UIN Siber Cirebon — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia kembali menghadirkan sebuah ikhtiar spiritual melalui Zikir dan Doa Kebangsaan yang diselenggarakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang dakwah kebangsaan yang mengingatkan kita bahwa kekuatan Indonesia lahir dari perpaduan antara iman, persatuan, dan kerja nyata.
Kemerdekaan bangsa ini tidak hanya diraih melalui perjuangan fisik para pahlawan, tetapi juga melalui doa para ulama, kebersamaan seluruh elemen masyarakat, serta semangat persatuan yang tidak pernah padam. Karena itu, memperingati kemerdekaan dengan zikir dan doa merupakan bentuk rasa syukur yang harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, bekerja sama, dan menjaga persaudaraan.
Dakwah yang Menyatukan, Bukan Memecah Belah
Sebagai insan dakwah, saya meyakini bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di mimbar atau ruang-ruang pengajian. Dakwah juga hadir melalui keteladanan, perilaku, komunikasi yang santun, serta kemampuan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
Zikir dan Doa Kebangsaan menjadi simbol bahwa agama hadir untuk memperkuat persatuan, bukan mempertajam perbedaan. Ketika ribuan masyarakat berkumpul dengan semangat yang sama untuk mendoakan Indonesia, kita sedang menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan mampu menjadi perekat kebangsaan.
Inilah wajah Islam yang membawa rahmat, menghadirkan kesejukan, dan mengajak seluruh anak bangsa untuk bersama-sama membangun negeri.
Komunikasi yang Baik adalah Pondasi Persatuan
Di era digital, tantangan terbesar bukan hanya derasnya arus informasi, tetapi juga maraknya hoaks, ujaran kebencian, provokasi, dan disinformasi yang dapat mengikis persatuan bangsa.
Karena itu, komunikasi memiliki peran yang sangat strategis. Setiap informasi yang kita bagikan, setiap komentar yang kita tuliskan, dan setiap konten yang kita unggah akan memberikan dampak bagi masyarakat.
Sebagai Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, kami memandang bahwa literasi digital dan etika komunikasi harus menjadi bagian dari gerakan bersama. Media sosial hendaknya menjadi ruang untuk menyebarkan ilmu, inspirasi, optimisme, dan pesan-pesan perdamaian, bukan ruang yang dipenuhi permusuhan dan saling menyalahkan.
Komunikasi yang santun adalah dakwah. Informasi yang benar adalah ibadah. Dan menjaga persatuan melalui media digital merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai warga negara.
Doa Harus Melahirkan Aksi Nyata
Zikir dan doa memiliki makna yang sangat mulia. Namun, doa akan semakin bermakna apabila diwujudkan dalam tindakan nyata.
Mendoakan Indonesia berarti juga menjaga kejujuran dalam bekerja, meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, menghargai keberagaman, serta terus berkarya sesuai dengan bidang masing-masing.
Mahasiswa dapat mengisinya dengan belajar sungguh-sungguh dan menghasilkan inovasi. Dosen dapat menguatkannya melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Aparatur negara mengisinya dengan pelayanan yang profesional dan berintegritas. Tokoh agama menghadirkannya melalui dakwah yang meneduhkan. Media menyebarkannya melalui informasi yang akurat, mencerdaskan, dan membangun optimisme.
Ketika doa berjalan beriringan dengan kerja keras, Indonesia akan memiliki fondasi yang semakin kokoh menuju masa depan.
Peran Generasi Muda Menentukan Masa Depan Bangsa
Saya percaya bahwa generasi muda adalah aset terbesar Indonesia. Mereka tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, akhlak yang baik, serta kemampuan berkomunikasi secara bijaksana.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan media digital, generasi muda harus menjadi pelopor penyebaran konten positif yang menginspirasi masyarakat. Jadilah pribadi yang menghadirkan solusi, bukan memperbesar konflik. Jadilah generasi yang memperkuat persaudaraan, bukan memperuncing perbedaan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak komunikator yang menyebarkan harapan daripada ketakutan, lebih banyak pendakwah yang merangkul daripada menghakimi, dan lebih banyak generasi yang membangun daripada memecah belah.
Ajakan untuk Sivitas Akademika dan Masyarakat
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, saya mengajak seluruh sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, para mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Indonesia untuk menjadikan Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai momentum memperkuat keimanan, mempererat persatuan, dan menumbuhkan optimisme dalam membangun bangsa.
Mari kita jadikan setiap doa sebagai penguat ikhtiar, setiap zikir sebagai pengingat untuk selalu berbuat baik, dan setiap karya sebagai bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan.
Mari kita menjaga ruang digital dengan menyebarkan informasi yang benar, bahasa yang santun, dan pesan yang menyejukkan. Hindari hoaks, fitnah, ujaran kebencian, serta segala bentuk komunikasi yang dapat memecah persaudaraan.
Karena Indonesia yang maju bukan hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki akhlak mulia, komunikasi yang bijaksana, serta semangat gotong royong yang terus hidup.
Mari kita songsong HUT ke-81 Republik Indonesia dengan memperbanyak doa, memperkuat ukhuwah, memperluas manfaat, dan menghadirkan komunikasi yang mencerahkan.
Dengan zikir kita menguatkan hati.
Dengan doa kita menumbuhkan harapan.
Dengan dakwah kita menyebarkan kedamaian.
Dengan komunikasi yang baik kita menjaga persatuan.
Dan dengan karya nyata kita bersama-sama mewujudkan Indonesia yang maju, harmonis, dan dirahmati Allah SWT menuju Indonesia Emas 2045.
Oleh: Dr. Hj. Naila Farah, M.Ag.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon


