UIN Siber Cirebon – Himpunan Mahasiswa Ilmu Hadis (HIMA-ILHA), Fakultas Ushuluddin dan Adab, Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan Opening Ceremony Muhadditsin Fest XI pada Senin, 19 Oktober 2026, di Auditorium Rektorat. Mengusung tema “Mencetak Generasi Muhadditsin yang Berwawasan Global, Berkarakter Bangsa di Era Digital”, kegiatan ini menjadi momentum peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-11 Jurusan Ilmu Hadis sekaligus penguatan kapasitas akademik mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan global.
Melalui seminar yang menghadirkan pemateri dengan latar belakang keilmuan dari Indonesia, Mesir, dan Yaman, peserta diajak memperluas wawasan mengenai metodologi studi hadis, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta pentingnya menjaga otoritas keilmuan Islam di tengah derasnya arus informasi digital.
Harlah ke-11 Jadi Momentum Penguatan Keilmuan dan Karakter

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Pelaksana Muhadditsin Fest XI, Zahra Choirunnisa Anwar, yang menekankan pentingnya tema kegiatan bagi mahasiswa Islam dalam menghadapi tantangan global dan era digital. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Ketua Umum HIMA-ILHA, Tobri Riansyah, yang berharap peringatan Harlah ke-11 menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas mahasiswa, memperluas wawasan global, serta memperkuat kemampuan menghadapi disinformasi tanpa meninggalkan identitas kebangsaan Indonesia.
Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Naeila Rifatil Muna, M.Pd.I., turut menyampaikan apresiasi atas pencapaian akreditasi unggul Jurusan Ilmu Hadis. Ia menekankan pentingnya pengembangan keilmuan yang diimbangi kemampuan berorganisasi, kerja sama, pembentukan karakter, kesantunan, dan profesionalisme.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi akademik, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan yang baik, bekerja sama, dan menunjukkan sikap profesional dalam berbagai lingkungan.
Penguatan aspek tersebut diharapkan dapat membentuk mahasiswa yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter kuat dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial dan perkembangan zaman.
Bahas AI sebagai Peluang dan Tantangan Kajian Hadis
Materi pertama disampaikan oleh Alwi Bani Rakhman, S.Th.I., M.H.I., Sekretaris Jurusan Ilmu Hadis, dengan tema “Otoritas Artificial Intelligence (AI): Antara Berkah dan Petaka Ilmiah”. Materi ini membahas peluang pemanfaatan AI dalam pencarian, pemahaman, dan analisis sumber-sumber keislaman, sekaligus risiko ketidakakuratan informasi dan kekeliruan dalam memahami teks agama.
AI dapat membantu mahasiswa mengakses informasi dan mendukung proses penelitian. Namun, penggunaannya tetap memerlukan sikap kritis, terutama ketika berhadapan dengan sumber keagamaan yang membutuhkan ketelitian metodologis dan verifikasi ilmiah.
“AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti otoritas ulama dan keilmuan hadis.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi kemampuan memeriksa kebenaran informasi. Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan hasil pencarian digital, tetapi juga perlu melakukan verifikasi melalui sumber primer dan metode penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar kajian hadis.
Pemateri dari Mesir dan Yaman Perkaya Wawasan Studi Hadis
Materi kedua disampaikan oleh Saeful Luthfy, Lc., M.A., mahasiswa program doktoral Universitas Al-Azhar, Mesir, dengan tema “Metodologi Studi Hadis di Al-Azhar Al-Syarif Mesir”. Pembahasan mencakup kajian sanad dan matan, ilmu jarh wa ta’dil, kritik kualitas hadis, penggunaan kitab-kitab klasik, serta metode syarah hadis.
Penguasaan tradisi keilmuan Islam atau turats, ketelitian ilmiah, dan sikap moderat menjadi unsur penting dalam memahami hadis secara bertanggung jawab. Landasan metodologi yang kuat memungkinkan kajian hadis terus dikembangkan agar relevan dengan persoalan kontemporer tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam.
Sementara itu, Salman Hadi, mahasiswa S1 Universitas Al-Ahgaff, Yaman, menyampaikan materi tentang pentingnya memahami hadis secara komprehensif dengan memperhatikan validitas sanad dan matan serta metode kritik hadis. Pemahaman tersebut juga perlu mempertimbangkan latar belakang historis, sosial, dan budaya agar pesan hadis dapat dipahami secara tepat.
Kajian hadis memiliki relevansi dalam merespons berbagai tantangan masyarakat modern, mulai dari krisis moral, radikalisme, intoleransi, hingga perubahan sosial yang dipengaruhi perkembangan teknologi digital. Karena itu, penguasaan metodologi keilmuan perlu berjalan seiring dengan kemampuan memahami konteks kehidupan masyarakat.
Kedua pemaparan tersebut memperkaya perspektif peserta mengenai pentingnya menggabungkan ketelitian metodologis dengan pemahaman konteks. Mahasiswa didorong untuk mengembangkan kajian hadis yang kritis, akademis, dan moderat tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
Diskusi Perkuat Sikap Kritis dan Wawasan Global Mahasiswa
Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai metodologi studi hadis, pemanfaatan AI, dan tantangan pengembangan keilmuan Islam di era digital.
Sesi diskusi menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai peran mahasiswa Ilmu Hadis dalam menghadapi disinformasi dan perubahan sosial. Mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga menelaah sumber, menguji validitas informasi, dan menyampaikan pemahaman keagamaan secara bertanggung jawab.
Generasi muhadditsin masa kini perlu memiliki wawasan global dengan tetap berpegang pada metodologi keilmuan yang kuat, karakter kebangsaan, dan sikap moderat. Kemampuan tersebut penting untuk menjaga kualitas kajian hadis sekaligus memastikan kontribusinya tetap relevan bagi masyarakat.
Cetak Generasi Muhadditsin yang Adaptif dan Bertanggung Jawab
Muhadditsin Fest XI diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial peringatan Harlah ke-11 Jurusan Ilmu Hadis, tetapi menjadi ruang pengembangan keilmuan, pertukaran gagasan, dan pembentukan karakter mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, HIMA-ILHA dan Jurusan Ilmu Hadis mendorong lahirnya generasi yang mampu mengembangkan kajian hadis secara kritis, akademis, dan moderat. Penguasaan metodologi keilmuan, kemampuan menghadapi perkembangan teknologi, serta penguatan karakter kebangsaan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menjawab tantangan zaman.
Dengan wawasan yang luas dan penggunaan teknologi secara bijak, mahasiswa Ilmu Hadis diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.


