UIN Siber Cirebon — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan fondasi penting dalam membangun pendidikan yang humanis, inklusif, dan berkarakter. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi pada Kegiatan Pembekalan Tahap I Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, yang diikuti oleh kepala madrasah dan perwakilan guru dari delapan madrasah piloting di Kota dan Kabupaten Cirebon.
Sebagai PTKIN satu-satunya di Indonesia yang berbasis digital dan dikenal sebagai Cyber Islamic University, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus berkomitmen mendukung program prioritas Kementerian Agama RI, salah satunya melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan.
Dalam paparannya, Prof. Aan Jaelani menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta adalah pendekatan pendidikan humanis yang diluncurkan Kementerian Agama RI untuk menanamkan nilai cinta, empati, toleransi, dan kasih sayang dalam seluruh proses pembelajaran di madrasah.
“Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar dokumen akademik, tetapi cara pandang baru dalam mendidik. Pendidikan harus dimulai dari cinta, dijalankan dengan cinta, dan menghasilkan pribadi yang penuh cinta,” tegas Prof. Aan.(26/01/26).
Panca Cinta sebagai Fondasi Karakter
Lebih lanjut, Prof. Aan memaparkan bahwa KBC bertumpu pada lima nilai utama yang dikenal sebagai Panca Cinta, yakni:
- Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya,
- Cinta terhadap ilmu pengetahuan,
- Cinta terhadap lingkungan,
- Cinta kepada diri sendiri dan sesama,
- Cinta kepada tanah air.
Kelima nilai tersebut diharapkan menjadi ruh dalam proses pembelajaran, sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi afektif dan spiritual peserta didik.
“Dengan Panca Cinta, madrasah tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial,” ujarnya.
Cegah Perundungan, Perkuat Relasi Guru dan Murid
Menurut Prof. Aan, penerapan KBC juga memiliki tujuan strategis untuk mencegah perundungan (bullying) serta membangun relasi guru dan murid yang lebih bermakna. Guru diharapkan hadir sebagai figur teladan, bukan sekadar pengajar, tetapi juga pendidik yang menanamkan nilai melalui keteladanan sikap dan perilaku.
Kurikulum Berbasis Cinta diterapkan di seluruh jenjang madrasah—MIN, MTs, hingga MAN—dengan pendekatan deep learning yang dilandasi keikhlasan dan kesadaran nilai.
Didukung Landasan Hukum dan Program Prioritas Kemenag
Sebagai program resmi nasional, KBC telah memiliki landasan hukum melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025. Kurikulum ini juga sejalan dengan Asta Program Prioritas (Asta Protas) Kementerian Agama RI, khususnya dalam peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan kerukunan.
Kegiatan pembekalan ini diikuti oleh delapan madrasah piloting, terdiri dari empat madrasah di Kota Cirebon dan empat madrasah di Kabupaten Cirebon, yakni: MIN 5 Cirebon, MIS Assunniyah 2, MIS Bit’tsanul Islamiyah, MIN 7 Cirebon, MIN 6 Cirebon, MIS Wathaniyah, MIS Nasyrul Ulum, dan MIS Miftahul Ulum.
Melalui implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, Prof. Aan Jaelani berharap madrasah dapat menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan membahagiakan, serta melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak, toleran, dan mencintai sesama serta bangsanya.


