UIN Siber Cirebon – Empat alumni Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali mengharumkan nama almamater melalui publikasi riset internasional yang menawarkan perspektif baru dalam pengembangan pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pesantren.
Riset berjudul “Contextualizing English Speaking Instruction in Indonesian Pesantren: A Needs Analysis” berhasil dipublikasikan dalam International Journal of Language Teaching and Education, salah satu jurnal internasional yang fokus pada pengembangan pendidikan dan pengajaran bahasa.
Penelitian kolaboratif tersebut digerakkan oleh empat alumni UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yaitu Muhammad Haikal Attabik (Mahasiswa Magister Universitas Negeri Yogyakarta), Mailiza Zainiza (Mahasiswa Magister Universitas Negeri Semarang), Anggraeni Khusuma Dewi (Mahasiswa Magister Universitas Indonesia), serta Agung Ahdiansyah, yang saat ini bertugas di Biro AKU unit kerja Humas dan PPID UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Penelitian ini juga mendapat pendampingan akademik dari Nunik Sugesti.
Menjawab Tantangan Pembelajaran Bahasa Inggris di Pesantren
Muhammad Haikal Attabik menjelaskan bahwa publikasi internasional ini lahir dari keinginan untuk memberikan kontribusi akademik terhadap penguatan pendidikan pesantren di Indonesia. Menurutnya, hasil riset tersebut dapat menjadi referensi penting bagi pengelola pesantren, akademisi, maupun pemangku kebijakan dalam merancang model pembelajaran bahasa yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
“Riset ini kami harapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran yang berharga bagi dinamika pendidikan kepesantrenan. Apalagi saat ini tata kelola pesantren terus berkembang di bawah Direktorat Jenderal Pesantren, sehingga diperlukan data dan kajian akademik yang mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan,” ujar Haikal.
Penelitian dilakukan di Pesantren Babakan Ciwaringin dengan menggunakan pendekatan mixed-methods atau metode campuran untuk mengkaji kebutuhan pembelajaran berbicara bahasa Inggris serta faktor-faktor lingkungan yang memengaruhinya.
Temuan: Santri Lancar Berkomunikasi Dasar, Namun Masih Terkendala Berpikir Kritis
Berdasarkan hasil penelitian, interaksi bahasa Inggris di lingkungan pesantren masih didominasi oleh aktivitas komunikasi yang bersifat rutin dan prosedural. Sebanyak 35 persen penggunaan bahasa terjadi dalam percakapan sehari-hari, sementara 35 persen lainnya berlangsung melalui kegiatan pidato atau muhadharah.
“Esensi temuan riset kami menunjukkan bahwa praktik penggunaan bahasa asing di pesantren masih banyak berada pada konteks komunikasi rutin. Padahal kebutuhan komunikasi global saat ini menuntut kemampuan yang lebih kompleks,” jelas Haikal.
Ia menambahkan bahwa meskipun santri memiliki kemampuan yang cukup baik dalam komunikasi dasar, mereka masih menghadapi tantangan dalam aktivitas berbicara tingkat tinggi seperti debat, argumentasi spontan, diskusi kritis, dan penyampaian gagasan secara mendalam.
“Santri memang terbukti cakap dalam komunikasi dasar, tetapi masih menghadapi tantangan besar pada kemampuan berbicara yang membutuhkan analisis, argumentasi, dan penalaran kritis,” katanya.
Budaya Pembelajaran Terlalu Fokus Tata Bahasa
Sementara itu, Agung Ahdiansyah mengungkapkan bahwa salah satu penyebab kondisi tersebut adalah pendekatan pembelajaran yang masih terlalu berorientasi pada ketepatan tata bahasa (accuracy-focused).
Menurutnya, penekanan yang berlebihan pada struktur bahasa sering kali menimbulkan tekanan psikologis bagi peserta didik.
“Secara psikologis, fokus berlebih pada kebenaran tata bahasa dapat memicu kecemasan di kalangan santri. Akibatnya, mereka menjadi kurang berani untuk berbicara, menyampaikan opini, dan mengeksplorasi ide-ide baru dalam bahasa Inggris,” ungkap Agung.
Tawarkan Formula Baru Pembelajaran Bahasa Inggris di Pesantren
Melalui penelitian ini, para peneliti merekomendasikan transformasi model pembelajaran bahasa Inggris di pesantren menuju pendekatan yang lebih interaktif, komunikatif, dan kontekstual (interaction-focused).
Beberapa strategi yang direkomendasikan antara lain forum pemecahan masalah (problem-solving discussion), debat terarah, diskusi kelompok, simulasi kehidupan nyata, serta kegiatan berbagi opini yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikasi aktif santri.
Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa transformasi tersebut tetap harus memperhatikan karakteristik lokal dan nilai-nilai luhur pesantren yang selama ini menjadi kekuatan pendidikan Islam di Indonesia.
“Tentunya dengan tetap mempertahankan karakteristik lokal dan nilai-nilai kepesantrenan, pembelajaran bahasa Inggris perlu dikembangkan secara bertahap agar mampu membentuk santri yang kritis, komunikatif, dan siap bersaing di tingkat global,” tutup Agung.
Kontribusi Nyata Alumni PTKIN untuk Pendidikan Indonesia
Publikasi ini menjadi bukti bahwa alumni PTKIN, khususnya UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi pendidikan berbasis riset. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dalam merumuskan kebijakan dan praktik pembelajaran bahasa asing yang lebih efektif di lingkungan pesantren.
Lebih jauh, riset ini membuka peluang lahirnya generasi santri yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu keislaman, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi global, kemampuan berpikir kritis, serta daya saing internasional.
Relevansi SDGs
Penelitian ini mendukung pencapaian:
- SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas)
- SDGs 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
- SDGs 9: Industry, Innovation and Infrastructure (Inovasi dan Infrastruktur)
- SDGs 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).



