UIN Siber Cirebon (Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia) — Bagaimana kenaikan harga kebutuhan masyarakat memengaruhi kinerja bank syariah? Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Mutadi, mahasiswa Program Doktor (S3) Ekonomi Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, saat mempresentasikan risetnya di hadapan akademisi Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Selasa (29/9/2026).
Dalam forum akademik tersebut, Mutadi memaparkan penelitian berjudul “Pengaruh Kenaikan Indeks Harga Konsumen dan Inflasi terhadap Profitabilitas Bank Syariah”. Penelitian ini sebelumnya merupakan karya pada Program Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2012.
Riset tersebut mengkaji bagaimana kondisi ekonomi makro, khususnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi, serta sejumlah faktor internal bank memengaruhi profitabilitas bank umum syariah di Indonesia.
Kenaikan Harga Berpengaruh terhadap Profitabilitas
Bank syariah memiliki karakteristik berbeda dengan bank konvensional, salah satunya melalui mekanisme bagi hasil dalam kegiatan pembiayaan. Karena itu, perubahan kondisi ekonomi dan kenaikan harga dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap kinerja bank syariah.
Penelitian Mutadi menggunakan Return on Assets (ROA) sebagai indikator profitabilitas. Sementara itu, faktor internal yang dianalisis meliputi BOPO, CAR, NPF, dan FDR, ditambah kenaikan IHK serta inflasi.
Data yang digunakan merupakan data sekunder periode 2004–2010 yang bersumber dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda atau Ordinary Least Squares (OLS) dengan variabel dummy tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BOPO dan FDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. Sementara itu, CAR dan NPF tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas.
Temuan menarik terlihat pada variabel IHK. Kenaikan IHK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, dengan koefisien β = −0,405 dan nilai p = 0,002.
Artinya, dalam model penelitian tersebut, peningkatan tingkat harga konsumen berkaitan dengan penurunan profitabilitas bank syariah.
Sebaliknya, inflasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap ROA, dengan koefisien β = −0,023 dan p = 0,641.
Efisiensi Operasional Jadi Perhatian
Secara keseluruhan, model penelitian mampu menjelaskan sekitar 92,3 persen variasi ROA. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi faktor internal bank dan kondisi ekonomi makro dalam model memiliki kemampuan penjelasan yang kuat terhadap perubahan profitabilitas selama periode penelitian.
Dari sisi internal, efisiensi operasional menjadi salah satu perhatian penting. BOPO yang berpengaruh negatif signifikan menunjukkan bahwa peningkatan beban operasional relatif terhadap pendapatan dapat menekan profitabilitas bank.
Temuan tersebut memberikan pesan praktis bagi pengelolaan bank syariah. Efisiensi biaya perlu menjadi bagian penting dalam strategi mempertahankan kinerja, terutama ketika masyarakat menghadapi kenaikan harga.
Riset yang Tetap Relevan untuk Dikembangkan
Meskipun menggunakan data periode 2004–2010, penelitian ini membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara inflasi, harga konsumen, dan profitabilitas bank syariah.
Bagi pengembangan ekonomi syariah, riset semacam ini penting karena kinerja lembaga keuangan tidak berdiri sendiri. Perubahan harga, kondisi masyarakat, dan efisiensi internal bank saling berkaitan dalam membentuk kinerja industri perbankan.
Mutadi merekomendasikan agar manajemen bank syariah tidak hanya memperhatikan laju inflasi, tetapi juga mempertimbangkan risiko kenaikan harga dalam perencanaan pembiayaan dan pengelolaan biaya.
Presentasi di USIM menjadi bagian dari upaya mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon membawa kajian ekonomi syariah ke ruang akademik internasional. Dari data dan angka penelitian, muncul satu pesan sederhana: memahami perubahan ekonomi berarti memahami bagaimana perubahan tersebut akhirnya berdampak pada masyarakat dan keberlanjutan lembaga keuangan syariah.




