UIN Siber Cirebon – Memahami perubahan diri dan kemampuan menjaga batasan pribadi merupakan bagian penting dalam proses tumbuh kembang peserta didik. Hal tersebut menjadi fokus layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang dilaksanakan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SLB Negeri Pangeran Cakrabuana Kabupaten Cirebon, Senin (14/9/2026).
Mengangkat tema “Tumbuh Bersama, Belajar Menjaga Diri”, kegiatan ditujukan bagi peserta didik jenjang SMPLB hingga SMALB melalui bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok. Materi disusun untuk membantu peserta didik memahami perubahan pada masa pubertas sekaligus mengenali cara menjaga diri sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing.
Mengenal Perubahan dan Menjaga Kebersihan Diri
Dalam bimbingan klasikal, mahasiswa PPL membahas berbagai perubahan fisik dan emosional yang dapat terjadi selama masa pubertas. Peserta didik juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri sebagai bagian dari proses pertumbuhan.
Materi kemudian diarahkan pada keterampilan menjaga diri, termasuk mengenali area privasi tubuh, memahami batasan ketika berinteraksi dengan orang lain, serta membedakan sentuhan yang aman dan tidak aman.
Pembahasan tersebut disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh konkret agar lebih mudah dipahami. Pendekatan ini menjadi penting karena peserta didik memiliki kebutuhan dan karakteristik yang beragam.
Belajar Mengenali Batasan Diri melalui Aktivitas Interaktif

Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa menggunakan permainan “Ya atau Tidak”. Dalam aktivitas tersebut, peserta didik diberikan sejumlah situasi sederhana dan diajak menentukan apakah suatu perilaku dapat diterima atau perlu dihindari.
Aktivitas interaktif ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pemahaman mereka secara langsung. Mahasiswa juga dapat melihat sejauh mana materi mengenai privasi, batasan diri, dan menjaga diri dapat dipahami oleh peserta didik.
Peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa mereka memiliki hak atas batasan dirinya. Ketika menghadapi sentuhan, perkataan, atau perlakuan yang membuat tidak nyaman, mereka dapat mengatakan “tidak” dan mencari bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.
Pendalaman Materi melalui Bimbingan Kelompok
Setelah bimbingan klasikal, kegiatan dilanjutkan melalui bimbingan kelompok yang dibagi menjadi dua kelompok. Sesi ini digunakan untuk mengulas kembali materi mengenai perubahan diri, area privasi, batasan diri, serta langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang membuat peserta didik merasa tidak aman.
Suasana kelompok dibuat lebih sederhana dan interaktif sehingga peserta didik memiliki ruang untuk berinteraksi dan menyampaikan pemahaman. Mahasiswa juga mengarahkan peserta didik untuk mengenali situasi yang membuat mereka tidak nyaman dan mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan.
Pendekatan tersebut menempatkan keterampilan menjaga diri sebagai sesuatu yang perlu dipelajari dan dilatih melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Layanan BK Disesuaikan dengan Kebutuhan Peserta Didik
Kegiatan diikuti peserta didik dengan beragam karakteristik dan kebutuhan belajar. Karena itu, mahasiswa menyesuaikan metode penyampaian melalui bahasa yang sederhana, contoh konkret, aktivitas interaktif, serta pendampingan sesuai kebutuhan.
Bagi peserta didik dengan hambatan pendengaran, kegiatan didampingi wali kelas untuk membantu proses komunikasi menggunakan bahasa isyarat. Yumairva, S.Pd., selaku wali kelas VII, VIII, IX, X, dan XI Tunarungu, turut berperan sebagai penerjemah agar peserta didik dapat mengikuti materi dan aktivitas dengan baik.
Pendampingan guru juga menjadi bagian penting dalam memastikan layanan BK dapat berlangsung secara komunikatif dan inklusif. Guru pamong Iis Naisah, S.Pd., dan Syarah Aini Fajrin, S.Pd., bersama para wali kelas turut mendukung pelaksanaan kegiatan.
Pengalaman Praktik bagi Mahasiswa PPL

Bagi mahasiswa PPL, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk menerapkan layanan Bimbingan dan Konseling secara langsung dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik. Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat pemahaman bahwa layanan pendidikan dan konseling perlu dirancang secara adaptif agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh setiap peserta didik.
Melalui layanan ini, mahasiswa berharap peserta didik dapat semakin memahami perubahan pada masa pubertas, mengenali area privasi dan batasan diri, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, guru pamong, wali kelas, dan peserta didik dalam menghadirkan layanan pendidikan yang sesuai kebutuhan.
Selaras dengan SDGs

Kegiatan PPL ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Bermutu, terutama dalam mendukung layanan pendidikan yang inklusif dan memperhatikan kebutuhan peserta didik dengan karakteristik yang beragam.
Penguatan kemampuan menjaga diri, mengenali batasan pribadi, dan mencari bantuan ketika menghadapi situasi tidak aman juga mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih aman dan inklusif. Hal ini turut berkaitan dengan SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, melalui penguatan pemahaman peserta didik mengenai penghormatan terhadap diri sendiri, orang lain, serta batasan dalam berinteraksi.
Melalui praktik layanan BK yang adaptif, mahasiswa PPL UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tidak hanya memperoleh pengalaman profesional, tetapi juga turut belajar menghadirkan pendekatan pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan setiap peserta didik.


