayati, Pepi Haryani, dan Siti Fadillah. Mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok pendampingan, masing-masing terdiri atas tiga orang yang mendampingi tujuh WBP perempuan.
Membangun Ruang Aman untuk Berbagi Pengalaman

Pada sesi pertama, Jumat (18/9/2026), mahasiswa memulai konseling dengan perkenalan, membangun hubungan kelompok, dan melakukan asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan konseli. Pendekatan ini memberi ruang bagi para WBP untuk berbagi pengalaman selama menjalani kehidupan di Rutan, mulai dari aktivitas sehari-hari, proses belajar, hingga kerinduan terhadap keluarga.
Dalam proses tersebut, sejumlah konseli mengungkapkan kekhawatiran mengenai kehidupan setelah kembali ke masyarakat, terutama terkait pandangan dan penerimaan lingkungan sosial terhadap mereka. Salah seorang WBP berinisial W mengungkapkan perasaannya, “Bahkan rasanya saya nggak mau pulang dulu, mau di sini saja.”
Ungkapan tersebut menggambarkan adanya ketakutan yang perlu dipahami dan dikelola sebelum konseli kembali menjalani kehidupan di luar Rutan. Hasil asesmen kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa untuk merumuskan fokus pendampingan pada sesi berikutnya.
Mengelola Kekhawatiran melalui Circle of Control
Pada sesi kedua, Jumat (25/9/2026), mahasiswa menindaklanjuti hasil asesmen dengan menggunakan pendekatan Solution-Focused Brief Counseling (SFBC). Salah satu teknik yang digunakan adalah scaling question untuk membantu konseli menggambarkan kondisi dan kebutuhan mereka.

Mahasiswa juga menerapkan aktivitas Circle of Control, yang mengajak konseli membedakan hal-hal yang berada dalam kendali, dapat dipengaruhi, dan berada di luar kendali mereka. Melalui kegiatan ini, konseli diarahkan untuk mengalihkan perhatian dari kekhawatiran yang sulit dikendalikan menuju langkah-langkah realistis yang dapat dilakukan.
Beberapa fokus yang muncul meliputi membangun komunikasi dengan keluarga dan teman, memperhatikan kehidupan anak, mempersiapkan masa depan, serta merencanakan kembali usaha atau bisnis. Pendekatan ini membantu konseli melihat bahwa meskipun tidak semua keadaan dapat dikendalikan, mereka tetap memiliki ruang untuk menentukan respons dan mengambil langkah ke depan.
Melatih Kesiapan Menghadapi Kehidupan Sosial

Untuk memperkuat kesiapan konseli, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan teknik role playing. Melalui simulasi, konseli memperoleh kesempatan untuk mencoba respons dan cara berkomunikasi ketika menghadapi situasi sosial yang mungkin ditemui setelah kembali ke masyarakat.
Pada akhir sesi, mahasiswa mengajak konseli melakukan refleksi dan memberikan umpan balik mengenai manfaat konseling kelompok. Salah seorang WBP berinisial S menyampaikan, “Konseling kelompok ini telah membantu kami menyusun langkah yang realistis dan menyadari untuk segera menyusun plan, karena kalau nanti sudah keluar dan baru menyusun pasti sudah telat.”
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya persiapan sejak sebelum masa tahanan berakhir. Konseling kelompok tidak hanya menjadi ruang untuk mengungkapkan perasaan, tetapi juga membantu konseli mulai merumuskan rencana yang dapat dijalankan secara bertahap.
Mempersiapkan Langkah Nyata untuk Masa Depan

Melalui rangkaian layanan ini, mahasiswa BKI UIN Siber Cirebon berupaya mendukung WBP perempuan agar lebih siap menghadapi perubahan kehidupan dan tantangan sosial setelah kembali ke masyarakat. Proses konseling menekankan pengenalan diri, pengelolaan kekhawatiran, serta penyusunan langkah konkret sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing konseli.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu bimbingan dan konseling di lingkungan pemasyarakatan. Melalui pendampingan yang terarah, mahasiswa belajar memahami kebutuhan konseli dan memfasilitasi proses refleksi serta perencanaan masa depan.
Diharapkan, layanan konseling kelompok ini dapat menjadi salah satu dukungan bagi WBP perempuan dalam mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan sosial secara lebih terencana, dengan tetap memperhatikan potensi, dukungan keluarga, dan kondisi lingkungan masing-masing.


