Cirebon — Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC) resmi meluncurkan dan menyosialisasikan aplikasi Elektronik Tugas Akhir (eTA) sebagai upaya digitalisasi total tata kelola akademik. Langkah ini diambil untuk menyeragamkan standar layanan serta mengatasi persoalan klasik dokumentasi tugas akhir mahasiswa yang selama ini dinilai belum terintegrasi.
Sosialisasi yang digelar oleh Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustikom) UIN SSC pada Rabu (5/3/2026) ini dilakukan secara daring melalui kanal Zoom Meeting dan siaran langsung. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pimpinan rektorat, dekanat, hingga tenaga kependidikan di lingkungan kampus siber pertama di Indonesia tersebut.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN SSC Dr. Ayus Ahmad Yusuf, M.Si., saat membuka acara menyatakan bahwa kehadiran aplikasi eTA merupakan respons nyata atas problem dokumentasi yang selama ini masih bersifat parsial dan manual.

Dr. Ayus Ahmad Yusuf, M.Si (Warek I) memberi sambutan sekaligus membuka kegiatan eTA secara daring via zoom meeting.
“Selama ini, penyimpanan hasil tugas akhir mahasiswa dari tahap awal hingga akhir belum terdokumentasi secara sistematik. Akibatnya, saat proses akreditasi, kita sering kesulitan mencari data terpadu seperti jumlah skripsi atau topik-topik tertentu,” ujar Ayus.
Ia juga menyoroti adanya ketimpangan layanan antar-fakultas dan pascasarjana. Menurut Ayus, perbedaan format dokumen fisik dan mekanisme pemantauan di tiap program studi sering kali menghambat efektivitas pengawasan akademik.
“Targetnya, awal semester ganjil mendatang, aplikasi eTA ini wajib digunakan oleh seluruh program studi. Kita harus segera merealisasikan ekosistem digitalisasi kampus yang transparan dan akuntabel,” tegasnya.
Satu Sistem untuk Semua
Kepala Pustikom UIN SSC Rianto, S.T., M.Kom., menjelaskan bahwa pengembangan eTA didasarkan pada riset kebutuhan pengguna (end-user) di lapangan. Aplikasi ini dirancang untuk mencakup seluruh perjalanan akademik mahasiswa, mulai dari jenjang S-1 hingga S-3.
“Aplikasi ini menjawab permohonan layanan yang kami terima. Di dalamnya mencakup manajemen proposal, ujian komprehensif, bimbingan daring sesuai arahan Rektor, hingga pelaksanaan munaqasah (sidang akhir),” kata Rianto.
Salah satu fitur unggulan dalam eTA adalah Dashboard Monitoring. Fitur ini memungkinkan ketua program studi memantau secara langsung status setiap mahasiswa—siapa yang sudah layak seminar proposal, siapa dosen pembimbingnya, hingga mendeteksi kendala komunikasi antara dosen dan mahasiswa.
Selain aspek akademik, eTA juga mengintegrasikan sistem manajemen keuangan. Data dari aplikasi akan digunakan secara otomatis oleh bagian umum untuk memproses pencairan honor pembimbing dan penguji, sehingga meminimalisasi kesalahan administratif.
“Kami juga melakukan standarisasi regulasi. Misalnya, perbedaan perlakuan seminar proposal antar-prodi kini diseragamkan dengan kode sistem agar semuanya terdata dengan baik,” tambah Rianto.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi simulasi teknis menggunakan data dari Program Studi S-1 Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Melalui digitalisasi ini, UIN SSC optimistis dapat menyediakan layanan yang lebih efektif, terdokumentasi, dan memiliki sistem peringatan dini (early warning system) untuk memantau masa studi mahasiswa secara presisi.



