UIN Siber Cirebon — Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN)—yang meliputi Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)—hari ini telah mengalami transformasi fundamental. PTKIN tidak lagi dapat dipahami secara sempit sebagai institusi pencetak ahli agama semata. Stigma lama tersebut sudah tidak relevan dengan realitas perkembangan PTKIN saat ini.
PTKIN telah bertransformasi menjadi pusat keilmuan yang inklusif, tempat bertemunya nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan modern, sains, teknologi, dan kemanusiaan. Transformasi ini bukanlah bentuk pengingkaran terhadap identitas keislaman, melainkan justru penguatannya dalam konteks peradaban global.
PTKIN sebagai Pusat Peradaban dan Sains
Dalam sejarah Islam, ilmu agama dan ilmu umum tidak pernah dipisahkan. Ulama klasik adalah ilmuwan, dan ilmuwan adalah penjaga nilai. Spirit inilah yang kini dihidupkan kembali oleh PTKIN. Melalui integrasi keilmuan, PTKIN hadir sebagai kawah candradimuka generasi unggul yang menguasai ilmu keislaman, sains sosial, dan sains teknologi secara seimbang.
PTKIN berperan sebagai pusat peradaban yang ilmiah dan moderat—melahirkan insan akademik yang kritis, berakhlak, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa. Inilah wajah pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman.
Keberagaman Program Studi sebagai Keniscayaan Zaman
Khususnya pada UIN, transformasi kelembagaan telah melahirkan keberagaman program studi. Saat ini, PTKIN tidak hanya menyelenggarakan studi keagamaan, tetapi juga program-program strategis seperti Psikologi, Ekonomi Syariah, Manajemen, Teknik, Kedokteran, Sastra Inggris, hingga ilmu-ilmu digital dan teknologi informasi.
Keberagaman ini merupakan respons atas kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang semakin kompleks. Lulusan PTKIN dipersiapkan tidak hanya untuk sektor keagamaan, tetapi juga untuk berkiprah di dunia industri, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan teknologi.
Inklusivitas: PTKIN untuk Semua
Salah satu kekuatan utama PTKIN adalah sifatnya yang inklusif dan terbuka. Kementerian Agama RI telah menegaskan bahwa PTKIN merupakan ruang akademik yang ramah bagi semua warga negara. Pelajar non-muslim diperbolehkan mendaftar dan belajar di PTKIN, termasuk melalui jalur seleksi nasional seperti UM-PTKIN, dengan ketentuan dan peraturan akademik yang berlaku.
Inklusivitas ini adalah manifestasi nilai Islam rahmatan lil ‘alamin—Islam yang menghadirkan kedamaian, penghormatan, dan kemanusiaan universal. Kampus PTKIN menjadi ruang dialog, kolaborasi, dan pembelajaran lintas latar belakang dalam bingkai saling menghargai.
Menuju Internasionalisasi Pendidikan Tinggi
Transformasi PTKIN juga diarahkan pada internasionalisasi pendidikan. Upaya menuju World Class University dilakukan melalui penguatan riset, publikasi ilmiah bereputasi internasional, kolaborasi global, serta peningkatan kualitas dosen dan tata kelola kelembagaan.
PTKIN hari ini tidak hanya berbicara pada level nasional, tetapi juga mengambil peran dalam diskursus akademik global, khususnya dalam isu-isu Islam moderat, perdamaian, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Seleksi Berbasis Kompetensi, Bukan Stigma
Melalui skema seleksi seperti SPAN-PTKIN dan UM-PTKIN, proses penerimaan mahasiswa baru tidak lagi menitikberatkan semata pada kemampuan agama, tetapi juga pada potensi akademik, literasi sains, logika, dan kemampuan berpikir kritis. Ini menegaskan bahwa PTKIN mencari calon mahasiswa yang siap tumbuh menjadi insan pembelajar yang unggul dan adaptif.
Penutup
PTKIN hari ini adalah “rumah besar” peradaban, tempat nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan modern tumbuh dalam harmoni. Ia menyiapkan pemimpin masa depan yang kompeten di berbagai sektor—keagamaan, sosial, ekonomi, teknologi, dan kebangsaan.
Transformasi PTKIN bukan sekadar perubahan nomenklatur atau penambahan program studi, tetapi ikhtiar peradaban untuk menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang relevan, inklusif, dan berdaya saing global. Inilah PTKIN masa kini dan masa depan.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


