UIN Siber Cirebon — Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, kita kembali dipertemukan dengan Ramadan 1447 Hijriah—bulan turunnya Al-Qur’an, bulan di mana sejarah peradaban Islam dimulai dengan satu kata revolusioner: Iqra’. Bacalah.
Perintah ini bukan sekadar instruksi literasi. Ia adalah deklarasi peradaban. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama bukan perintah berperang, bukan pula perintah membangun kekuasaan, melainkan perintah membaca. Membaca teks, membaca realitas, membaca diri, dan membaca semesta. Di sinilah fondasi integrasi keilmuan dan keislaman diletakkan.
Islam sejak awal tidak mengenal dikotomi antara ilmu dan iman. Dalam sejarahnya, para ilmuwan Muslim adalah juga ulama; para ahli fikih memahami astronomi; para filosof mendalami tafsir dan hadis. Ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai ancaman bagi agama, tetapi sebagai jalan untuk semakin mengenal Allah SWT.
Namun modernitas membawa tantangan baru. Ilmu berkembang luar biasa cepat, tetapi sering terlepas dari jangkar moralnya. Sains menjadi sangat rasional, tetapi kadang kehilangan kebijaksanaan. Teknologi menjadi sangat canggih, tetapi tidak selalu berpihak pada kemanusiaan. Kita menyaksikan paradoks: kemajuan di satu sisi, kegelisahan eksistensial di sisi lain.
Di sinilah urgensi integrasi keilmuan dan keislaman.
Integrasi bukan berarti mencampuradukkan semua disiplin ilmu tanpa batas metodologis. Ia adalah dialog yang jujur dan konstruktif antara wahyu dan akal, antara teks dan konteks, antara tradisi dan inovasi. Sains tetap bekerja dengan metode ilmiahnya, tetapi diarahkan oleh nilai-nilai ilahiah. Teknologi terus berkembang, tetapi dituntun oleh etika. Kebijakan publik dirancang tidak hanya efektif, tetapi juga adil dan berkeadaban.
Sebagai Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, saya memandang integrasi ini bukan sekadar jargon akademik, melainkan komitmen institusional. Kampus harus menjadi ruang perjumpaan antara kedalaman spiritual dan ketajaman intelektual. Kurikulum harus melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga matang secara moral. Mahasiswa harus didorong untuk berpikir kritis tanpa kehilangan akhlak.
Ramadan memberikan pelajaran penting tentang keseimbangan. Puasa melatih kita mengendalikan diri agar akal dan nafsu berada dalam harmoni. Demikian pula ilmu dan iman. Ilmu tanpa iman berpotensi melahirkan kesombongan intelektual. Iman tanpa ilmu berisiko melahirkan fanatisme yang keliru. Keduanya harus berjalan beriringan.
Di era digital, kecerdasan buatan, dan kompleksitas global saat ini, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri memiliki tanggung jawab strategis. Kita tidak boleh tertinggal dalam penguasaan sains dan teknologi. Namun kita juga tidak boleh kehilangan identitas spiritual. Generasi Muslim masa depan harus mampu berbicara dalam bahasa data dan algoritma, sekaligus memahami nilai rahmatan lil ‘alamin.
Belajar harus dipandang sebagai ibadah. Riset harus dimaknai sebagai pengabdian. Ilmu harus diarahkan untuk kemaslahatan umat.
Ramadan 1447 Hijriah ini hendaknya menjadi momentum refleksi: sudahkah kita membaca zaman dengan kacamata iman? Sudahkah kita mengarahkan ilmu untuk kebaikan bersama? Sudahkah kampus-kampus kita benar-benar menjadi pusat integrasi antara wahyu dan rasio?
“Iqra” adalah panggilan yang tak pernah usai. Ia adalah mandat abadi bagi umat Islam untuk terus belajar, berpikir, dan berinovasi—tanpa tercerabut dari nilai-nilai ketuhanan.
Semoga Allah SWT memberkahi ikhtiar kita, menjadikan kita generasi berilmu yang rendah hati dan beriman yang cerdas, serta menuntun langkah kita membangun peradaban yang berkeadilan dan bermartabat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


