UIN Siber Cirebon – Ada momen yang sulit dilupakan dalam pelaksanaan Simulasi dan Praktik Ibadah Manasik Haji–Umrah yang diselenggarakan UPT Ma’had Al-Jami’ah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Minggu (7/6/2026). Di tengah lautan mahasiswa yang sedang mengikuti prosesi wukuf Arafah, tiba-tiba berkumandang suara adzan yang begitu merdu, syahdu, dan menyentuh relung hati terdalam.
Suara itu berasal dari Faiz Al Faris, S.Ag., M.Ag., tutor manasik sekaligus alumni UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Lantunan adzan yang menggema dari pengeras suara seketika mengubah suasana. Ribuan mahasiswa yang sebelumnya mengikuti simulasi dengan tertib mendadak terdiam. Sebagian menundukkan kepala, sebagian lainnya memejamkan mata, dan tidak sedikit yang terlihat meneteskan air mata.
Adzan tersebut bukan sekadar panggilan untuk menunaikan salat. Lebih dari itu, ia menjadi panggilan hati. Sebuah seruan yang mengingatkan manusia tentang hakikat hidup, perjalanan menuju Allah SWT, dan kerinduan mendalam untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah.
Dalam suasana yang menyerupai Padang Arafah, peserta seolah benar-benar sedang berdiri di hadapan Allah SWT, memohon ampunan dan mengharap rahmat-Nya.
“Ketika adzan itu berkumandang, saya merinding. Rasanya seperti sedang berada di Tanah Suci. Hati saya bergetar dan tanpa sadar air mata mengalir. Ini bukan sekadar simulasi, tetapi pengalaman spiritual yang luar biasa,” ungkap salah seorang mahasiswa peserta manasik.
Menghadirkan Spiritualitas Haji yang Sesungguhnya
Dengan penghayatan yang mendalam, Faiz Al Faris melantunkan setiap kalimat adzan penuh ketulusan. Nada suaranya yang lembut namun kuat menghadirkan nuansa ketuhanan yang begitu terasa.
Bagi banyak peserta, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama mengikuti Manasik Haji–Umrah UIN Siber Cirebon.
Faiz mengaku dirinya hanya berusaha menyampaikan panggilan Allah SWT dengan sepenuh hati.
“Adzan adalah seruan langit yang mengajak manusia kembali kepada Allah. Saya hanya berharap lantunan ini dapat menjadi pengingat bahwa sesibuk apa pun kita, pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci,” tuturnya penuh takzim.
Wukuf, Momentum Muhasabah dan Pertemuan dengan Allah
Kumandang adzan tersebut menjadi pembuka prosesi Khutbah Wukuf yang disampaikan oleh Drs. H. Muzaki, M.Ag., salah satu tutor manasik haji UIN Siber Cirebon.
Dalam khutbahnya, Muzaki mengajak seluruh peserta memahami makna terdalam dari ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah yang merupakan puncak sekaligus inti dari pelaksanaan haji.
Ia menjelaskan bahwa Arafah bukan hanya tempat berkumpulnya jutaan manusia, melainkan ruang spiritual tempat manusia kembali mengenali dirinya sebagai hamba yang lemah di hadapan Allah SWT.
“Wukuf mengajarkan kita tentang kerendahan hati, keikhlasan, pengampunan, dan harapan. Di Arafah, tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, maupun kekayaan. Semua berdiri sama di hadapan Allah SWT,” jelasnya.
Suasana semakin khusyuk ketika peserta mengikuti rangkaian doa dan refleksi spiritual yang menjadi bagian dari simulasi wukuf tersebut.
Manasik Haji Bukan Sekadar Praktik, Tetapi Pendidikan Ruhani
Direktur UPT Ma’had Al-Jami’ah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Muhsin Riyadi, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan manasik dirancang bukan hanya untuk memberikan pemahaman teknis mengenai rukun dan wajib haji, tetapi juga untuk membangun kesadaran spiritual mahasiswa.
Menurutnya, keberhasilan manasik tidak hanya diukur dari kemampuan peserta memahami tata cara ibadah, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu merasakan nilai-nilai ketauhidan, kesabaran, persaudaraan, dan penghambaan kepada Allah SWT.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mengetahui teori haji, tetapi juga merasakan makna spiritualnya. Karena pada hakikatnya haji adalah perjalanan hati menuju Allah SWT. Momentum seperti adzan dan wukuf menjadi sarana pembelajaran ruhani yang sangat berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.
Menyentuh Hati, Menguatkan Iman
Bagi banyak peserta, adzan yang dikumandangkan Faiz Al Faris menjadi salah satu momen paling emosional selama pelaksanaan manasik tahun ini.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan digital, lantunan adzan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Ia tidak hanya menggema di udara, tetapi juga meresap ke dalam hati para pendengarnya.
Suara itu mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, bahwa ada panggilan yang lebih agung daripada segala kesibukan manusia, dan bahwa suatu hari nanti setiap jiwa akan kembali kepada Allah SWT.
Adzan Faiz Al Faris pada hari itu bukan sekadar suara.
Ia adalah pesan langit.
Pesan tentang kerinduan menuju Baitullah.
Pesan tentang cinta kepada Allah SWT.
Dan pesan bahwa sebesar apa pun manusia berjalan di dunia, pada akhirnya hanya kepada-Nya lah semua akan kembali.
Kontribusi terhadap SDGs
Kegiatan Manasik Haji–Umrah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon turut mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pendidikan keagamaan berbasis praktik.
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pembinaan kesehatan spiritual mahasiswa.
- SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan nilai moderasi, persaudaraan, dan etika keagamaan.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi sivitas akademika dalam pembelajaran berbasis pengalaman.










