UIN Siber Cirebon — Kebijakan yang disampaikan Menag Nasaruddin Umar tentang optimalisasi layanan publik Kementerian Agama di tengah penyesuaian ritme kerja melalui Work From Home (WFH) menegaskan satu hal penting: transformasi tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan, justru harus meningkatkannya.
Melalui penguatan digitalisasi, layanan publik dituntut tetap berjalan optimal, inklusif, dan responsif—dengan semangat “sat-set”, cepat dan tepat. Ini bukan sekadar jargon, tetapi arah baru dalam membangun budaya kerja yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Transformasi Cara Kerja: Dari Rutinitas ke Produktivitas
Penyesuaian ritme kerja melalui WFH merupakan bagian dari gerakan besar #KitaMulaiCaraBaru. Dalam perspektif ini, bekerja tidak lagi dibatasi oleh ruang, melainkan oleh komitmen terhadap hasil.
Bagi institusi pendidikan tinggi, khususnya Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, hal ini selaras dengan karakter sebagai kampus berbasis siber yang sejak awal telah mengedepankan sistem digital dalam pembelajaran dan layanan.
Namun demikian, transformasi ini menuntut kesiapan mental dan budaya kerja baru. Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang disiplin, tanggung jawab, dan integritas dalam bekerja.
Layanan Prima di Era Digital
Penegasan bahwa seluruh layanan publik harus tetap optimal menjadi pesan kunci. Tidak boleh ada penurunan kualitas hanya karena perubahan pola kerja.
Dosen harus memastikan pembelajaran tetap interaktif dan berkualitas. Tenaga kependidikan harus menjamin layanan administrasi tetap cepat dan akurat. ASN dan PPPK harus menjaga ritme kerja yang produktif dan responsif. Sementara itu, humas harus tetap hadir sebagai penghubung aktif antara kampus dan publik.
Digitalisasi membuka peluang besar untuk mempercepat layanan, tetapi juga menuntut konsistensi dalam menjaga kualitas interaksi.
Hemat Energi sebagai Etika Baru
Lebih jauh, kebijakan ini juga mengandung dimensi strategis: mendorong budaya hemat energi sebagai bagian dari kontribusi terhadap ketahanan nasional.
Dengan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat dan ketahanan energi yang memadai, kebiasaan efisiensi energi menjadi langkah preventif sekaligus investasi jangka panjang.
Bagi dunia kampus, ini bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi bagian dari pendidikan karakter—membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keberlanjutan.
Pernyataan Rektor: Saatnya Sivitas Akademika Bergerak Serentak
Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Aan Jaelani, menegaskan bahwa arah kebijakan ini harus direspons secara serius oleh seluruh sivitas akademika.
“Kebijakan WFH dan penguatan digitalisasi bukan sekadar perubahan teknis, tetapi transformasi budaya kerja. Kita dituntut untuk tetap produktif, responsif, dan menjaga kualitas layanan tanpa batas ruang,” ujarnya.
Ia juga memberikan penekanan khusus kepada seluruh elemen kampus, terutama yang berada di garis depan pelayanan.
“Saya mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan baik ASN maupun PPPK, serta tim humas untuk menjadikan momentum ini sebagai penguatan profesionalisme. Pastikan layanan kepada mahasiswa dan masyarakat tetap berjalan optimal, cepat, dan solutif,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rektor menyoroti pentingnya peran kampus dalam mendukung gerakan hemat energi.
“Kita tidak hanya bicara tentang kinerja, tetapi juga tanggung jawab terhadap masa depan. Membiasakan efisiensi energi adalah bagian dari kontribusi kita dalam menjaga ketahanan nasional dan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Menatap Masa Depan yang Lebih Adaptif
Apa yang digagas oleh Nasaruddin Umar adalah langkah maju dalam membangun sistem kerja yang lebih fleksibel, efisien, dan berkelanjutan. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada komitmen bersama.
Di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, transformasi ini adalah peluang untuk menunjukkan bahwa kampus mampu menjadi pelopor dalam implementasi kerja digital yang produktif sekaligus humanis.
Karena pada akhirnya, pelayanan terbaik bukan ditentukan oleh di mana kita bekerja, tetapi oleh bagaimana kita bekerja—dengan integritas, kecepatan, dan kepedulian.
Oleh: Aan Jaelani


