Amien Suyitno Dorong PTKI Perkuat Kolaborasi Riset, Pengabdian, dan Inovasi untuk Menjawab Persoalan Bangsa
UIN Siber Cirebon (Kemenag) – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag., mengingatkan seluruh perguruan tinggi agar mengarahkan riset dan pengabdian kepada masyarakat pada penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan semata-mata untuk memenuhi persyaratan administrasi akademik maupun kenaikan jabatan fungsional dosen.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Konsolidasi dan Konferensi Nasional Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia yang berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rabu (2/7/2026).
Dalam forum nasional yang dihadiri pimpinan PTKI, Ketua LPPM, Kepala PSGA, akademisi, peneliti, serta praktisi dari berbagai daerah di Indonesia itu, Amien menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan riset yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Saya berkali-kali menyindir kita semua, termasuk saya sendiri. Karya-karya kita masih banyak untuk kepentingan pribadi, untuk naik pangkat dan promosi. Kampus hari ini membutuhkan karya yang berdampak dan memberikan solusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Menurut Amien, publikasi ilmiah memang merupakan kewajiban setiap dosen. Namun, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya artikel yang diterbitkan, melainkan sejauh mana hasil penelitian tersebut mampu menjawab persoalan sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, hingga kemanusiaan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Dosen memiliki artikel ilmiah itu adalah kewajiban. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana riset tersebut menjadi solusi, memberi dampak nyata, dan dapat diterapkan oleh masyarakat. Di situlah esensi pengabdian perguruan tinggi,” ujarnya.
Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Jadi Kunci Solusi
Dirjen Pendis menjelaskan bahwa tantangan masyarakat saat ini semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang keilmuan. Ia mencontohkan tingginya angka perceraian, fenomena childfree, kekerasan seksual, persoalan ekonomi keluarga, hingga berbagai problem sosial lainnya yang membutuhkan pendekatan multidisiplin.
Menurutnya, kolaborasi antara berbagai program studi dan disiplin ilmu harus terus diperkuat agar lahir solusi yang komprehensif.
“Kalau penyebab perceraian adalah persoalan ekonomi, maka ahli Hukum Keluarga Islam harus bekerja sama dengan pakar Ekonomi Syariah. Demikian juga persoalan sosial lainnya membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu. Ilmu hari ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Amien menilai sinergi lintas bidang keilmuan akan menghasilkan inovasi yang lebih aplikatif sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional.
Pengabdian Masyarakat Harus Lebih dari Sekadar Ceramah
Dalam kesempatan tersebut, Amien juga mengingatkan bahwa pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) perlu mengalami transformasi. Menurutnya, pengabdian tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial seperti ceramah atau penyuluhan, tetapi harus diwujudkan melalui pendampingan, pemberdayaan, dan solusi berkelanjutan sesuai kebutuhan masyarakat.
“PKM jangan hanya identik dengan ceramah. Masyarakat membutuhkan pendampingan yang konkret sesuai persoalan yang mereka hadapi. Di situlah kampus harus benar-benar hadir memberikan manfaat,” tegasnya.
Apresiasi Praktik Baik PSGA PTKI
Dirjen Pendis juga memberikan apresiasi kepada 15 praktik baik (best practice) yang dipresentasikan oleh berbagai Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) PTKI. Menurutnya, berbagai inovasi tersebut membuktikan bahwa perguruan tinggi mampu menghadirkan solusi nyata melalui penelitian, pengabdian masyarakat, pendampingan korban, pemberdayaan perempuan, serta penguatan kebijakan kampus yang responsif gender.
“Praktik baik seperti inilah yang harus terus diperbanyak. Kampus harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Selain membahas penguatan riset dan pengabdian, forum nasional ini juga menjadi wadah memperkuat implementasi Program Kampus Bahagia Tanpa Kekerasan (KABACA) yang diinisiasi Kementerian Agama sebagai upaya menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang aman, inklusif, ramah terhadap perempuan, anak, penyandang disabilitas, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
UIN Siber Cirebon Dukung Transformasi Pendidikan Tinggi Berdampak
Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menyampaikan bahwa kepercayaan menjadi tuan rumah Konsolidasi Nasional PSGA merupakan momentum penting untuk memperkuat transformasi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus mendorong dosen dan peneliti menghasilkan karya-karya inovatif yang berorientasi pada penyelesaian persoalan bangsa, sekaligus memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, nilai-nilai moderasi beragama, keadilan gender, serta pengabdian yang berkelanjutan.
“Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat solusi, pusat inovasi, dan pusat kemaslahatan. Riset yang dilakukan sivitas akademika harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat kebijakan publik, dan mendukung pembangunan Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan berkeadaban,” ujar Prof. Aan Jaelani.
Konsolidasi Nasional PSGA PTKI diikuti oleh perwakilan 48 PTKI Negeri dan 3 PTKI Swasta dari seluruh Indonesia. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring kolaborasi, berbagi praktik terbaik, menyusun rekomendasi nasional, sekaligus mempertegas komitmen perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berdampak, inklusif, bebas kekerasan, serta berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.




