UIN Siber Cirebon — Ramadan sering kita pahami sebagai bulan peningkatan ibadah personal: memperbanyak shalat, tilawah, sedekah, dan pengendalian diri. Namun sejatinya, Ramadan juga adalah bulan pembentukan peradaban. Ia tidak hanya mengasah hubungan vertikal kita kepada Allah SWT, tetapi juga menguji tanggung jawab horizontal kita terhadap sesama manusia—dan bahkan terhadap alam semesta.
Dalam Al-Qur’an, manusia ditegaskan sebagai khalifah fil ardh, pemimpin dan penjaga bumi. Amanah ini bukan metafora spiritual yang berhenti pada retorika khutbah. Ia adalah mandat etis yang konkret. Ketika hutan gundul, sungai tercemar, udara dipenuhi polusi, dan perubahan iklim mengancam keberlangsungan hidup, pertanyaannya bukan lagi sekadar ekologis—melainkan teologis: di mana letak tanggung jawab keimanan kita?
Di sinilah ekoteologi menemukan relevansinya.
Ekoteologi bukanlah konsep asing dalam Islam. Ia adalah pembacaan ulang terhadap ajaran tauhid yang menempatkan alam sebagai bagian dari ayat-ayat Allah. Jika setiap ciptaan adalah tanda kebesaran-Nya, maka merusaknya sama dengan mengabaikan tanda-tanda tersebut. Kerusakan lingkungan pada hakikatnya adalah refleksi dari krisis moral dan spiritual manusia—krisis keserakahan, krisis kesadaran batas, dan krisis tanggung jawab.
Ramadan mengajarkan kita untuk menahan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan hasrat konsumtif yang tak terkendali. Dalam konteks ekologi, puasa adalah latihan gaya hidup berkelanjutan. Ia menumbuhkan nilai qana’ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak berlebihan). Bukankah krisis lingkungan hari ini berakar pada budaya berlebihan?
Ironisnya, di bulan Ramadan justru sering terjadi lonjakan konsumsi dan produksi sampah. Meja-meja berbuka penuh dengan makanan yang tak habis, plastik sekali pakai menumpuk, dan energi terbuang sia-sia. Jika Ramadan hanya menjadi ritual tanpa perubahan perilaku, maka kita kehilangan esensinya.
Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memandang bahwa integrasi keilmuan dan keislaman tidak boleh berhenti pada diskursus akademik. Ia harus menjelma menjadi gerakan nyata. Kampus harus menjadi pelopor gerakan hijau: mengurangi sampah plastik, menghemat energi, mengelola limbah secara bijak, serta mengintegrasikan kesadaran ekologis dalam kurikulum dan budaya akademik.
Kita membutuhkan generasi sarjana Muslim yang tidak hanya unggul secara intelektual dan profesional, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis. Generasi yang memahami bahwa merusak alam berarti mengkhianati amanah Tuhan. Generasi yang sadar bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis saling berkaitan. Sebab kerusakan lingkungan selalu berdampak paling berat pada masyarakat yang paling rentan.
Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari membela kemanusiaan.
Ramadan 1447 Hijriah ini harus menjadi momentum perubahan paradigma. Kesalehan tidak lagi diukur hanya dari intensitas ibadah personal, tetapi juga dari kontribusi terhadap keberlanjutan kehidupan. Dari rumah, dari kampus, dari komunitas—kita bisa memulai langkah sederhana: mengurangi konsumsi berlebihan, memilih produk ramah lingkungan, menanam pohon, menghemat air dan listrik, serta membangun budaya sadar lingkungan.
Mencintai Allah berarti menjaga ciptaan-Nya. Mengabdi kepada Tuhan berarti memelihara bumi sebagai rumah bersama.
Semoga Ramadan ini melahirkan kesadaran baru dalam diri kita—bahwa spiritualitas sejati tidak pernah terpisah dari tanggung jawab ekologis. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang amanah dalam merawat bumi.
Oleh Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


