UIN Siber Cirebon — Riset dosen dan mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menembus panggung akademik internasional. Penelitian yang menggabungkan pariwisata, biomedis, dan budaya resmi dinyatakan accepted dalam International Conference on Culture, Tourism, and Hospitality (ICCTH).(7/10/26).
Riset berjudul “Bridging Wellness and Medical Tourism: A Practical Framework for Safe and Culturally Grounded Destination Experiences” tersebut dinyatakan diterima setelah melalui proses penilaian tim reviewer internasional.
Kabar penerimaan disampaikan langsung oleh Prof. Cihan Cobanoglu, Ph.D., selaku Conference Chair ICCTH sekaligus Provost Virscend University, melalui surat elektronik.
Capaian ini menjadi kabar penting bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Sebab, riset tersebut tidak hanya mempertemukan dua disiplin ilmu yang berbeda, tetapi juga melibatkan mahasiswa dalam proses penelitian yang berorientasi pada isu global.
Bukan Sekadar Wisata, Tapi Harus Aman dan Berbasis Sains
Penelitian ini menawarkan gagasan tentang bagaimana wellness tourism dan medical tourism dapat dikembangkan dalam sebuah pengalaman destinasi yang aman, berkualitas, sekaligus tetap berakar pada budaya lokal.
Konsep tersebut menjadi relevan ketika wisata kesehatan semakin berkembang dan wisatawan tidak hanya mencari destinasi menarik, tetapi juga membutuhkan layanan yang aman dan dapat dipercaya.
Di sinilah pendekatan lintas disiplin menjadi kekuatan utama penelitian.
Perspektif Pariwisata digunakan untuk melihat pengalaman wisatawan, hospitality, serta pengelolaan destinasi. Sementara perspektif Biomedis memberikan landasan ilmiah terhadap aspek kesehatan dan keamanan medis.
Keduanya kemudian dipertemukan dengan dimensi budaya agar pengembangan destinasi tidak kehilangan karakter lokal.
Dengan pendekatan tersebut, wisata kesehatan tidak dipandang hanya sebagai aktivitas perjalanan, tetapi sebagai ekosistem yang harus memperhatikan keselamatan, kualitas layanan, pengalaman wisatawan, ilmu kesehatan, dan nilai budaya.
Dua Dosen, Satu Mahasiswa
Riset ini dikerjakan oleh tiga penulis dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Mereka adalah Bagaskoro Rasyid Wicaksono, S.Par., M.Sc., dosen Pariwisata sekaligus penulis utama; Mardhah Sastri Utami, S.Si., M.Biomed., dosen Bioteknologi dengan latar belakang pendidikan Biomedis sebagai penulis kedua; serta Rizki Laeli Ramadhani, mahasiswi Pariwisata sebagai penulis ketiga.
Keterlibatan Rizki menjadi salah satu poin menarik dari capaian tersebut. Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima materi pembelajaran, tetapi ikut berada dalam proses menghasilkan pengetahuan bersama dosen.
Rizki mengaku pengalaman tersebut memberikan motivasi besar untuk terus mengembangkan kemampuan riset.
“Pengalaman ini sangat berharga bagi saya. Bisa terlibat langsung dalam riset lintas disiplin bersama para dosen dan melihat gagasan kami diterima di ajang internasional seperti ICCTH memberikan motivasi besar,” ujar Rizki.
Ia menilai capaian tersebut membuktikan mahasiswa Pariwisata UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dan menyumbangkan gagasan di tingkat global.
Dari Cirebon, Menjawab Isu Global
Diterimanya riset tersebut di ICCTH menunjukkan bahwa gagasan akademik yang lahir dari Cirebon dapat masuk dalam percakapan ilmiah internasional.
Lebih jauh, penelitian ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Pariwisata membutuhkan perspektif kesehatan. Kesehatan membutuhkan pendekatan pelayanan dan pengalaman manusia. Sementara pengembangan destinasi tetap membutuhkan pemahaman terhadap budaya dan masyarakat lokal.
Karena itu, riset ini tidak berhenti pada pencapaian accepted di konferensi internasional. Ia membawa pesan yang lebih besar: ilmu pengetahuan akan semakin kuat ketika batas antarbidang ilmu dibuka untuk saling melengkapi.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, capaian ini menjadi dorongan untuk terus memperkuat budaya riset, memperluas kolaborasi internasional, dan memberi ruang lebih besar bagi mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian.
Dari Cirebon, gagasan tentang wisata kesehatan yang aman, berbasis sains, dan berakar pada budaya kini melangkah ke panggung akademik dunia.





