UIN Siber Cirebon — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia menyelenggarakan Zikir dan Doa Kebangsaan pada 1 Agustus 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Kegiatan ini bukan sekadar pembuka rangkaian peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingatkan kita bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik dan kemajuan teknologi, melainkan juga melalui kekuatan spiritual, pendidikan karakter, dan persatuan.
Sebagai pendidik, saya memandang bahwa kegiatan ini memiliki nilai edukatif yang sangat penting. Zikir dan doa bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga media pembelajaran yang menanamkan rasa syukur, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi Indonesia yang berintegritas dan berakhlak mulia.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Keteladanan
Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan yang dibangun di atas semangat persatuan, pengorbanan, dan doa. Oleh karena itu, memperingati kemerdekaan tidak cukup dilakukan melalui upacara atau seremoni tahunan. Kemerdekaan harus menjadi ruang pembelajaran bagi seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami arti tanggung jawab sebagai warga negara.
Ketika panitia mengajak peserta datang tepat waktu, mematuhi aturan, menjaga ketertiban, menghormati sesama, serta menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung, sesungguhnya kita sedang belajar tentang karakter. Hal-hal yang tampak sederhana tersebut merupakan nilai pendidikan yang sangat besar apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter yang baik selalu dimulai dari kebiasaan yang baik.
Zikir dan Doa Menguatkan Jiwa Pendidik
Dunia pendidikan tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan. Pendidikan memiliki misi yang lebih luhur, yaitu membentuk manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
Zikir mengajarkan manusia untuk selalu mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas. Doa mengingatkan bahwa setiap usaha memerlukan pertolongan dan bimbingan-Nya. Ketika keduanya berjalan berdampingan dengan kerja keras, lahirlah pribadi yang rendah hati, optimis, dan tidak mudah menyerah.
Inilah karakter yang harus tumbuh dalam diri peserta didik di era yang penuh tantangan.
Sekolah dan Kampus Adalah Ruang Menumbuhkan Nasionalisme
Nasionalisme tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran atau pidato pada saat upacara bendera. Nasionalisme dibangun melalui budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, bekerja sama, dan peduli terhadap lingkungan.
Kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan memperlihatkan bahwa keberagaman masyarakat Indonesia dapat dipersatukan dalam semangat yang sama, yaitu memohon keselamatan, kedamaian, dan kemajuan bangsa.
Nilai inilah yang harus terus ditanamkan di sekolah maupun perguruan tinggi agar peserta didik tumbuh menjadi generasi yang religius, moderat, cinta tanah air, dan mampu menjaga persatuan bangsa.
Disiplin adalah Wajah Peradaban
Persiapan yang dilakukan Kementerian Agama bersama berbagai kementerian, TNI, Polri, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan seluruh unsur panitia menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan besar lahir dari koordinasi, tanggung jawab, dan kedisiplinan.
Disiplin bukan sekadar mematuhi aturan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap hak orang lain. Ketika setiap orang menjalankan perannya dengan baik, tercipta suasana yang aman, nyaman, tertib, dan penuh kekhusyukan.
Dalam dunia pendidikan, disiplin merupakan salah satu karakter utama yang harus dibiasakan sejak dini. Generasi yang disiplin akan tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab dan mampu menghadapi tantangan global.
Membangun Indonesia Melalui Pendidikan dan Doa
Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Pendidikan harus mampu melahirkan lulusan yang jujur, amanah, toleran, kreatif, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Sebagai bagian dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan berkomitmen untuk terus melahirkan calon pendidik yang mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk karakter dan penanam nilai-nilai kebangsaan.
Karena itu, semangat Zikir dan Doa Kebangsaan harus diterjemahkan dalam proses pendidikan sehari-hari. Setiap ruang kelas harus menjadi tempat lahirnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan mencintai Indonesia.
Ajakan untuk Sivitas Akademika dan Generasi Muda
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, saya mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, guru, dan masyarakat untuk menjadikan Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai momentum memperkuat rasa syukur, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan semangat berkarya.
Mari kita isi kemerdekaan dengan belajar lebih giat, bekerja lebih jujur, melayani dengan sepenuh hati, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Jangan biarkan ruang digital dipenuhi ujaran kebencian dan informasi yang menyesatkan. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan ilmu, inspirasi, dan optimisme.
Karena sesungguhnya, kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa akan tetap terjaga apabila setiap generasi mampu mengisinya dengan karakter, ilmu pengetahuan, dan akhlak mulia.
Dengan zikir kita mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan doa kita memperkuat harapan.
Dengan pendidikan kita membangun peradaban.
Dan dengan persatuan, kita melangkah bersama menuju Indonesia yang maju, berkeadilan, dan dirahmati Allah SWT.
Oleh: Dr. H. Saifuddin, M.Ag.
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon


