UIN Siber Cirebon – Percepatan transformasi digital membawa peluang sekaligus tantangan baru bagi perguruan tinggi. Ketergantungan pada data, sistem informasi, dan infrastruktur digital membuat pengelolaan risiko semakin penting untuk memastikan layanan akademik maupun tata kelola kelembagaan tetap berjalan secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi salah satu fokus Workshop Manajemen Risiko Terintegrasi yang dilaksanakan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan praktik penggunaan platform manajemen risiko berbasis digital yang mengacu pada ISO 31000:2018. Sesi yang dimoderatori Agil Fatkhurrahman, S.Akun. tersebut menghadirkan Riyanto, S.T., M.Kom. dan Slamet Pujijanto, S.Kom. sebagai narasumber.
Workshop ini menjadi ruang bagi perwakilan berbagai unit kerja di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk memperkuat pemahaman mengenai manajemen risiko sekaligus mengenal penerapannya secara praktis melalui sistem digital.
Menavigasi Risiko dalam Transformasi Menuju Cyber University
Mengangkat tema “Navigasi Ketidakpastian di Era Digital: Platform Manajemen Risiko Terintegrasi Berbasis ISO 31000:2018,” Riyanto menjelaskan bahwa transformasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menuju cyber university menghadirkan dinamika dan potensi risiko yang perlu dikelola secara sistematis.
Perubahan pola layanan, pemanfaatan teknologi, serta meningkatnya ketergantungan terhadap sistem digital membuat institusi perlu memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pencapaian tujuan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah perlindungan aset kritis institusi, terutama data akademik dan infrastruktur kampus, dari berbagai potensi ancaman siber. Manajemen risiko juga mendorong perubahan pola kerja dari pendekatan reaktif menjadi lebih proaktif.
Artinya, risiko perlu dikenali sejak awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Setiap unit kerja diharapkan dapat mengidentifikasi potensi risiko, menilai tingkat risikonya, kemudian menyiapkan langkah mitigasi yang sesuai dengan kondisi dan target masing-masing.
ISO 31000:2018 Bangun Pemahaman Risiko yang Seragam
Dalam pemaparannya, Riyanto menguraikan ISO 31000:2018 sebagai acuan untuk membangun bahasa dan pemahaman risiko yang lebih seragam di seluruh unit kerja.

Standar tersebut mencakup tiga pilar utama, yaitu prinsip, kerangka kerja, dan proses manajemen risiko. Ketiganya saling berkaitan dalam menciptakan dan melindungi nilai organisasi.
Prinsip manajemen risiko menjadi landasan dalam pengambilan keputusan. Kerangka kerja mendorong agar manajemen risiko terintegrasi dalam tata kelola organisasi dengan dukungan kepemimpinan. Sementara itu, proses manajemen risiko memastikan identifikasi, analisis, evaluasi, dan mitigasi dapat dilakukan secara sistematis serta berkelanjutan.
Penerapan manajemen risiko tidak hanya diarahkan untuk mengurangi potensi kerugian. Pengelolaan yang terstruktur juga dapat memberikan ruang bagi inovasi akademik dengan batas risiko yang terukur, sekaligus mendukung perlindungan reputasi, aset, mutu, dan kepatuhan institusi.
Platform Digital Integrasikan Pengelolaan Risiko
Sebagai bagian dari penerapan manajemen risiko secara lebih praktis, Riyanto memperkenalkan platform manajemen risiko terintegrasi yang dirancang untuk mendukung digitalisasi proses pengelolaan risiko di lingkungan universitas.
Melalui platform tersebut, penilaian risiko dari berbagai unit kerja dapat dikelola dalam satu ekosistem digital. Unit kerja dapat mengelola profil risiko secara lebih fleksibel, sementara institusi memiliki ruang pemantauan yang lebih terintegrasi untuk melihat perkembangan risiko secara menyeluruh.
Platform tersebut juga mendukung dokumentasi riwayat mitigasi sebagai jejak audit. Ketersediaan informasi secara terstruktur diharapkan dapat membantu proses monitoring dan evaluasi sekaligus mendukung kebutuhan tata kelola dan akreditasi institusi.
Dengan sistem yang terintegrasi, data risiko dapat ditempatkan sebagai bagian dari informasi kelembagaan yang membantu unit kerja dalam menentukan prioritas, mengalokasikan sumber daya, dan mendukung proses pengambilan keputusan.
Praktik Langsung, dari Identifikasi hingga Mitigasi
Setelah pemaparan materi, kegiatan berlanjut pada sesi praktik penggunaan platform yang dipandu Slamet Pujijanto, S.Kom. Peserta diajak mengenal alur pengelolaan risiko secara langsung, mulai dari identifikasi potensi kejadian yang dapat menghambat pencapaian target unit kerja.

Tahapan kemudian dilanjutkan dengan analisis berdasarkan probabilitas dan besaran dampak, evaluasi tingkat risiko, hingga penyusunan langkah mitigasi. Setiap langkah mitigasi dilengkapi dengan penanggung jawab dan target waktu penyelesaian sehingga tindak lanjut dapat dipantau secara lebih terukur.
Salah satu fitur yang diperkenalkan dalam praktik tersebut adalah real-time heatmap. Fitur ini membantu memvisualisasikan tingkat prioritas risiko berdasarkan hasil penilaian. Risiko dipetakan ke dalam zona hijau untuk tingkat rendah, zona kuning untuk tingkat sedang, dan zona merah untuk risiko ekstrem yang membutuhkan intervensi segera.
Pemetaan tersebut memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami mengenai posisi dan prioritas risiko pada masing-masing unit. Dengan demikian, perhatian dan sumber daya dapat diarahkan berdasarkan tingkat risiko serta kebutuhan penanganannya.
Membangun Budaya Sadar Risiko di Setiap Unit

Selama sesi praktik, peserta terlibat dalam diskusi, mengajukan pertanyaan, serta menghubungkan penggunaan platform dengan kondisi dan kebutuhan di unit kerja masing-masing. Interaksi tersebut menjadi bagian penting untuk menjembatani pemahaman konseptual dengan praktik pengelolaan risiko dalam pekerjaan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep manajemen risiko berbasis ISO 31000:2018, tetapi juga mampu memanfaatkan platform digital untuk mendukung proses identifikasi, penilaian, pemantauan, dan mitigasi risiko secara berkelanjutan.
Penerapan sistem tersebut menjadi salah satu langkah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam membangun budaya sadar risiko di seluruh unit kerja. Pengelolaan risiko yang didukung teknologi diharapkan dapat memperkuat tata kelola yang terukur, transparan, dan akuntabel.
Pada akhirnya, manajemen risiko tidak hanya menjadi mekanisme untuk merespons potensi masalah, tetapi menjadi bagian dari proses menjaga keberlangsungan layanan, mendukung pencapaian target kelembagaan, serta melindungi reputasi dan aset institusi. Langkah ini sekaligus mendukung perjalanan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam mewujudkan visi sebagai World Class Cyber University.
Kaitan dengan SDGs

Penguatan manajemen risiko dan digitalisasi tata kelola sejalan dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, terutama dalam mendorong tata kelola yang efektif, akuntabel, dan transparan. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam memahami serta menerapkan manajemen risiko berbasis teknologi juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan ekosistem perguruan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan digital.


