UIN Siber Cirebon (Surabaya) – Nayla Nathania Zahra Hisyam, mahasiswa semester 5 Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, mempresentasikan penelitian berjudul “Resiliensi Santri Menghadapi Media Digital: Dukungan Sosial dan Nilai Keislaman” dalam International Conference on Islamic Counseling Studies (ICONICS) pada 20 Oktober 2026 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Penelitian ini mengangkat pengalaman santri dalam menghadapi tantangan penggunaan media digital, khususnya perbandingan sosial dan perasaan minder. Kajian tersebut juga menyoroti peran dukungan interpersonal, strategi personal, serta nilai-nilai keislaman dalam membantu santri menghadapi tekanan dan membangun resiliensi di tengah perkembangan teknologi.
Partisipasi ini menjadi bagian dari pengembangan penelitian mahasiswa BKI sekaligus kontribusi akademik dalam pembahasan kesehatan mental di lingkungan pesantren. Melalui penelitian tersebut, Nayla berupaya memberikan gambaran mengenai pentingnya pendampingan yang memperhatikan kondisi psikologis, kebutuhan sosial, dan dimensi spiritual santri.
Telusuri Tantangan Santri dalam Penggunaan Media Digital
Media digital memberikan berbagai manfaat bagi santri, mulai dari mendukung pembelajaran hingga memudahkan akses terhadap informasi. Namun, penggunaan media digital juga dapat menghadirkan tantangan, salah satunya perbandingan sosial yang memicu perasaan minder ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain.
Penelitian Nayla membahas bagaimana santri menghadapi pengalaman tersebut serta strategi yang digunakan untuk mengelola perasaan dan tekanan yang muncul. Fokus kajian tidak hanya terletak pada tantangan penggunaan media digital, tetapi juga pada sumber daya yang dapat membantu santri bertahan dan menyesuaikan diri.
Dalam konteks ini, resiliensi dipahami melalui pengalaman santri dalam menghadapi kesulitan, mencari dukungan, dan memanfaatkan strategi personal maupun spiritual. Pemahaman terhadap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang pendampingan yang lebih sesuai dengan kehidupan santri.
Gunakan Pendekatan Kualitatif untuk Memahami Pengalaman Santri
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap tujuh santri berusia 16–17 tahun dan dua pengurus pondok berusia 22 dan 23 tahun di salah satu pondok pesantren di lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman para narasumber. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menggali pengalaman santri secara lebih mendalam, termasuk bagaimana mereka memaknai tantangan digital dan memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan.
Melalui wawancara tersebut, penelitian menelaah peran teman, keluarga, dan pengurus pondok sebagai sumber dukungan interpersonal. Keberadaan orang-orang yang dapat dipercaya menjadi aspek penting, terutama ketika santri merasa aman untuk menceritakan pengalaman dan persoalan yang dihadapi.
Dukungan Sosial dan Nilai Keislaman sebagai Sumber Resiliensi

Penelitian ini menyoroti tiga aspek yang berkaitan dengan resiliensi santri, yaitu strategi personal, dukungan sosial, dan coping spiritual. Ketiganya memberikan perspektif mengenai cara santri menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tantangan yang berkaitan dengan penggunaan media digital.
Dukungan sosial dapat membantu santri merasa didengar dan memperoleh pendampingan ketika menghadapi kesulitan. Teman sebaya, keluarga, serta pengurus pondok berpotensi menjadi bagian dari lingkungan pendukung, terutama ketika komunikasi berlangsung secara terbuka dan tanpa stigma.
Di sisi lain, nilai-nilai keislaman dan praktik keagamaan dapat menjadi salah satu sumber ketenangan ketika santri menghadapi persoalan. Dimensi spiritual tersebut menjadi bagian penting untuk dipertimbangkan dalam pengembangan layanan Bimbingan dan Konseling Islam yang memperhatikan kebutuhan individu secara menyeluruh.
Dorong Pengembangan Konseling Islam yang Responsif

Temuan dan pembahasan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi pengembangan layanan Bimbingan dan Konseling Islam di lingkungan pesantren. Pendampingan santri perlu memperhatikan literasi digital, tersedianya ruang komunikasi yang aman, serta akses terhadap layanan konseling sesuai kebutuhan.
Pendekatan tersebut penting agar santri tidak hanya dibekali kemampuan menggunakan media digital secara bijak, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan kesulitan dan memperoleh bantuan yang tepat. Pengurus pondok, keluarga, teman sebaya, dan konselor dapat berperan dalam membangun lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis santri.
Keikutsertaan Nayla Nathania Zahra Hisyam dalam ICONICS 2026 menjadi ruang untuk mempresentasikan gagasan penelitian sekaligus memperluas pembahasan mengenai resiliensi santri di era digital. Melalui kajian ini, pengembangan keilmuan BKI diharapkan semakin responsif terhadap perubahan sosial dan teknologi, tanpa mengabaikan dukungan sosial serta nilai keislaman dalam proses pendampingan generasi muda.


