UIN Siber Cirebon – Sepuluh tahun perjalanan Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menjadi momentum untuk memperkuat kembali ruang belajar, apresiasi, dan kreativitas di bidang bahasa serta sastra Arab melalui FESTRAB ASEAN 2026. Menggabungkan seminar nasional dan berbagai perlombaan, kegiatan ini resmi dibuka pada 16 September 2026 di Auditorium Siber dan dilaksanakan secara daring maupun luring.
Grand Opening FESTRAB ASEAN 2026 turut dihadiri sejumlah tamu undangan, di antaranya Anton Rachdiat, M.Kom., S.Kom., Penelaah Teknis Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Jawa Barat; Muchamad Nidzom, S.Ag., M.Pd.I., Kepala Seksi Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Cirebon; Kompol Erwinsyah Putra Rambe, S.H., M.M., Kasat Intelkam Polresta Cirebon; Anwar Sanusi, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA); Erfan Ghazali, M.Si., Ketua Jurusan BSA; serta Niha Nurfaticha, Ketua Umum HIMABSA periode 2026–2027.
Satu Dekade BSA, Momentum Refleksi dan Penguatan
Perayaan satu dekade Jurusan BSA ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan dan perkembangan jurusan selama sepuluh tahun. Momentum tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan berbagai proses yang telah dilalui sekaligus melihat peluang pengembangan bahasa dan sastra Arab di masa mendatang.
Kehadiran Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab, Anwar Sanusi, M.Ag., dalam rangkaian kegiatan turut menegaskan dukungan fakultas terhadap penyelenggaraan kegiatan akademik dan kemahasiswaan yang mengembangkan potensi mahasiswa BSA.
Dukungan tersebut hadir dalam konteks bahwa kegiatan seperti FESTRAB tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan, memperluas wawasan, serta menunjukkan kreativitas melalui bahasa dan sastra Arab.
Bagi Jurusan BSA, perayaan satu dekade menjadi momentum untuk melihat perjalanan yang telah dibangun. Sementara bagi mahasiswa, FESTRAB menjadi ruang untuk menerjemahkan pembelajaran bahasa Arab ke dalam pengalaman akademik, seni, dan kompetisi.
Pada kesempatan yang sama, FESTRAB ASEAN 2026 secara resmi dibuka oleh Anton Rachdiat bersama para tamu undangan yang hadir.
Sastra Arab dan Jejak Kebudayaan Nusantara
Rangkaian Grand Opening kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional bertema “Bahasa: Menjadikan Sastra sebagai Sarana Pembentukan Malakah Lughawiyah.”
Seminar menghadirkan dua pemateri, yakni Acep Zamzam Noor, Sastrawan Nasional, dan Baequni M. Haririe, Sastrawan dan Seniman Cirebon. Diskusi dipandu oleh Wulandari, M.A., Hum.
Dalam pemaparannya, Acep Zamzam Noor mengajak peserta melihat sastra Arab dalam konteks yang lebih luas, terutama kaitannya dengan perjalanan kebudayaan masyarakat Nusantara.
“Saya memahami sastra Arab sebagai kultural yang ada dari kita kecil hingga sekarang. Lahirnya Indonesia atau Nusantara ini tidak terlepas dari peranan sastra Arab,” ujar Acep Zamzam Noor.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran sastra tidak hanya berkaitan dengan teks dan teori, tetapi juga dapat menjadi pintu untuk memahami perjalanan budaya dan hubungan historis yang berkembang di tengah masyarakat.
Bagi mahasiswa dan peserta seminar, pembahasan tersebut membuka perspektif bahwa bahasa dan sastra Arab dapat dipelajari melalui berbagai pendekatan, termasuk melalui konteks kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Nusantara.
Memahami Malakah Lughawiyah sebagai Kebiasaan Berbahasa
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep malakah lughawiyah yang disampaikan Baequni M. Haririe. Ia mengajak peserta membedakan antara sekadar mampu berbahasa Arab dengan kemampuan yang telah menjadi kebiasaan.
“Jadi, apakah orang yang bisa berbahasa Arab secara otomatis dia sudah malakah? Ternyata tidak. Dari referensi yang saya temui, masih banyak hal yang perlu diperhatikan,” jelas Baequni.
Menurut pandangannya, malakah dapat dipahami sebagai sebuah kebiasaan yang terbentuk melalui proses penggunaan bahasa secara terus-menerus.
“Dalam pengetahuan menuju malakah ini, saya mengartikan malakah sebagai ‘kebiasaan’. Untuk mencapai malakah, seseorang sudah tidak lagi terganggu dengan mubtada’ dan khabar, isim, fa’il, atau lainnya,” lanjutnya.
Ia kemudian memberikan analogi yang lebih dekat dengan keseharian peserta.
“Jadi, secara otomatis dia sudah terbiasa atau dalam bahasa Cirebon bisa disebut ‘latah’,” ujarnya.
Pembahasan tersebut memberikan gambaran bahwa penguasaan bahasa membutuhkan proses yang tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga pembiasaan hingga penggunaan bahasa dapat berlangsung secara lebih natural.
Dari Seminar ke Kompetisi Bahasa dan Seni Arab
Semangat FESTRAB ASEAN 2026 kemudian diteruskan melalui berbagai perlombaan yang dilaksanakan secara luring. Cabang yang diselenggarakan meliputi Khitobah kategori pelajar, Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK), Ghina Aroby, dan Kaligrafi.
Keberagaman cabang tersebut menghadirkan berbagai bentuk ekspresi bahasa dan sastra Arab. Peserta tidak hanya ditantang menunjukkan kemampuan berbahasa, tetapi juga kreativitas dalam menyampaikan gagasan, membaca literatur keislaman, bernyanyi dalam bahasa Arab, hingga menuangkan keindahan aksara melalui kaligrafi.
Rangkaian ini sekaligus memperluas ruang aktualisasi mahasiswa dan peserta untuk mengembangkan kemampuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
Dukungan FUA untuk Ruang Tumbuh Mahasiswa
Bagi Fakultas Ushuluddin dan Adab, kegiatan yang digagas Jurusan BSA bersama HIMABSA menjadi bagian dari ekosistem akademik yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang di luar pembelajaran kelas.
Kehadiran Dekan FUA, Anwar Sanusi, M.Ag., bersama jajaran dan tamu undangan dalam momentum satu dekade tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan kegiatan akademik dan kreativitas mahasiswa.
FESTRAB ASEAN 2026 juga memperlihatkan bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra dapat dikembangkan melalui berbagai medium. Seminar menghadirkan perspektif akademik dan kebudayaan, sementara perlombaan memberikan ruang praktik bagi peserta untuk mengaktualisasikan kemampuan mereka.
Dengan demikian, perayaan satu dekade BSA tidak hanya menjadi penanda usia perjalanan jurusan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem pembelajaran bahasa dan sastra Arab yang kreatif, kontekstual, dan terbuka terhadap perkembangan zaman.
Menjaga Bahasa, Menghidupkan Sastra
FESTRAB ASEAN 2026 menjadi bagian dari perjalanan Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkenalkan, mengembangkan, dan mengapresiasi bahasa serta sastra Arab.
Sepuluh tahun perjalanan BSA dirayakan melalui ruang yang mempertemukan gagasan, kebudayaan, pembelajaran, dan kreativitas. Seminar nasional memberikan ruang untuk memperluas perspektif, sedangkan kompetisi menghadirkan kesempatan bagi peserta untuk mempraktikkan kemampuan secara langsung.
Momentum tersebut sekaligus menunjukkan bahwa bahasa dan sastra dapat terus dihidupkan melalui generasi muda—dipelajari di ruang akademik, dipraktikkan dalam kegiatan kreatif, dan diapresiasi sebagai bagian dari kekayaan budaya.
Kaitan dengan SDGs

FESTRAB ASEAN 2026 relevan dengan SDG 4: Pendidikan Bermutu, melalui seminar dan perlombaan yang menyediakan ruang pembelajaran, pengembangan keterampilan, kreativitas, dan aktualisasi potensi peserta. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama melalui penguatan apresiasi terhadap bahasa, sastra, dan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakat.


