Dari Cirebon untuk Indonesia dan dunia. Dari warisan lokal menuju inovasi global. Dari tradisi ke teknologi. Dari pengetahuan menuju kemaslahatan.
UIN Siber Cirebon — Peradaban tidak pernah lahir dari sikap diam. Peradaban tumbuh ketika manusia berani membaca sejarah, merawat warisan, mengembangkan ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan menghadirkan solusi bagi kehidupan.
Semangat itulah yang akan digaungkan melalui The 25th Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2026 yang diselenggarakan di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada 17–20 November 2026.
Dengan mengusung tema “Revitalizing Islamic Civilization for Sustainable Life: Local Heritage, Technological Innovation, and Human Flourishing,” AICIS+ 2026 bukan sekadar agenda konferensi internasional. Forum ini menjadi panggung untuk mempertemukan Islam, sains, teknologi, budaya, pendidikan, dan kemanusiaan dalam satu gerakan intelektual.
Cirebon Dipilih, Warisan Islam Dihidupkan
Cirebon memiliki sejarah panjang sebagai salah satu simpul penting perkembangan Islam, budaya, pendidikan, dan perdagangan di Nusantara. Jejak tersebut bukan sekadar cerita masa lalu.
Kini, warisan itu harus menjadi energi untuk melahirkan masa depan.
Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat untuk menjadikan AICIS+ 2026 sebagai momentum kebangkitan intelektual.
“Mari kita jadikan AICIS+ 2026 sebagai momentum untuk menghubungkan warisan lokal dengan inovasi teknologi, tradisi dengan kreativitas, dan ilmu pengetahuan dengan kemaslahatan manusia. Dari Cirebon, kita ingin menunjukkan bahwa peradaban Islam memiliki energi besar untuk menjawab tantangan masa depan.”
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena dunia sedang bergerak sangat cepat. Kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan sosial, krisis lingkungan, dan berbagai tantangan kemanusiaan membutuhkan jawaban yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat secara etika dan nilai.
Di sinilah AICIS+ 2026 mengambil posisi.
Islam tidak berhenti pada wacana. Islam harus hadir dalam ilmu pengetahuan. Islam harus berdialog dengan teknologi. Islam harus memberi jawaban terhadap persoalan kemanusiaan.
Dari Warisan Lokal Menuju Masa Depan Digital
Konsep local heritage menjadi salah satu kekuatan utama AICIS+ 2026.
Tradisi, budaya, pesantren, madrasah, manuskrip, seni, arsitektur, kearifan masyarakat, dan berbagai warisan intelektual Islam tidak boleh hanya menjadi objek museum.
Warisan harus dibaca kembali, dikaji, dikembangkan, didigitalisasi, dan dihadirkan sebagai sumber inovasi.
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki posisi strategis dalam agenda tersebut. Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang mengembangkan pendidikan berbasis siber, UIN Siber Cirebon didorong menunjukkan bahwa transformasi digital dapat berjalan beriringan dengan kekuatan tradisi dan nilai-nilai Islam.
Teknologi bukan lawan tradisi. Teknologi dapat menjadi jembatan yang membawa warisan lokal menuju generasi masa depan.
AICIS+ Harus Lebih dari Sekadar Konferensi
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, menegaskan bahwa kata “Plus” dalam AICIS+ harus benar-benar tercermin dalam substansi akademiknya.
AICIS+ tidak boleh terjebak dalam diskursus keislaman yang statis. Kajian Islam harus bertemu dengan ilmu sosial, sains, dan teknologi.
Karena itu, AICIS+ 2026 juga diarahkan untuk menampilkan produk inovasi sains karya mahasiswa PTKI. Kolaborasi dengan perguruan tinggi umum juga diperluas, termasuk dengan perguruan tinggi seperti ITB, UI, dan IPB.
Pesannya jelas: batas-batas keilmuan harus dibuka. Kolaborasi harus diperluas. Inovasi harus dipercepat.
Madrasah dan Pesantren, Jangan Hanya Menjadi Penonton
AICIS+ 2026 juga membuka ruang lebih luas bagi madrasah dan pesantren.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Sahiron, mendorong pelibatan madrasah berprestasi, pesantren, serta berbagai mitra strategis.
Langkah ini penting karena revitalisasi peradaban Islam tidak mungkin hanya dilakukan dari ruang-ruang universitas.
Pesantren memiliki tradisi keilmuan. Madrasah memiliki kreativitas. Perguruan tinggi memiliki riset. Teknologi memiliki daya akselerasi. Masyarakat memiliki pengalaman dan kearifan lokal.
Ketika semuanya bertemu, lahirlah ekosistem peradaban yang lebih kuat.
445 Author Sudah Bergabung
Antusiasme menuju AICIS+ 2026 terus bergerak. Hingga Jumat malam, 445 author telah melakukan registrasi dan 72 author telah mengirimkan abstrak.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah tanda bahwa gagasan tentang masa depan Islam, sains, masyarakat, teknologi, dan kemanusiaan terus mendapat perhatian.
Pendaftaran dan pengumpulan abstrak berlangsung pada 10–30 Agustus 2026. Selain konferensi utama, AICIS+ 2026 juga menghadirkan Student Competition sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan gagasan, kreativitas, dan inovasinya.
Mari Jadikan Cirebon Titik Temu Peradaban
Kini saatnya kita berhenti memandang warisan hanya sebagai masa lalu.
Warisan adalah akar. Teknologi adalah jembatan. Ilmu adalah kekuatan. Manusia adalah tujuan.
Dari Cirebon, mari kita bangun percakapan baru tentang peradaban Islam.
Mari hadir di AICIS+ 2026.
Mari bawa gagasan terbaik.
Mari pertemukan ulama dan ilmuwan, akademisi dan praktisi, pesantren dan teknologi, tradisi dan inovasi.
Mari kita buktikan bahwa peradaban Islam bukan hanya memiliki sejarah besar, tetapi juga memiliki masa depan besar.
AICIS+ 2026 — Dari Cirebon, Menyalakan Kembali Api Peradaban Islam.
Informasi mengenai pendaftaran, pengumpulan abstrak, Student Competition, dan agenda AICIS+ 2026 dapat diakses melalui situs resmi AICIS+ 2026: https://aicis.uinssc.ac.id/


