UIN Siber Cirebon – Sebanyak 736 wisudawan dan wisudawati Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon resmi menyelesaikan pendidikan dalam rangkaian wisuda pertama tahun 2026.
Momentum wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik. Bagi para lulusan, toga dan ijazah menjadi penanda dimulainya perjalanan baru untuk mengamalkan ilmu, beradaptasi dengan perubahan teknologi, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di tengah transformasi menuju Cyber Islamic University, FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus mendorong lahirnya lulusan yang memiliki kompetensi akademik, keterampilan digital, kepedulian lingkungan, dan kemampuan menjawab kebutuhan dunia kerja.
FITK Perkuat Komitmen Green Campus
Dekan FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. H. Saifuddin, M.Ag., mengatakan bahwa transformasi kampus tidak hanya diarahkan pada penguatan akademik dan digitalisasi. Aspek lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan universitas melalui konsep Green Campus.
Menurut Saifuddin, komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah nyata, termasuk pemanfaatan energi terbarukan dengan solar panel serta penyediaan air minum yang dapat dikonsumsi langsung menggunakan tumbler.
“Tahun ini mendapatkan UI GreenMetric dan mendapat tiga pohon. Bahkan bisa dilihat bahwa saat ini kita semakin memperhatikan kehijauan, dengan banyak solar panel. Kemudian air juga saat ini sudah bisa langsung diminum menggunakan tumbler. Semua ini menuju Green Campus,” ujar Saifuddin.
Konsep Green Campus tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi. Kampus tidak hanya menjadi ruang untuk belajar, tetapi juga tempat membangun budaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Tiga Mandat UIN Siber: Pendidikan Terbuka, Inovasi Digital, dan PJJ
Sebagai perguruan tinggi yang mengusung identitas universitas berbasis siber, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki karakter pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari teknologi digital.
Saifuddin menjelaskan, terdapat tiga mandat utama yang menjadi pijakan UIN Siber Cirebon, yaitu Open Educational Resources (OER), inovasi digital, dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
“Mandat Siber itu ada tiga. Pertama open education resources. Jadi kalau kita ingin mencari fikih Islam misalnya, maka di portal-portal atau mata kuliah itulah yang sudah mereka pelajari di Cirebon. Kedua inovasi digital dan yang ketiga adalah PJJ. Ini adalah tiga mandat di UIN Siber Cirebon,” jelasnya.
Ketiga mandat tersebut menjadi fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih terbuka dan fleksibel. Melalui teknologi, pembelajaran dapat menjangkau masyarakat lebih luas tanpa sepenuhnya dibatasi oleh ruang dan waktu.
Bagi FITK, mandat tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk terus memperkuat kualitas pembelajaran dan kompetensi lulusan agar sesuai dengan karakter pendidikan di era digital.
Lulusan FITK Tak Hanya Dipersiapkan Menjadi Guru
Transformasi pendidikan juga berdampak pada profil lulusan FITK.
Saifuddin menjelaskan, mahasiswa Tarbiyah memang memiliki fondasi sebagai calon pendidik. Namun, perkembangan teknologi pendidikan membuka peluang profesi yang jauh lebih luas.
“Profil Tarbiyah itu memang calon pendidik. Tetapi sebenarnya tidak hanya sebagai calon pendidik. Ada yang bisa menjadi peneliti, pengembang bahan ajar, entrepreneur di bidang digital education, atau bahkan praktisi game education,” ungkapnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi lulusan pendidikan tidak lagi terbatas pada ruang kelas.
Lulusan FITK dapat mengembangkan karier di berbagai bidang yang berkaitan dengan pendidikan, teknologi, penelitian, pengembangan bahan ajar, hingga kewirausahaan berbasis pendidikan digital.
Karena itu, bekal akademik perlu dilengkapi dengan kompetensi tambahan yang sesuai dengan perkembangan dunia kerja.
“Intinya mereka sudah disiapkan sesuai dengan kebutuhan pasar, karena mata kuliah kesiberan sudah ada,” katanya.
Ijazah Siber Harus Diikuti Kemampuan Digital
Pesan penting juga disampaikan Saifuddin kepada 736 lulusan FITK. Ia mengingatkan agar wisudawan tidak berhenti belajar setelah menerima ijazah.
Sebagai lulusan UIN Siber, kemampuan digital harus terus dikembangkan. Perubahan teknologi berlangsung cepat sehingga lulusan harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi.
FITK, lanjut Saifuddin, telah menyiapkan berbagai pelatihan secara mandiri untuk membantu mahasiswa dan lulusan meningkatkan keterampilan agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Karena kita adalah lulusan UIN Siber, maka kemampuan-kemampuan digitalnya harus terus ditingkatkan. Kita juga sudah menyiapkan pelatihan-pelatihan secara mandiri agar match dengan ijazahnya. Kalau ijazahnya Siber, kemampuan digitalnya juga harus bagus,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi para wisudawan yang akan memasuki dunia profesional. Mereka tidak hanya dituntut menguasai bidang keilmuan, tetapi juga mampu menggunakan teknologi sebagai bagian dari pekerjaan dan pengembangan diri.
Wisuda Bukan Akhir, tetapi Awal Pengabdian
Bagi 736 lulusan FITK, wisuda menjadi titik awal untuk membawa ilmu keluar dari ruang kuliah dan menghadirkannya di tengah masyarakat.
Ada yang akan menjadi guru dan pendidik. Ada pula yang berpeluang menjadi peneliti, pengembang bahan ajar, praktisi pendidikan digital, entrepreneur, maupun profesi lain yang terus berkembang mengikuti perubahan teknologi.
Semangat tersebut sejalan dengan arah pengembangan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai Cyber Islamic University yang berupaya mengintegrasikan pendidikan Islam, teknologi digital, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang lulusan tidak hanya diukur dari ijazah yang diperoleh. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan terlihat dari kemampuan seseorang menggunakan ilmu untuk bekerja secara profesional, terus beradaptasi, menjaga lingkungan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selamat kepada 736 wisudawan dan wisudawati FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Kini saatnya membuktikan bahwa lulusan universitas siber bukan hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari pencipta perubahan.







