UIN Siber Cirebon – Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi seluruh mahasiswa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Rapat Koordinasi Dukungan dan Pengembangan Layanan bagi Mahasiswa Penyandang Disabilitas yang digelar Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Kamis (6/8/2026).
Bertempat di Ruang Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), kegiatan ini menjadi ruang koordinasi berbagai unsur kampus dan mitra untuk mempersiapkan layanan yang lebih aksesibel, khususnya bagi mahasiswa baru penyandang disabilitas netra di Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Sinergi Kampus dan Mitra Perkuat Ekosistem Pendidikan Inklusif
Rapat dihadiri Dekan FITK, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, Kepala PSGAD, tenaga kependidikan, Relawan PSGAD, organisasi mahasiswa, Guru SLB Pangeran Cakrabuana, serta Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Cirebon.
Dekan FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. H. Saefudin, M.Ag., menegaskan bahwa layanan pendidikan yang setara membutuhkan keterlibatan seluruh unsur fakultas.
“Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan berkomitmen mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali. Kehadiran mahasiswa penyandang disabilitas menjadi pengingat bagi kita bahwa akses pendidikan yang setara merupakan hak setiap warga negara.”
Menurutnya, sinergi antara fakultas, jurusan, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, dan pihak terkait menjadi penting untuk menghadirkan layanan akademik, fasilitas, serta budaya kampus yang mampu menghargai keberagaman.
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., turut menyampaikan kesiapan jurusan dalam membangun sistem pembelajaran yang adaptif sesuai kebutuhan mahasiswa.
Teknologi Aksesibilitas Dukung Kemandirian Mahasiswa
Salah satu fokus pembahasan dalam kegiatan tersebut adalah pemanfaatan teknologi untuk mendukung aksesibilitas mahasiswa penyandang disabilitas. Peserta memperoleh pemahaman mengenai penggunaan fitur TalkBack pada perangkat Android dan smart TV, pemanfaatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan seperti Person AI untuk membantu mengubah buku cetak menjadi format digital yang dapat diakses, serta penggunaan Braille Display.
Selain teknologi, aspek lingkungan fisik kampus turut menjadi perhatian. Penyediaan penanda ruangan menggunakan huruf Braille, konsistensi tata ruang kelas, serta fasilitas yang mudah dikenali menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi mahasiswa tunanetra.
Guru SLB Pangeran Cakrabuana, Abdurrahim, menekankan bahwa mahasiswa penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan dan lingkungan yang mendukung.
“Yang paling dibutuhkan bukan rasa kasihan, melainkan kesempatan, lingkungan yang mendukung, serta pemahaman dari orang-orang di sekitarnya.”
Sementara itu, perwakilan PPDI Kota Cirebon, Jojo, menambahkan bahwa aksesibilitas juga berkaitan dengan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Menurutnya, teknologi pendukung dapat membantu mahasiswa tunanetra belajar secara lebih mandiri, sementara kebutuhan mahasiswa dengan kondisi khusus lainnya juga perlu dipahami agar layanan kampus dapat diberikan secara tepat.
Menuju Kampus yang Setara, Aksesibel, dan Berkelanjutan
Kepala PSGAD, Dr. Hj. Mas’riah, M.Ag., menjelaskan bahwa kampus inklusif tidak cukup hanya dibangun melalui fasilitas fisik, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan kolaborasi seluruh sivitas akademika.

“PSGAD hadir untuk memperkuat koordinasi, memberikan edukasi, serta mendampingi proses pemenuhan hak-hak mahasiswa penyandang disabilitas. Harapannya, setiap mahasiswa dapat belajar, berorganisasi, dan mengembangkan potensinya secara optimal tanpa adanya hambatan maupun diskriminasi.”
Dukungan juga datang dari organisasi mahasiswa. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Abdul Ghani, menyatakan kesiapan organisasi mahasiswa untuk menjadi mitra dalam membangun budaya saling menghargai dan memastikan kegiatan kemahasiswaan dapat diikuti seluruh mahasiswa.
Ketua Relawan PSGAD, Rifaniola Azzahra, menegaskan bahwa relawan siap mendukung proses pendampingan mahasiswa penyandang disabilitas sekaligus mendorong tumbuhnya budaya inklusif di lingkungan kampus.
Melalui koordinasi tersebut, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tidak hanya mempersiapkan aspek layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, tetapi juga memperkuat ekosistem pendidikan yang menghargai keberagaman. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan akademik yang setara, aksesibel, aman, dan bebas diskriminasi, sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berorganisasi, dan mengembangkan potensi.
Dukung SDGs melalui Pendidikan Inklusif
Upaya penguatan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini mendukung SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan akses pendidikan yang inklusif dan adaptif bagi mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam.
Komitmen tersebut juga berkontribusi terhadap SDG 10 – Berkurangnya Kesenjangan, dengan memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam mengakses layanan pendidikan dan kehidupan kampus.
Selain itu, kolaborasi antara FITK, PSGAD, jurusan, organisasi mahasiswa, tenaga kependidikan, SLB, dan komunitas penyandang disabilitas mencerminkan SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui sinergi yang berkelanjutan, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus mendorong terwujudnya kampus inklusif yang tidak hanya menyediakan akses secara fisik, tetapi juga membangun budaya akademik yang menghargai setiap individu dan memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal.


