UIN Siber Cirebon – Empat alumni Jurusan Tadris Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon berhasil menorehkan prestasi akademik internasional melalui publikasi riset yang menawarkan formula baru pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pesantren. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Language Teaching and Education dengan judul “Contextualizing English Speaking Instruction in Indonesian Pesantren: A Needs Analysis”.
Riset kolaboratif ini dilakukan oleh Muhammad Haikal Attabik, Mailiza Zainiza, Anggraeni Khusuma Dewi, dan Agung Ahdiansyah, dengan bimbingan Nunik Sugesti. Keempat peneliti merupakan alumni UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang kini melanjutkan kiprah akademik dan profesional di berbagai institusi pendidikan terkemuka.
Muhammad Haikal Attabik yang saat ini menempuh studi magister di Universitas Negeri Yogyakarta menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memotret realitas pembelajaran bahasa asing di pesantren sekaligus menghadirkan rekomendasi berbasis data untuk pengembangannya.
Menurutnya, hasil riset ini dapat menjadi kontribusi akademik yang berharga bagi penguatan pendidikan pesantren di Indonesia, terutama setelah hadirnya kebijakan penguatan tata kelola pesantren di bawah Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Mengkaji Realitas Pembelajaran Bahasa Inggris di Pesantren
Penelitian mengambil lokasi di Pesantren Babakan Ciwaringin dengan menggunakan metode campuran (mixed-methods) untuk menganalisis kebutuhan target pembelajaran dan faktor lingkungan yang memengaruhi kemampuan berbicara bahasa Inggris para santri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penggunaan bahasa Inggris di lingkungan pesantren masih didominasi aktivitas komunikasi rutin dan prosedural. Sebanyak 35 persen aktivitas berbicara berlangsung dalam percakapan sehari-hari, sementara 35 persen lainnya berada dalam kegiatan pidato atau muhadharah.
“Interaksi bahasa asing di pesantren saat ini masih dominan pada situasi komunikatif yang bersifat rutin dan prosedural. Meskipun paparan bahasa berlangsung cukup intensif, kemampuan tersebut belum sepenuhnya berkembang menjadi kompetensi komunikatif yang autentik,” jelas Haikal di Cirebon, Senin (22/6/2026).
Santri Cakap Dasar, Tantangan pada Berpikir Kritis
Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar santri memiliki kemampuan yang baik dalam komunikasi dasar. Namun, mereka masih menghadapi tantangan ketika harus melakukan aktivitas berbicara tingkat tinggi seperti debat, argumentasi spontan, penyampaian opini, maupun penalaran kritis dalam bahasa Inggris.
Menurut Haikal, kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis.
Budaya Accuracy-Focused Jadi Tantangan
Sementara itu, salah satu peneliti, Agung Ahdiansyah, yang saat ini bertugas di Biro AKU unit kerja Humas dan PPID UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah budaya pembelajaran yang masih berfokus pada ketepatan tata bahasa (accuracy-focused).
“Secara psikologis, fokus yang terlalu besar pada kebenaran struktur kalimat dapat menimbulkan kecemasan bagi santri. Akibatnya, mereka menjadi kurang percaya diri untuk berbicara dan mengeksplorasi gagasan secara terbuka,” ujarnya.
Menurut Agung, pembelajaran bahasa asing idealnya tidak hanya menilai benar atau salahnya struktur bahasa, tetapi juga mendorong keberanian berkomunikasi dan kemampuan berpikir kritis.
Tawarkan Formula Baru Pembelajaran Bahasa di Pesantren
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti merekomendasikan transformasi pedagogi bahasa Inggris di pesantren menuju pendekatan yang lebih interaktif, kontekstual, dan berpusat pada interaksi (interaction-focused learning).
Beberapa model pembelajaran yang direkomendasikan antara lain forum pemecahan masalah (problem-solving discussion), diskusi kelompok, debat akademik, simulasi kehidupan nyata, dan kegiatan berbagi opini yang memungkinkan santri berlatih mengemukakan gagasan secara kritis.
Meski demikian, pendekatan baru tersebut tetap harus berpijak pada karakteristik lokal dan nilai-nilai luhur kepesantrenan yang selama ini menjadi kekuatan utama pendidikan Islam di Indonesia.
“Tentunya dengan tetap mempertahankan karakteristik lokal dan nilai-nilai kepesantrenan, materi pembelajaran bahasa ke depan diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap untuk melatih cara berpikir kritis santri sekaligus meningkatkan kompetensi komunikasi global mereka,” harap Agung.
Kontribusi bagi Pendidikan Pesantren Indonesia
Publikasi internasional ini menjadi bukti bahwa alumni PTKIN mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi pendidikan berbasis riset. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengelola pesantren, guru bahasa Inggris, akademisi, maupun pembuat kebijakan dalam merancang model pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan abad ke-21.
Lebih dari itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi global, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan dunia internasional.
Relevansi SDGs
Penelitian ini mendukung pencapaian:
- SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas)
- SDGs 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
- SDGs 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).


