UIN Siber Cirebon ( Melbourne, Australia) — Budaya Cirebon kembali mendapat panggung internasional. Prof. Dr. Indrya Mulyaningsih, M.Pd., dosen Jurusan Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, memperkenalkan filosofi dan kekayaan Topeng Cirebon kepada mahasiswa kelas Bahasa Indonesia di Asia Institute, Universitas Melbourne, Australia, Selasa (13/10/2026).
Melalui kegiatan visiting lecture atau kuliah tamu, Prof. Indrya mengajak mahasiswa mengenal Indonesia tidak hanya melalui bahasa, tetapi juga melalui seni, sejarah, dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan warisan budaya Cirebon sekaligus memperluas pemahaman lintas budaya di lingkungan akademik internasional.
Kuliah tamu tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama yang ditandatangani pada 12 Oktober 2026 oleh Justin Wejak dari Universitas Melbourne dan Prof. Indrya Mulyaningsih. Rangkaian visiting lecture dijadwalkan berlangsung pada 13–16 Oktober 2026.
Mengenal Lima Karakter Topeng Cirebon
Dalam pemaparannya, Prof. Indrya menjelaskan sejarah, filosofi, dan ragam karakter dalam seni Topeng Cirebon. Lima karakter yang diperkenalkan meliputi Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana. Masing-masing memiliki ciri dan makna yang memperkaya khazanah seni tradisional Cirebon.
Topeng Cirebon bukan sekadar pertunjukan seni. Di balik warna, bentuk, gerak, dan karakter tokohnya, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pandangan hidup masyarakat setempat.
Prof. Indrya menghubungkan kekayaan budaya tersebut dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Pendekatan ini membantu mahasiswa memahami bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.
Antusiasme mahasiswa terlihat dalam sesi diskusi setelah pemaparan. Sejumlah mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai makna simbolik gerakan tari topeng serta relevansinya dengan kehidupan masyarakat Cirebon saat ini. Diskusi tersebut membuka ruang pertukaran perspektif antara budaya Indonesia dan pengalaman mahasiswa di Australia.
Bahasa dan Budaya, Jembatan Antarbangsa
Prof. Indrya berharap pengenalan budaya melalui perkuliahan internasional dapat memperkuat pemahaman mahasiswa asing terhadap Indonesia secara lebih utuh.
“Bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Melalui Topeng Cirebon, saya berharap mahasiswa Universitas Melbourne dapat lebih mencintai dan memahami kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran bahasa dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas bangsa. Ketika mahasiswa mempelajari bahasa Indonesia sekaligus mengenal seni tradisionalnya, mereka memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Membawa Budaya Lokal ke Panggung Global
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, partisipasi dosen dalam kegiatan akademik internasional membuka peluang untuk memperluas jejaring, memperkuat kolaborasi pendidikan, dan memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat dunia.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab seniman atau masyarakat di daerah asal. Perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga serta memperkenalkan warisan budaya kepada khalayak yang lebih luas.
Melalui langkah seperti ini, Topeng Cirebon dapat semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dipelajari dan diapresiasi.
Mari kenali, pelajari, dan banggakan budaya daerah kita. Sebab, ketika budaya lokal diperkenalkan kepada dunia, kita tidak hanya membawa nama sebuah daerah, tetapi juga memperkenalkan identitas dan kekayaan Indonesia kepada generasi lintas bangsa.




