UIN Siber Cirebon (Kuningan) – Lima mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terlibat dalam pembelajaran langsung tentang konservasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), 4–19 September 2026.
Salah satu lokasi yang menjadi ruang belajar mereka adalah Lamping Kidang, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Di kawasan tersebut, mahasiswa melihat langsung upaya masyarakat mengatasi persoalan kotoran hewan (KOHE) dengan mengolahnya menjadi pupuk sekaligus mengembangkan potensi kawasan sebagai wisata edukasi.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi bagian dari praktik lapangan mahasiswa. Mereka juga belajar bagaimana persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan warga dapat ditangani melalui kolaborasi antara masyarakat, pengelola kawasan konservasi, dan penyuluh kehutanan.
Dari pengelolaan KOHE, mahasiswa menemukan gambaran nyata bahwa konservasi tidak selalu berarti membatasi aktivitas masyarakat. Sebaliknya, kawasan konservasi dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran lingkungan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Pendekatan inilah yang membuat Lamping Kidang menarik sebagai ruang pembelajaran. Limbah peternakan yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan mulai diarahkan menjadi sumber manfaat, sementara potensi alam dikembangkan sebagai bagian dari wisata dan edukasi masyarakat.
Mengubah Limbah Menjadi Pupuk
Populasi sapi di sekitar Cisantana membuat limbah ternak menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Jika tidak dikelola dengan baik, KOHE berpotensi mencemari lingkungan.
Namun, masyarakat bersama pengelola kawasan mulai mencari solusi. KOHE sapi diolah menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian.
Pengelolaan tersebut tidak berhenti pada persoalan limbah. Dari proses itu muncul gagasan untuk mengembangkan Lamping Kidang sebagai kawasan wisata sekaligus edukasi masyarakat.
Bagi mahasiswa PMI, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan masyarakat.
“Partisipasi aktif masyarakatlah yang menunjukkan bahwa pemberdayaan itu betul-betul ada. Dalam pengelolaannya, masyarakat bukan hanya sebagai subjek, tetapi juga menjadi bagian utama dalam penanganannya,” ujar Hamdan, salah satu mahasiswa PPL PMI.(21/9/26).
Konservasi dan Pemberdayaan Berjalan Bersama
Di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), pengelolaan kawasan dilakukan melalui pendekatan berbasis resort tematik yang kini menjadi perwilayahan.
Pengelolaan tersebut mencakup tiga ranah utama, yakni perlindungan kawasan, pengelolaan sumber daya dan ekosistem, serta pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam.
Ketiganya saling berkaitan. Kawasan tetap harus dijaga, tetapi masyarakat di sekitar kawasan juga perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.
Di sinilah peran penyuluh kehutanan menjadi penting. Penyuluh bukan hanya menyampaikan aturan konservasi, tetapi juga menjadi penghubung antara kepentingan kawasan dan kebutuhan masyarakat.
“Kami tidak hanya bicara soal menjaga kawasan, tetapi bagaimana masyarakat juga bisa melihat bahwa potensi di sekitar kawasan dapat dikelola dengan baik. Ketika masyarakat terlibat dan merasakan manfaatnya, di situ konservasi bisa berjalan bersama dengan pemberdayaan,” ujar penyuluh kehutanan BTNGC, Yoesry Hilmi, S.Hut.
Tantangan Pengelolaan KOHE
Pengelolaan KOHE masih menghadapi tantangan, terutama ketika musim hujan. Volume limbah yang meningkat membuat sistem penampungan harus mampu menyesuaikan kondisi.
“Masalah kohe sebetulnya masih terus perlu dorongan. Mungkin kalau musim kemarau masih bisa satu sampai dua tangki menampung selama seminggu, tapi kalau sudah musim hujan susah, karena limbahnya akan terus terbawa ke bawah,” kata Sakum, Badan Pengawas (BP) Lamping Kidang.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses yang berkelanjutan. Bukan hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga membangun kesadaran, kapasitas, dan partisipasi masyarakat.
Dari Limbah Menjadi Edukasi
Kini, pengelolaan KOHE menjadi bagian dari konsep Wisata Terpadu Lamping Kidang. Peternakan, pertanian sehat, pengelolaan limbah, dan wisata alam dipadukan menjadi satu pengalaman edukatif.
Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam Gunung Ciremai. Mereka juga dapat melihat bagaimana masyarakat mengelola persoalan lingkungan dan mengubahnya menjadi potensi.
“Dari limbah menjadi berkah,” tutur Jajang, peternak sapi perah.
Bagi lima mahasiswa PPL PMI UIN Siber Cirebon, Lamping Kidang menjadi pelajaran bahwa konservasi dan pemberdayaan masyarakat bukan dua hal yang harus dipisahkan.
Keduanya dapat berjalan bersama ketika masyarakat dilibatkan sejak awal dan persoalan nyata dibaca sebagai peluang perubahan.
Pada akhirnya, menjaga Gunung Ciremai bukan hanya tentang melindungi hutan. Lebih dari itu, konservasi juga tentang membangun hubungan yang sehat antara alam dan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Dari KOHE, mahasiswa belajar satu hal penting: persoalan lingkungan dapat menjadi awal lahirnya perubahan ketika masyarakat diberi ruang untuk terlibat, belajar, dan tumbuh bersama.





