Perkuat Transformasi Pendidikan Madrasah, UIN Siber Hadirkan Riset Berbasis Data untuk Wujudkan Madrasah Penuh Cinta
UIN Siber Cirebon (Bandung) – Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan pendidikan nasional. Melalui salah satu dosen terbaiknya, Dr. Budi Manfaat, M.Si., UIN Siber dipercaya mempresentasikan hasil studi Baseline Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada ajang Silaturahmi Nasional (Silatnas) IV dan Musyawarah Nasional Pokjawas Madrasah III Kelompok Kerja Pengawas Madrasah Nasional (Pokjawasmadnas) yang berlangsung di Hotel IBIS Trans Studio Bandung, 9–11 Juni 2026.
Kehadiran Dr. Budi Manfaat dalam forum strategis tersebut merupakan penugasan langsung dari Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., sebagai bentuk partisipasi aktif kampus dalam mendukung implementasi kebijakan prioritas Kementerian Agama RI melalui pendekatan berbasis riset dan data.
Forum nasional ini diikuti sekitar 790 pengawas madrasah dari seluruh provinsi di Indonesia, menjadikannya salah satu pertemuan pengawas madrasah terbesar di tingkat nasional.
Dihadiri Langsung Menteri Agama RI
Pembukaan Silatnas IV berlangsung istimewa dengan kehadiran langsung Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama berdialog mengenai praktik baik implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di berbagai daerah sekaligus meluncurkan sejumlah inovasi penting, di antaranya:
- PKB Digital untuk pengawas madrasah;
- Buku Saku Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta;
- Madrasah Digital Supervision (MAGIS).
- Peluncuran berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari transformasi pendidikan madrasah yang lebih adaptif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Pantun Inspiratif yang Menggugah Kesadaran
Menariknya, saat memulai presentasi, Dr. Budi Manfaat menyampaikan sebuah pantun reflektif yang langsung menarik perhatian peserta.
“Bagaimana kita bisa sembuh, jika kita tidak mengobatinya.
Dari mana kita bisa tahu apakah cinta kita ini tumbuh, kalau kita tidak pernah mengukurnya.”
Pantun sederhana tersebut menjadi pengantar yang kuat untuk menjelaskan pentingnya studi baseline sebagai alat ukur dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta.
Menurutnya, program pendidikan yang baik harus memiliki instrumen pengukuran yang jelas agar perkembangan, tantangan, dan keberhasilannya dapat diketahui secara objektif.
“Jika kita ingin membangun budaya cinta di madrasah, maka kita juga harus mampu mengukur sejauh mana budaya itu tumbuh dan berkembang,” jelasnya.
UIN Siber Cirebon Berkontribusi dalam Riset Nasional Kurikulum Berbasis Cinta
Sebagai bagian dari Tim Program INOVASI (Innovation for Indonesia’s School Children), Dr. Budi Manfaat memaparkan hasil studi baseline yang dilakukan pada 50 Madrasah Ibtidaiyah (MI) pilot di lima provinsi mitra.
Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Program INOVASI, pemerintah daerah, aktor ekosistem pendidikan tingkat kabupaten/kota, serta Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), termasuk UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Studi ini bertujuan memetakan kondisi awal implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai dasar penyusunan program penguatan karakter di lingkungan madrasah.
Lima Indikator Utama Kurikulum Berbasis Cinta
Dalam paparannya, Dr. Budi menjelaskan bahwa studi baseline difokuskan pada lima indikator perilaku utama yang menjadi fondasi Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu:
- Rasa syukur;
- Kemampuan mencari informasi untuk perbaikan diri;
- Regulasi emosi;
- Hubungan sosial yang aman dan bebas perundungan;
- Kepedulian terhadap lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar madrasah pilot telah memiliki fondasi yang kuat dalam membangun budaya cinta dan karakter positif.
Menariknya, indikator rasa syukur secara konsisten menjadi aspek yang memperoleh capaian tertinggi di seluruh wilayah penelitian.
Sementara itu, aspek hubungan sosial yang aman serta kepedulian terhadap lingkungan masih menjadi area yang memerlukan perhatian dan penguatan lebih lanjut.
Tantangan Sistemik Memerlukan Solusi Sistemik
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa tantangan dalam membangun Madrasah Penuh Cinta tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sistemik.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang menyeluruh melalui penguatan budaya madrasah, peningkatan kapasitas guru dan pengawas, serta keteladanan seluruh warga sekolah.
Menurut Dr. Budi Manfaat, perubahan budaya tidak dapat dibangun hanya melalui kurikulum tertulis.
“Keteladanan orang dewasa di lingkungan madrasah menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta. Guru, kepala madrasah, dan pengawas harus menjadi model nyata dari nilai-nilai cinta yang ingin ditanamkan kepada peserta didik,” ujarnya.
Menguatkan Peran Perguruan Tinggi dalam Transformasi Pendidikan
Partisipasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam forum nasional ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan pendidikan berbasis riset dan data.
Sebagai perguruan tinggi Islam berbasis siber pertama di Indonesia, UIN Siber terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata melalui penelitian, inovasi, dan kolaborasi yang berdampak bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Kehadiran UIN Siber dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta juga menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tidak hanya memerlukan kebijakan yang baik, tetapi juga dukungan akademik yang kuat agar setiap program dapat berjalan efektif dan terukur.
Menuju Madrasah Penuh Cinta dan Generasi Berkarakter
Melalui kolaborasi antara Kementerian Agama, Program INOVASI, pemerintah daerah, pengawas madrasah, dan perguruan tinggi seperti UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, cita-cita mewujudkan Madrasah Penuh Cinta semakin menemukan pijakan yang kuat.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menumbuhkan karakter, empati, dan kepedulian yang akan membentuk generasi masa depan Indonesia.
“Cinta yang tumbuh di madrasah hari ini akan menjadi fondasi lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, dan mampu membangun peradaban yang lebih baik di masa depan.”




