Soroti Ketimpangan Sosial, Oligarki, hingga Masa Depan Demokrasi Indonesia
UIN Siber Cirebon — Memperingati 28 tahun Reformasi Indonesia, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Kabupaten Cirebon menggelar dialog publik bertajuk “Refleksi 28 Tahun Reformasi Indonesia” sekaligus peluncuran buku kebangsaan “Jalan Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur” pada Kamis (21/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Convention Cyber Lantai 8 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ini diinisiasi oleh Ketua ICMI Orda Kabupaten Cirebon, dr. Asad, Sp.THT-KL, sebagai ruang intelektual untuk mengevaluasi perjalanan reformasi sekaligus membangun gagasan strategis menuju Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.
Acara tersebut dihadiri sekitar 140 peserta dari berbagai unsur akademisi, tokoh agama, organisasi masyarakat, mahasiswa, hingga pejabat pemerintah daerah Kota dan Kabupaten Cirebon. Hadir pula sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Aan Jaelani, Ganzar Razuni, Henry Indraguna, Muhammad Burhanudin, serta Sutarman.
Reformasi Tidak Boleh Berhenti pada Seremoni Tahunan
Dalam sambutannya, dr. Asad menegaskan bahwa Reformasi 1998 tidak boleh dimaknai sebatas agenda seremonial tahunan, melainkan harus menjadi momentum evaluasi terhadap arah pembangunan bangsa.
Menurutnya, meskipun reformasi berhasil membuka ruang demokrasi yang lebih luas, Indonesia hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar seperti ketimpangan sosial, lemahnya penegakan hukum, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara.
“Reformasi harus terus dikawal agar tetap berada pada cita-cita awalnya, yaitu menghadirkan keadilan sosial, pemerintahan yang bersih, dan kesejahteraan yang merata bagi rakyat,” tegas dr. Asad.
Ia juga menekankan bahwa solusi atas persoalan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan politik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan penguatan moralitas, etika kepemimpinan, dan budaya intelektual.
Buku “Jalan Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur” Jadi Sorotan
Peluncuran buku “Jalan Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur” karya Adang Djumhur dan Yuddy Chrisnandi menjadi salah satu agenda utama dalam forum tersebut.
Buku ini dibedah dalam tiga sesi diskusi interaktif yang menghadirkan pandangan kritis mengenai kondisi demokrasi, pembangunan ekonomi, hingga arah reformasi nasional.
Reformasi Struktural Jadi Kunci Indonesia Emas 2045
Pada sesi pertama, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri menyampaikan bahwa buku tersebut sangat relevan sebagai kritik sekaligus peta jalan menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, target Indonesia menjadi negara maju tidak akan tercapai tanpa reformasi struktural yang konsisten di sektor pendidikan, hukum, ekonomi, dan moralitas bangsa.
Kritik terhadap Ketimpangan dan Politik Pragmatis
Sementara itu, Prof. Dr. H. Adang Djumhur, M.Ag., menyoroti degradasi etika publik dan semakin kuatnya pragmatisme politik dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
Ia mengkritisi pertumbuhan ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial karena kebijakan fiskal masih lebih berpihak pada industri padat modal dibanding sektor ekonomi kerakyatan.
“Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu. Reformasi harus kembali menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Indonesia Maju secara Ekonomi, tetapi Ketimpangan Masih Tinggi
Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi,S.E., S.H., M.M., memaparkan evaluasi pembangunan nasional berbasis data makro ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa secara kuantitatif, ekonomi Indonesia mengalami lonjakan signifikan dari USD 95 miliar pada 1998 menjadi USD 1,47 triliun pada 2025 sehingga membawa Indonesia masuk jajaran kekuatan ekonomi G20.
Namun demikian, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya berdampak pada pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, angka Koefisien Gini yang masih berada di kisaran 0,375 serta rendahnya Indeks Persepsi Korupsi menunjukkan bahwa tantangan reformasi masih sangat besar.
Prof. Yuddy juga mengingatkan bahaya oligarki, politik dinasti, dan dominasi kapital dalam sistem demokrasi yang dapat menggerus semangat reformasi.
UIN Siber Cirebon Dorong Ruang Intelektual dan Demokrasi Substantif
Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menyambut baik terselenggaranya forum refleksi tersebut sebagai ruang akademik untuk memperkuat tradisi intelektual, demokrasi substantif, dan kepedulian sosial di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan ruang dialog kritis yang konstruktif demi masa depan bangsa.
“Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya gagasan-gagasan kebangsaan yang mampu menjaga demokrasi tetap sehat, inklusif, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” ungkapnya.
Jadi Momentum Menjaga Api Reformasi
Diskusi yang berlangsung dinamis dan interaktif tersebut memperlihatkan tingginya antusiasme peserta terhadap isu demokrasi, keadilan sosial, dan arah pembangunan nasional.
Melalui forum ini, ICMI berharap semangat reformasi tetap terjaga sebagai kompas moral dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, demokratis, dan bermartabat di tengah tantangan global yang semakin kompleks.





