UIN Siber Cirebon (Bandung) — Peran masjid di era global tidak lagi sebatas sebagai tempat ibadah. Masjid memiliki potensi besar menjadi ruang dialog, pendidikan, penguatan persaudaraan, serta jembatan diplomasi keagamaan untuk ikut menciptakan perdamaian dunia.
Gagasan tersebut menjadi salah satu isu penting dalam gelaran Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang diselenggarakan sebagai rangkaian menuju International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 pada September mendatang.
Kegiatan berlangsung Minggu, 23 Agustus 2026, di Gedung PPG UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Agenda ini mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” dan melibatkan Kementerian Agama RI, Masjid Istiqlal, serta Pimpinan Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (PPIPIM).
Salah satu narasumber yang hadir adalah Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Hajam, M.Ag. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hajam mengupas tema “The Role of Masjid in Religious Diplomacy and Global Peace.”
Tema tersebut sejalan dengan gagasan IGIC yang menempatkan masjid sebagai salah satu kekuatan strategis dalam membangun harmoni keagamaan dan perdamaian global. Materi IGIC yang tersedia juga menempatkan “The Role of Masjid in Religious Diplomacy and Global Peace” sebagai salah satu pokok bahasan konferensi.
Masjid Bukan Hanya Tempat Ibadah
Dalam konteks masyarakat modern, masjid memiliki posisi yang sangat strategis. Masjid hadir di tengah masyarakat dan bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan keagamaan.
Karena itu, masjid dapat dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Imam dan pengelola masjid tidak hanya memiliki peran dalam membimbing umat dalam aspek spiritual, tetapi juga dapat menjadi penggerak dialog dan harmoni sosial.
Peran tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi tantangan global seperti polarisasi, konflik identitas, intoleransi, serta penyebaran informasi yang dapat memicu kesalahpahaman antar kelompok.
Dalam situasi tersebut, masjid dapat mengambil peran sebagai ruang yang menghadirkan pesan Islam yang damai, moderat, inklusif, dan mendorong penghormatan terhadap sesama.
Diplomasi Keagamaan Dimulai dari Masjid
Diplomasi keagamaan sering kali dipahami sebagai aktivitas yang berlangsung dalam forum internasional. Padahal, fondasinya dapat dibangun dari lingkungan masyarakat yang paling dekat, termasuk masjid.
Masjid dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Melalui dialog dan kegiatan bersama, masjid dapat membangun kepercayaan, memperkuat persaudaraan, serta mengurangi jarak sosial.
Peran imam menjadi penting dalam proses tersebut. Imam memiliki posisi strategis sebagai figur yang didengar masyarakat. Pesan keagamaan yang disampaikan dengan pendekatan yang bijak dapat membangun kesadaran tentang pentingnya perdamaian dan persaudaraan.
Dengan demikian, diplomasi keagamaan tidak selalu harus dimulai dari forum besar. Diplomasi dapat dimulai dari mimbar masjid, ruang pendidikan, kegiatan sosial, dan interaksi sederhana di tengah masyarakat.
Menuju Masjid yang Harmonis dan Inklusif
Tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” juga membawa pesan bahwa masjid perlu terus beradaptasi dengan perkembangan masyarakat.
Masjid yang kuat bukan hanya masjid yang ramai dalam kegiatan ibadah, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial bagi lingkungannya.
Program pendidikan, pemberdayaan pemuda, kegiatan sosial, literasi digital, dialog antarumat beragama, hingga penguatan ekonomi masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem masjid.
Pendekatan seperti ini membuat masjid semakin dekat dengan kebutuhan generasi muda. Anak muda tidak hanya diajak hadir ke masjid untuk beribadah, tetapi juga diberikan ruang untuk belajar, berdiskusi, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Di sinilah masjid dapat memainkan peran penting dalam membangun generasi yang religius sekaligus terbuka terhadap perbedaan.
UIN Siber Cirebon Dorong Kolaborasi Global
Keterlibatan Prof. Dr. Hajam dalam forum menuju IGIC 2026 juga menjadi bagian dari kontribusi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkuat jejaring akademik dan kerja sama internasional.
Sebagai perguruan tinggi Islam yang terus mengembangkan jejaring global, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki ruang strategis untuk ikut menghadirkan gagasan akademik mengenai Islam, masyarakat, dan perdamaian.
Forum seperti Bridging IGIC 2026 menjadi ruang penting untuk mempertemukan akademisi, imam, pengelola masjid, serta pemangku kepentingan dalam membangun perspektif bersama mengenai masa depan peran masjid.
Pada akhirnya, masjid memiliki potensi besar untuk menjadi “rumah perdamaian”. Dari masjid, nilai kasih sayang dapat disampaikan. Dari masjid, dialog dapat dimulai. Dan dari masjid, gerakan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat dapat dikembangkan.
Pesan penting dari forum ini adalah bahwa perdamaian dunia tidak selalu dimulai dari ruang diplomasi yang jauh. Perdamaian dapat dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan umat: masjid.
Melalui penguatan peran imam, pengelolaan masjid yang inklusif, pendidikan keagamaan yang mencerahkan, serta kolaborasi lintas negara, masjid dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun harmoni keagamaan, diplomasi berbasis nilai, dan perdamaian dunia.
IGIC 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum konferensi, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan masjid yang semakin terbuka, humanis, inklusif, dan berkontribusi nyata bagi perdamaian global.




