UIN Siber Cirebon — Ramadan selalu menghadirkan ruang perenungan. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi bulan penyucian hati—bulan di mana cinta menemukan maknanya yang paling jernih. Cinta kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam ketaatan, cinta kepada sesama yang diwujudkan dalam kepedulian, dan cinta kepada ilmu yang diwujudkan dalam kesungguhan belajar.
Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, cinta seharusnya tidak berhenti sebagai nilai personal. Ia harus menjelma menjadi fondasi sistem pendidikan itu sendiri. Di sinilah gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menemukan relevansinya.
Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan bagian dari Program Strategis (Protas) Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memperkuat transformasi pendidikan keagamaan yang humanis, moderat, dan berorientasi pada pembentukan karakter. KBC menjadi arah kebijakan yang menegaskan bahwa pendidikan Islam harus unggul secara akademik sekaligus kokoh dalam nilai.
Selama ini, pendidikan kerap dipahami sebagai proses transfer pengetahuan. Kampus diukur dari angka-angka: IPK, akreditasi, peringkat, publikasi. Semua itu penting. Namun ada pertanyaan mendasar yang sering terlewat: apakah pendidikan kita sudah benar-benar memanusiakan manusia?
Kurikulum Berbasis Cinta adalah jawaban atas kegelisahan itu.
Cinta dalam pendidikan bukanlah romantisme tanpa disiplin. Ia adalah komitmen moral untuk menghadirkan empati, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tanggung jawab etis dalam setiap proses pembelajaran. Pendidikan tidak boleh melahirkan generasi yang cerdas tetapi kering nurani. Ia harus melahirkan insan berilmu yang berakhlak.
Rasulullah SAW membangun generasi terbaik bukan dengan tekanan dan ketakutan, tetapi dengan keteladanan dan kasih sayang. Beliau memahami potensi setiap sahabat, menghargai perbedaan karakter, dan membimbing dengan hikmah. Inilah model pedagogi Islam yang autentik—pendidikan yang menyentuh hati sebelum mengasah pikiran.
Di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, KBC dimaknai dalam beberapa dimensi strategis.
Pertama, mendidik dengan empati. Dosen bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing yang memahami latar belakang dan potensi mahasiswa. Mahasiswa bukan objek akademik, tetapi amanah yang harus dituntun dengan kesabaran dan penghargaan.
Kedua, mengintegrasikan ilmu dan akhlak. Keunggulan intelektual tidak boleh terpisah dari kematangan karakter. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang jujur dan berintegritas. Pendidikan tinggi Islam harus menjawab tantangan itu.
Ketiga, membangun budaya dialog dan moderasi. Cinta melahirkan sikap saling menghargai. Kampus harus menjadi ruang aman bagi perbedaan, tempat tumbuhnya gagasan yang sehat, kritis, namun tetap berkeadaban. Moderasi beragama menjadi fondasi dalam membangun harmoni kebangsaan.
Keempat, menghadirkan kebermanfaatan sosial. Ilmu yang dipelajari tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus menjawab persoalan umat dan bangsa. Pendidikan yang dilandasi cinta akan selalu berpihak pada kemaslahatan, bukan sekadar ambisi pribadi.
Ramadan mengajarkan bahwa cinta selalu melahirkan tanggung jawab. Puasa mendidik kejujuran. Zakat dan sedekah menumbuhkan solidaritas sosial. Maka pendidikan pun harus menjadi wujud cinta kita kepada generasi mendatang: membekali mereka bukan hanya dengan kompetensi, tetapi juga dengan nurani.
Sebagai bagian dari Protas Kementerian Agama Republik Indonesia, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi komitmen kolektif Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri untuk menghadirkan pendidikan yang humanis, inklusif, dan berkeadaban. Pendidikan yang melahirkan generasi profesional yang tetap rendah hati. Generasi yang berprestasi tanpa kehilangan empati. Generasi yang membawa rahmat bagi lingkungannya.
Mari kita jadikan Ramadan 1447 Hijriah sebagai momentum memperkuat implementasi KBC—menjadikan belajar sebagai ibadah, mengajar sebagai pengabdian, dan kampus sebagai ruang tumbuhnya cinta.
Sebab pada akhirnya, peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi oleh hati yang tercerahkan.
Oleh Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


