UIN Siber Cirebon (Kuningan) – Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mempelajari praktik pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan kotoran hewan (KOHE) menjadi pupuk organik di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Lamping Kidang, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, pada 7 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana potensi lokal dapat dikelola menjadi produk bernilai guna sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Mengolah KOHE Menjadi Pupuk Organik Bernilai Guna
Pengelolaan KOHE di Lamping Kidang menunjukkan upaya masyarakat dalam memanfaatkan limbah peternakan agar memiliki nilai tambah. Kotoran hewan yang berpotensi mencemari lingkungan diolah menjadi pupuk organik yang dikenal dengan nama Pupuk Gemuk. Produk ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan penghijauan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PPL yang sedang melaksanakan praktik di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) memperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan KOHE dan potensi pengembangannya. Nana, salah satu pihak yang terlibat dalam pengelolaan, menjadi bagian dari praktik masyarakat dalam mengolah potensi lokal tersebut.
Pengelolaan ini memperlihatkan bahwa limbah tidak selalu menjadi persoalan apabila ditangani dengan tepat. Melalui pengolahan yang berkelanjutan, KOHE dapat dimanfaatkan kembali sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membantu menjaga kebersihan lingkungan.
Memperluas Distribusi melalui Kolaborasi dan Digitalisasi
Pupuk Gemuk juga telah didistribusikan untuk mendukung berbagai kebutuhan. Pada 24 September 2026, sebanyak 100 karung KOHE dikemas untuk disalurkan ke Sangkanika. Selain itu, sejumlah kemasan berukuran tiga kilogram dibawa untuk mendukung kegiatan sosial penanaman pohon di Kesambi, Cirebon.
Pemanfaatan produk dalam kegiatan penghijauan memperlihatkan hubungan antara pengelolaan limbah, pemberdayaan masyarakat, dan upaya menjaga kelestarian alam. Produk yang dihasilkan tidak hanya berpotensi mendukung kebutuhan pertanian, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gerakan lingkungan yang melibatkan berbagai pihak.
Ke depan, digitalisasi dapat menjadi salah satu peluang untuk memperluas jangkauan distribusi Pupuk Gemuk. Pemanfaatan media digital dapat membantu memperkenalkan produk, menyampaikan informasi mengenai manfaatnya, serta menghubungkan pengelola dengan calon pengguna. Dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas pihak, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten, juga berpotensi memperkuat keberlanjutan pengelolaan tersebut.
Konservasi Berjalan Bersama Pemberdayaan Masyarakat
Yoesry Hilmy, S.Hut., penyuluh wilayah Cigugur BTNGC sekaligus dosen pamong, menekankan pentingnya menghubungkan pelestarian kawasan dengan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Kami tidak hanya bicara soal menjaga kawasan, tetapi bagaimana masyarakat juga bisa melihat bahwa potensi di sekitar kawasan dapat dikelola dengan baik. Ketika masyarakat terlibat dan merasakan manfaatnya, di situ konservasi bisa berjalan bersama dengan pemberdayaan,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan kawasan, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam mengelola potensi lokal secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.
Bagi mahasiswa PPL Program Studi PMI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, pengalaman ini menjadi pembelajaran nyata tentang pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana pengelolaan sumber daya, keterlibatan masyarakat, dan peluang inovasi saling berkaitan dalam membangun kegiatan yang berkelanjutan.
Praktik pengelolaan KOHE ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui pembelajaran lapangan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya pendekatan pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan potensi ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.


