Dr. Irma Riyani Terpilih Pimpin Forum PSGA PTKI 2026–2029, Perkuat Kolaborasi Nasional Menuju Perguruan Tinggi Aman, Inklusif, dan Bebas Kekerasan
UIN Siber Cirebon (Kemenag) – Komitmen memperkuat pengarusutamaan gender, perlindungan perempuan dan anak, serta mewujudkan perguruan tinggi yang inklusif dan bebas dari segala bentuk kekerasan semakin diperkuat melalui Musyawarah Nasional (Munas) III Forum Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI/PTKIS) yang digelar di Aula Lantai 8 Gedung Siber SBSN Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis (2/7/2026).
Munas III menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Konsolidasi Nasional Kerja-Kerja PSGA PTKI se-Indonesia yang berlangsung pada 30 Juni–3 Juli 2026. Forum ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi organisasi, tetapi juga menghasilkan berbagai rekomendasi strategis sekaligus menetapkan kepengurusan baru Forum PSGA PTKI periode 2026–2029.
Sebanyak 45 perwakilan PSGA dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti musyawarah yang berlangsung secara demokratis, partisipatif, dan penuh semangat kolaborasi.
Rumuskan Strategi Nasional Penguatan PSGA
Musyawarah Nasional diawali dengan pembahasan berbagai isu strategis melalui empat komisi yang membahas tema-tema prioritas dalam pengembangan PSGA, yakni:
- Gender dan Produksi Pengetahuan
- Fikih Penanganan Kekerasan Seksual
- Geopolitik dan Krisis Kemanusiaan
- Perempuan dan Resiliensi terhadap Krisis Lingkungan
Melalui diskusi yang berlangsung intensif, masing-masing komisi menyusun rekomendasi strategis yang selanjutnya dibahas dalam sidang pleno sebagai arah kebijakan Forum PSGA PTKI pada periode mendatang.
Rekomendasi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran PSGA sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, advokasi kebijakan, serta pengarusutamaan nilai-nilai keadilan gender di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.
PSGA Harus Kembali pada Mandat Strategis
Dalam sidang pleno, Prof. Dr. Hj. Mufliha Wijayati, M.Si., dosen UIN Raden Intan Lampung sekaligus perwakilan Aliansi Pusat Studi Gender dan Anak Perguruan Tinggi Keagamaan (PTRG), menegaskan bahwa Forum PSGA perlu terus memperkuat fungsi dan mandat utamanya.
Menurutnya, rekomendasi yang dihasilkan harus mampu memperkuat posisi PSGA sebagai pusat produksi pengetahuan, pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi, penguatan jejaring nasional dan internasional, serta menjadi mitra strategis Kementerian Agama dalam merumuskan berbagai kebijakan yang responsif gender.
“Forum PSGA harus menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan gagasan, penelitian, serta rekomendasi kebijakan yang benar-benar memberikan dampak bagi perguruan tinggi maupun masyarakat. Penguatan kapasitas kelembagaan harus terus menjadi prioritas bersama,” ujarnya.
Laporan Pertanggungjawaban Warnai Munas III
Agenda Munas juga diisi dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Forum PSGA PTKI periode 2024–2026 yang memaparkan berbagai capaian organisasi selama dua tahun terakhir.
Sejumlah program strategis yang berhasil dilaksanakan antara lain penelitian kolaboratif nasional, penyusunan modul dan buku bersama, penguatan jejaring dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional, penyelenggaraan serial diskusi ilmiah, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Agama.
Ketua Forum PSGA PTKI periode 2024–2026, Dr. Istiadah, M.A., yang mengikuti kegiatan secara daring karena alasan kesehatan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus, anggota forum, Kementerian Agama, serta seluruh mitra yang telah mendukung perjalanan organisasi.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota Forum PSGA PTKI atas dedikasi dan kerja sama selama masa kepengurusan. Semoga berbagai program yang telah dirintis, mulai dari penelitian bersama, pengembangan pembelajaran daring (MOOC), hingga kolaborasi lintas lembaga dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh kepengurusan berikutnya,” tuturnya.
Dr. Irma Riyani Pimpin Forum PSGA PTKI Periode 2026–2029
Puncak Musyawarah Nasional III ditandai dengan pemilihan kepengurusan baru Forum PSGA PTKI.
Melalui mekanisme musyawarah mufakat, seluruh peserta sepakat menetapkan Dr. Irma Riyani, M.A., M.Ag., Ph.D. dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai Ketua/Formatur Forum PSGA PTKI periode 2026–2029.
Selanjutnya, formatur diberikan mandat untuk menyusun struktur kepengurusan lengkap dalam waktu paling lambat sepuluh hari setelah pelaksanaan Musyawarah Nasional.
Dalam sambutan perdananya, Dr. Irma Riyani menegaskan komitmennya untuk memperkuat komunikasi, kolaborasi, dan sinergi antarlembaga PSGA di seluruh Indonesia.
“Ke depan, Forum PSGA PTKI harus menjadi rumah bersama yang mampu memperkuat jejaring nasional, membangun kolaborasi lintas kampus, serta menghadirkan pendampingan bagi PSGA yang masih berkembang. Dengan saling menguatkan, kita dapat mempercepat terwujudnya perguruan tinggi yang responsif gender, inklusif, dan bebas dari kekerasan,” ungkapnya.
UIN Siber Cirebon Perkuat Peran sebagai Pusat Kolaborasi Nasional
Penyelenggaraan Musyawarah Nasional III di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon semakin menegaskan peran universitas sebagai pusat kolaborasi nasional dalam penguatan pengarusutamaan gender di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Sebagai tuan rumah Konsolidasi Nasional PSGA PTKI se-Indonesia, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berhasil menghadirkan ruang dialog, berbagi praktik baik (best practices), pertukaran gagasan, serta penguatan jejaring antarperguruan tinggi dalam membangun budaya akademik yang aman, inklusif, humanis, dan berkeadilan.
Melalui hasil Musyawarah Nasional III ini, Forum PSGA PTKI diharapkan semakin mampu menjadi pusat rujukan nasional dalam pengembangan kajian gender, perlindungan perempuan dan anak, pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, serta penguatan kebijakan pendidikan tinggi yang mendukung terwujudnya ekosistem kampus yang aman, setara, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Semangat kolaborasi yang terbangun dalam forum ini juga menjadi langkah nyata mendukung implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, penguatan Sustainable Development Goals (SDGs), serta percepatan terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan tinggi yang berkualitas, berkeadilan, dan berorientasi pada kemanusiaan.




