UIN Siber Cirebon — Setiap kali bulan Agustus tiba, ingatan kita kembali tertuju pada perjuangan panjang para pendiri bangsa. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai sudut negeri, lagu-lagu kebangsaan menggema, dan semangat nasionalisme kembali tumbuh di tengah masyarakat. Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: apakah kemerdekaan hanya cukup diperingati, atau juga harus terus dimaknai dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?
Kemerdekaan Indonesia lahir bukan hanya dari strategi perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, tetapi juga dari doa yang dipanjatkan tanpa henti, harapan yang tidak pernah padam, serta keyakinan bahwa bangsa ini mampu berdiri sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat.
Karena itu, pelaksanaan Zikir dan Doa Kebangsaan yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa perjalanan bangsa tidak hanya dibangun oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh kekuatan spiritual.
Ketika Syukur Menjadi Energi Membangun Bangsa
Sering kali kita memahami rasa syukur hanya sebagai ucapan. Padahal, syukur yang sejati adalah ketika nikmat kemerdekaan diwujudkan dalam sikap dan tindakan yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Syukur berarti menjaga persatuan ketika perbedaan muncul. Syukur berarti bekerja dengan jujur ketika amanah diberikan. Syukur berarti menggunakan ilmu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
Kemerdekaan adalah amanah. Amanah itu hanya akan terjaga apabila setiap warga negara menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkarya, berbuat baik, dan menjaga keutuhan Indonesia.
Zikir Menguatkan Jiwa, Doa Menyatukan Bangsa
Ada keindahan yang sangat kuat dalam kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan. Di sana, berbagai unsur masyarakat berkumpul dengan satu tujuan yang sama: memohon agar Indonesia tetap damai, kuat, dan diberkahi.
Keberagaman agama, budaya, suku, dan latar belakang tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman menjadi ruang untuk saling menghormati dan menguatkan.
Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Persatuan bukan berarti semua orang harus sama. Persatuan justru tumbuh ketika setiap perbedaan dihargai sebagai kekayaan bangsa. Nilai inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman.
Perguruan Tinggi Tidak Hanya Mencetak Sarjana
Sebagai bagian dari dunia pendidikan tinggi, saya meyakini bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar meluluskan mahasiswa.
Universitas harus melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, kematangan emosional, serta kepedulian sosial.
Mahasiswa perlu dibimbing agar menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan, menjunjung tinggi etika, dan memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat.
Di sinilah makna pendidikan yang sesungguhnya: membentuk manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga berintegritas dan berkarakter.
Dari Ruang Doa Menuju Ruang Pengabdian
Zikir dan doa merupakan ikhtiar spiritual yang menguatkan hati. Namun, doa akan menemukan makna yang lebih sempurna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
Hari ini Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia bekerja dengan tulus, melayani tanpa pamrih, menebarkan ilmu, menjaga lingkungan, membantu sesama, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Bagi sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, pengabdian kepada masyarakat, penelitian yang bermanfaat, inovasi, serta pendidikan yang berkualitas merupakan bentuk nyata dari rasa syukur atas kemerdekaan.
Setiap karya yang lahir dari kampus sesungguhnya adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan.
Menjaga Indonesia di Era Digital
Kita hidup pada masa ketika informasi menyebar begitu cepat. Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkolaborasi. Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, ujaran kebencian, polarisasi, dan menurunnya budaya dialog.
Karena itu, semangat Zikir dan Doa Kebangsaan perlu diterjemahkan dalam kehidupan digital. Media sosial hendaknya menjadi ruang untuk menyebarkan ilmu, inspirasi, optimisme, dan nilai-nilai persaudaraan.
Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk membangun ekosistem digital yang santun, kritis, dan bertanggung jawab. Kemerdekaan di era digital juga berarti kebebasan yang disertai etika.
Refleksi Kemerdekaan: Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Peringatan Hari Kemerdekaan akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada seremoni tahunan. Sebaliknya, ia akan menjadi sangat berarti ketika mampu mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan melayani.
Mari menjadikan kemerdekaan sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, memperluas manfaat, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya melimpah, tetapi bangsa yang masyarakatnya mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, persatuan, dan semangat gotong royong.
Semoga Zikir dan Doa Kebangsaan menjadi ikhtiar bersama untuk memperkokoh hati, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan optimisme bahwa Indonesia akan terus melangkah menjadi bangsa yang damai, adil, maju, dan berkeadaban.
Kemerdekaan telah diwariskan kepada kita. Kini, tugas kita adalah mengisinya dengan karya, menjaga persatuannya dengan kasih sayang, dan merawat masa depannya dengan ilmu serta akhlak yang mulia.
Oleh: Dr. Edy Setyawan, Lc., M.A.
Dekan Fakultas Syariah


