UIN Siber Cirebon (Kedah, Malaysia) – Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menunjukkan kiprahnya di panggung akademik internasional. Ketua Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Dr. Debi Fajrin Habibi, dipercaya menjadi presenter dalam konferensi internasional yang diselenggarakan di Fakulti Kubra, Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah (UniSHAMS), Kedah, Malaysia, pada Senin (8/6/2026).
Forum ilmiah bergengsi tersebut dihadiri lebih dari 150 akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai negara, yang membahas berbagai isu strategis terkait studi Islam, pendidikan, kesehatan mental, serta tantangan global di era modern.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Debi mempresentasikan kajian bertajuk moderasi beragama dalam perspektif Tasawuf dan Psikoterapi, yang menyoroti pentingnya membangun karakter inklusif, keseimbangan spiritual, serta kesehatan mental mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, moderasi beragama saat ini bukan sekadar konsep normatif, melainkan kebutuhan nyata dalam membentuk generasi muda yang mampu hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman.
“Moderasi beragama harus hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari mahasiswa, baik dalam cara berpikir, bersikap, berdialog, maupun membangun relasi sosial yang sehat di tengah masyarakat yang plural,” ungkap Dr. Debi dalam paparannya.
Ia menjelaskan bahwa tasawuf memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian yang tenang, penuh kasih sayang, serta mampu mengendalikan diri. Sementara psikoterapi membantu individu memahami dinamika batin, mengelola emosi, serta menjaga kesehatan mental secara berkelanjutan.
Menurutnya, perpaduan antara pendekatan tasawuf dan psikoterapi dapat menjadi model pendidikan transformatif yang melahirkan mahasiswa yang religius, humanis, toleran, serta memiliki ketahanan mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Moderasi Beragama Jadi Kunci Membangun Kampus Inklusif
Dalam forum internasional tersebut, Dr. Debi juga menekankan bahwa implementasi moderasi beragama di perguruan tinggi harus diwujudkan melalui berbagai aktivitas akademik, mulai dari proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga program pembinaan mahasiswa.
Baginya, pengalaman mahasiswa dalam memahami nilai-nilai moderasi beragama akan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menciptakan kehidupan kampus yang harmonis, inklusif, dan bebas dari sikap intoleran.
“Mahasiswa merupakan agen perubahan. Mereka harus dibekali kemampuan intelektual sekaligus kematangan spiritual agar mampu menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat global,” jelasnya.
Relevan dengan SDGs dan Tantangan Global
Topik yang diangkat Dr. Debi mendapat perhatian luas dari para peserta konferensi karena dinilai sangat relevan dengan berbagai agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas
- SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan
- SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh
Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, sejumlah akademisi internasional memberikan apresiasi terhadap pendekatan integratif antara Tasawuf dan Psikoterapi yang ditawarkan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai model penguatan karakter mahasiswa di era digital.
Perkuat Jejaring Akademik Internasional
Partisipasi Dr. Debi Fajrin Habibi di UniSHAMS Malaysia menjadi bagian dari upaya internasionalisasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperluas jejaring akademik global.
Kegiatan ini membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam pengembangan kajian Tasawuf, Psikoterapi Islam, Moderasi Beragama, Pendidikan Karakter, serta kesehatan mental berbasis nilai-nilai spiritual.
Keikutsertaan dosen UIN Siber Cirebon dalam forum internasional tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kajian keislaman yang berkembang di Indonesia memiliki kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan dan pendidikan di tingkat global.
Melalui forum ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus siber yang tidak hanya unggul dalam transformasi digital, tetapi juga aktif mengembangkan pemikiran Islam moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Dr. Debi berharap gagasan yang disampaikannya dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan tinggi Islam dalam melahirkan generasi muda yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, sehat secara psikologis, serta bijak dalam menyikapi keberagaman.
“Di tengah dunia yang semakin kompleks, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, empati sosial, dan kemampuan membangun perdamaian. Di sinilah Tasawuf dan Psikoterapi menemukan relevansinya,” pungkasnya.




