UIN Siber Cirebon — Ramadan bukan sekadar bulan ibadah; ia adalah bulan peradaban. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan, dan wahyu pertama yang menggema ke bumi adalah satu kata monumental: Iqra’. Bacalah. Dari perintah membaca itulah peradaban Islam dibangun—bukan dengan pedang, melainkan dengan pena; bukan dengan amarah, melainkan dengan ilmu.
Sejarah mencatat, ketika umat Islam menjadikan ilmu sebagai napas kehidupan, lahirlah peradaban yang menerangi dunia. Ilmuwan, ulama, dan pemikir berdiri sejajar membangun tradisi keilmuan yang memadukan rasio dan wahyu. Kini, di era modern yang penuh disrupsi, pertanyaannya sederhana namun mendasar: siapa yang memikul tongkat estafet peradaban itu?
Jawabannya ada di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Sebagai bagian dari Kementerian Agama Republik Indonesia, PTKIN memegang mandat strategis: menjaga kesinambungan antara keislaman dan kebangsaan, antara spiritualitas dan profesionalitas, antara tradisi dan inovasi. PTKIN bukan sekadar institusi akademik; ia adalah ruang kaderisasi intelektual Muslim yang menentukan arah masa depan bangsa.
Peran PTKIN dalam membangun peradaban setidaknya bertumpu pada tiga pilar utama.
Pertama, membangun peradaban ilmu.
Kampus harus menjadi pusat riset dan inovasi yang responsif terhadap persoalan umat dan bangsa. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai teori di ruang kelas atau jurnal ilmiah. Ia harus menjelma solusi: menjawab tantangan kemiskinan, krisis lingkungan, transformasi digital, hingga dinamika sosial-keagamaan. Peradaban besar selalu lahir dari tradisi intelektual yang hidup.
Kedua, membangun peradaban akhlak.
Kemajuan tanpa moral hanya melahirkan kekosongan. PTKIN memiliki tanggung jawab unik: memastikan bahwa kecerdasan intelektual berjalan beriringan dengan integritas moral. Nilai kejujuran, moderasi, toleransi, dan komitmen kebangsaan harus menjadi karakter dasar lulusan PTKIN. Dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang benar.
Ketiga, membangun peradaban sosial.
Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat adalah jantung kehadiran kampus. Ketika dosen dan mahasiswa hadir di tengah umat—memberdayakan desa, membina komunitas, menguatkan literasi keagamaan—di situlah peradaban bertumbuh secara nyata.
Di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, kami meyakini bahwa integrasi keilmuan dan keislaman adalah fondasi peradaban masa depan. Tradisi klasik tidak ditinggalkan, tetapi didialogkan dengan tantangan kontemporer. Kurikulum dirancang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. Budaya akademik dibangun atas dasar inklusivitas dan keadaban.
Ramadan mengajarkan disiplin, empati, dan pengendalian diri—tiga kualitas utama seorang pemimpin peradaban. Puasa melatih integritas personal; zakat dan sedekah menumbuhkan kepekaan sosial; tilawah Al-Qur’an memperkuat kedalaman spiritual. Jika nilai-nilai ini diinternalisasi oleh sivitas akademika, maka kampus akan menjadi pusat transformasi, bukan sekadar pusat informasi.
Peradaban tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun oleh generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkomitmen pada keadilan. PTKIN memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi tersebut—cerdas secara intelektual, religius secara spiritual, nasionalis dalam komitmen kebangsaan, dan berdaya saing dalam percaturan global.
Ramadan 1447 Hijriah ini hendaknya menjadi energi baru untuk memperkuat peran PTKIN sebagai lokomotif peradaban. Dari kampus untuk Indonesia. Dari ilmu untuk dunia. Dari iman untuk kemanusiaan.
Semoga Allah SWT menerima ibadah kita, memberkahi langkah kita, dan menjadikan kita bagian dari generasi pembangun peradaban yang diridhai-Nya.
Oleh Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


