UIN Siber Cirebon – Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon turut mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan saling menghargai melalui layanan bimbingan dan konseling di MDTU Daarussalaam. Kegiatan yang berlangsung pada 29–30 September 2026 tersebut mengangkat isu pencegahan dan penanganan bullying sebagai bagian dari praktik lapangan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan pengetahuan dan keterampilan bimbingan konseling secara langsung, tetapi juga membantu siswa memahami berbagai bentuk bullying, dampaknya, serta cara merespons permasalahan secara tepat.
Mengenalkan Bullying dan Dampaknya kepada Siswa
Kegiatan dilaksanakan melalui empat bentuk layanan, yaitu bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan konseling individu. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa sehingga pembahasan mengenai bullying tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan diskusi dan pendampingan.
Dalam bimbingan klasikal, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk perilaku bullying, serta dampaknya terhadap kenyamanan, kepercayaan diri, dan interaksi sosial siswa.
Siswa juga diajak mengenali bahwa bullying tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Ejekan terhadap kondisi fisik, pemberian julukan, menjadikan nama seseorang sebagai bahan lelucon, hingga perilaku meledek yang dilakukan berulang dapat menjadi bentuk bullying verbal yang perlu mendapat perhatian.
Pemahaman tersebut penting agar siswa mampu membedakan candaan yang sehat dengan perilaku yang dapat menyakiti atau membuat orang lain merasa tidak aman.
Siswa Diberi Ruang untuk Bercerita dan Mencari Solusi
Setelah memperoleh pemahaman dasar, mahasiswa melanjutkan layanan melalui bimbingan kelompok. Siswa diajak berdiskusi mengenai pengalaman dan situasi yang berkaitan dengan bullying serta membangun cara berinteraksi yang lebih positif dengan teman sebaya.
Sementara itu, konseling kelompok memberikan ruang yang lebih aman bagi siswa yang memiliki pengalaman atau permasalahan terkait bullying. Dalam suasana yang lebih terbatas, siswa dapat menyampaikan pengalaman, perasaan, dan kesulitan yang dihadapi sekaligus belajar menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya.
Untuk siswa yang membutuhkan pendampingan lebih khusus, mahasiswa memberikan konseling individu. Layanan ini terutama diberikan kepada siswa yang mengalami bullying verbal secara berulang, seperti ejekan mengenai kondisi fisik, pemberian julukan, atau perilaku meledek.
Pendekatan tersebut menempatkan siswa bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai individu yang perlu didengar, dipahami, dan didampingi sesuai kebutuhannya.
Membangun Lingkungan Pendidikan yang Aman dan Inklusif
Kepala MDTU Daarussalaam, Ade Iis Kusmayanti, bersama jajaran guru turut mendukung pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling tersebut. Kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan siswa menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman.
Dosen Pembimbing, Drs. H. Muzaki, M.Ag., juga menjadi bagian dari pendampingan kegiatan praktik lapangan mahasiswa BKI.
Melalui layanan ini, mahasiswa mendorong siswa agar berani menyampaikan ketidaknyamanan, menghargai perbedaan, serta memahami bahwa meminta bantuan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya merupakan langkah yang tepat ketika menghadapi bullying.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan peserta didik secara aman dan positif. Pencegahan bullying juga berkaitan dengan SDG 16, yang mendorong terciptanya lingkungan yang damai, inklusif, dan aman bagi semua.
Dari Praktik Lapangan Menuju Kompetensi Konseling
Bagi mahasiswa BKI UIN Siber Cirebon, kegiatan di MDTU Daarussalaam menjadi pengalaman penting untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam situasi nyata.
Sembilan mahasiswa yang terlibat, yaitu Nasywa Fitriandani, Yola Amaliyani, Alifia Rahmadani, Niswah Sabiqoh, Birru Zetta Olivia, Meilisa Cahyaningrum, Putri Marsya Aurelia, Hasna Sayyidah Yusuf, dan Rizka Chaerun Nissa, memperoleh pengalaman dalam menyampaikan materi, memfasilitasi diskusi, menggali pengalaman siswa, serta memberikan layanan konseling sesuai kebutuhan.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat keterhubungan antara pembelajaran akademik dan kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan. Mahasiswa belajar bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak hanya berfungsi ketika masalah telah muncul, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran, mencegah masalah, dan menciptakan hubungan sosial yang sehat.
Mendorong Keberanian, Empati, dan Saling Menghargai

Melalui rangkaian layanan tersebut, siswa diharapkan semakin mampu mengenali perilaku bullying, memahami dampaknya, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika mengalami atau menyaksikannya.
“Melalui layanan bimbingan dan konseling, siswa diharapkan tidak hanya memahami dampak bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyampaikan ketidaknyamanan, saling menghargai, dan menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih aman dan positif,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, keterlibatan mahasiswa BKI dalam pencegahan bullying menunjukkan bahwa praktik lapangan dapat menjadi ruang kontribusi sosial sekaligus pembelajaran profesional. Melalui pendekatan bimbingan dan konseling, mahasiswa turut mengambil bagian dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, berempati, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.


