UIN Siber Cirebon (Indramayu) – Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC) mengenal lebih dekat kearifan lokal masyarakat melalui tradisi Unjung Buyut Tambi di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami nilai sejarah, gotong royong, dan kebersamaan yang terus hidup dalam tradisi masyarakat setempat.
Tradisi Unjung Buyut Tambi merupakan kegiatan tahunan yang dikenal masyarakat sebagai haul atau mermule, yakni momentum untuk mengenang leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan prosesi adat, tetapi juga berbagai perlombaan, seperti bola voli dan bulu tangkis, yang menjadi ruang interaksi dan kebersamaan masyarakat.
Tawu Balong, Tradisi Turun-Temurun yang Sarat Nilai Kebersamaan
Salah satu prosesi yang menarik perhatian mahasiswa adalah tawu balong, yaitu kegiatan menguras kolam di kawasan makam keramat Mbah Buyut Tambi. Saat mahasiswa PLP mengunjungi lokasi pada 9 Oktober 2026, proses pengurasan kolam masih berlangsung sebagai bagian dari rangkaian tradisi masyarakat Desa Tambi.
Prosesi tersebut dilakukan secara gotong royong dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat setempat, tawu balong tidak sekadar menjadi aktivitas menguras kolam, tetapi juga bagian dari tradisi yang menyatukan warga dalam menjalankan kebiasaan leluhur.
Berdasarkan keterangan masyarakat sekitar, setelah air kolam surut, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan ikan. Menurut aturan adat yang berkembang di masyarakat, ikan berukuran besar dipercaya hanya boleh diambil oleh keturunan Mbah Buyut Tambi atau pihak yang memiliki kewenangan sebagai juru kunci. Sementara itu, ikan berukuran kecil dinikmati bersama oleh warga sebagai bagian dari kebersamaan dan silaturahmi.
Masyarakat juga mengenal prosesi pengambilan air dari sumur besar menggunakan kendi yang dibawa oleh perempuan yang belum menikah. Prosesi tersebut menjadi salah satu unsur adat yang menyertai rangkaian kegiatan Unjung Buyut Tambi.
Berbagai kepercayaan yang menyertai tradisi ini merupakan bagian dari cerita dan keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat. Bagi mahasiswa, mengenal tradisi tersebut menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana nilai, aturan adat, dan praktik budaya diwariskan serta dipertahankan oleh komunitas lokal.
Mahasiswa PLP Belajar Memahami Warisan Budaya Masyarakat
Kunjungan ke tradisi Unjung Buyut Tambi memberikan pengalaman belajar di luar lingkungan sekolah bagi mahasiswa PLP UIN Siber Cirebon. Melalui pengamatan langsung, mahasiswa dapat mengenal bentuk kearifan lokal sekaligus memahami peran tradisi dalam menjaga hubungan sosial dan identitas masyarakat.
Nilai gotong royong terlihat dalam keterlibatan warga saat menguras kolam, sedangkan nilai kebersamaan tercermin dalam kegiatan menikmati hasil tangkapan ikan. Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi sarana untuk memperkuat interaksi sosial dan menjaga hubungan antargenerasi.
Pengalaman ini juga relevan dengan proses pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Interaksi dengan masyarakat memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman mengenai kehidupan sosial, keberagaman budaya, serta pentingnya menghargai nilai-nilai lokal.
Pelestarian Tradisi Sejalan dengan Pendidikan Berkualitas
Unjung Buyut Tambi juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui pembelajaran sepanjang hayat dan pengenalan pengetahuan budaya lokal. Tradisi masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang memperkaya wawasan mahasiswa tentang sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.
Selain itu, pelestarian tradisi ini sejalan dengan SDG 11, yaitu Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam upaya menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas komunitas.
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa PLP UIN Siber Cirebon diharapkan semakin memahami pentingnya menghargai dan melestarikan kearifan lokal. Unjung Buyut Tambi menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak hanya tersimpan dalam cerita masa lalu, tetapi terus hidup melalui praktik budaya, gotong royong, dan kebersamaan masyarakat Desa Tambi.


